Takwa Dilandasi Ilmu, bukan Perasaan, Semangat, atau Suara Mayoritas

Intisari “Kajian Pendek: Definisi Takwa” (klik judul kajian untuk menuju video).
Penceramah: Ustadz Oemar Mita.

Takwa adalah kata yang sering kita dengar di mimbar-mimbar pada saat khatib berkhutbah. Kata tersebut akan sulit diterapkan di kehidupan jika kita belum memahami arti atau definisinya.

Sebelum membahas keutamaan takwa, maka kita perlu membahas terlebih dahulu definisinya. Ini menjadi penting agar kita bisa mendiagnosa sudah sampai mana sifat takwa di dalam diri kita.

Orang yang bertakwa akan dilapangkan hatinya oleh Allah Subhanahu Wa Ta’ala, sedangkan orang yang dilapangkan hatinya maka itu adalah puncak kebahagiaan di dalam kehidupannya. Itu merupakan surganya di dunia.

Seseorang yang memperoleh surga di dunia berupa kelapangan hati dari Allah, maka dia pun akan memperoleh surga di akhirat. Namun jika seseorang tidak memperoleh surga di dunia berupa kelapangan hati dari Allah tersebut, maka dia tidak akan memperoleh surga di akhirat.

Di antara definisi takwa menurut Ali bin Abi Thalib Radhiyallahu ‘Anhu adalah, memiliki sifat antara lain: yang pertama, senantiasa bertambah rasa takut kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Sedangkan yang kedua, senantiasa mengamalkan apa yang telah dipelajari. Berdasarkan definisi ini kita ketahui bahwa ketawaan itu didasari dengan ilmu.

Ketakwaan bukan didasari semangat atau suara mayoritas. Maka meski seseorang melakukan apa yang dilakukan kebanyakan orang maka itu belum menjadi ketakwaan jika tidak dilandasi dengan dalil, karena ketakwaan hanya dilandasi dengan ilmu.

Yang dimaksud dengan ilmu adalah perkataan Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan perkataan Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam. Maka orang yang meniti ketakwaan adalah mereka yang meniti jalan Sahabat dan Tabi’in ketika mereka mengikuti Allah melalui apa yang disampaikan oleh Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam.

Leave a Comment