Categories
Berhenti Sejenak

Ide Resolusi Ramadhan Ringan Dikerjakan

Resolusi Ramadhan yang tidak memerlukan banyak energi.

Tulisan ini akan membahas ide resolusi Ramadhan atau bagaimana cara membuat resolusi Ramadhan yang sederhana dan insya Allah ringan dikerjakan dalam berbagai kondisi.

Bulan Ramadhan menyajikan suasana lebih mendukung dan dorongan lebih kuat pada seorang muslim untuk memperbaiki diri sehingga menjadikan bulan tersebut cocok dijadikan momentum perubahan.

Resolusi Ramadhan adalah rencana melakukan sesuatu atau mencapai target tertentu di bulan Ramadhan. Fungsinya sebagai alat bantu pengingat harapan perubahan atau perbaikan diri yang ingin diraih.

Contohnya:

Seseorang membuat resolusi bahwa di Ramadhan kali ini akan

  • Menjadi pribadi lebih sabar.
  • Menghatamkan Al-Qur’an 3 kali.
  • Sholat Tarawih setiap malam.
  • Sedekah 10 juta.

Ide resolusi dalam tulisan ini adalah apa yang akan dilakukan serta yang tidak dilakukan, yang tampak sederhana dan ringan.

Tetapi jangan salah justru resolusi yang tampak sederhana dan ringan tadi memiliki keutamaan dan pengaruh besar bagi perbaikan diri. Insya Allah.

Pembahasan selanjutnya adalah fungsi resolusi Ramadhan, alasan mengapa resolusi kandas di tengah jalan, apa yang harus diperhatikan dalam membuat resolusi, ide resolusi sederhana dan ringan dikerjakan, serta kesimpulan.

1Fungsi Resolusi Ramadhan
2Alasan Resolusi Ramadhan Kandas di Tengah Jalan
3Yang Perlu Diperhatikan dalam Membuat Resolusi Ramadhan
4Ide Resolusi Ramadhan yang Insya Allah ringan dikerjakan
5Kesimpulan

* * *

1. Fungsi Resolusi Ramadhan

Membuat resolusi Ramadhan bukan suatu keharusan, tetapi bisa menjadi alat pengingat apa yang akan dan yang tidak akan dilakukan.

Resolusi Ramadhan juga berfungsi sebagai pengingat prioritas.

Ada banyak amal ibadah dapat dilakukan di bulan Ramadhan: tilawah, sholat dhuha, infaq, membantu meringankan beban orang lain, memberi makanan berbuka, dan lain-lain.

Apakah seseorang dapat mengerjakan seluruh amal ibadah tersebut?

Jika tidak mungkin melakukan itu semua maka hendaknya menentukan prioritas hal apa saja yang bisa dilakukan.

Selain sebagai pengingat apa yang akan dan tidak akan dilakukan dan pengingat prioritas, resolusi Ramadhan juga berfungsi sebagai pengukur peningkatan atau perkembangan diri.

Contohnya, jika di Ramadhan kali ini seseorang bisa sholat subuh berjamaah di masjid setiap hari sementara di Ramadhan tahun lalu selalu kadang sholat berjamaah di masjid kadang sholat sendirian di rumah karena tertidur menjelang adzan subuh maka bisa dinggap telah ada peningkatan atau perkembangan di Ramadhan kali ini.

* * *

2. Alasan Resolusi Ramadhan Kandas di Tengah Jalan

(1) tidak realistis

Bikin resolusi Ramadhan tanpa mempertimbangkan kondisi, kemampuan, dan kebiasaan diri.

Misalnya:

  • Tidak biasa tilawah dan ngajinya masih terbata-bata bikin target khatam 3 kali selama sebulan.
  • Menyusun rangkaian jadwal harian lengkap dengan jam-jamnya dari jam 3 pagi hingga jam 10 malam, padahal sehari-hari hidup kurang teratur, bangun sering kesiangan tak berhasil sholat subuh berjamaah di masjid.

Terkadang seseorang tergoda menyukai ide-ide atau rencana-rencana besar dan tampak indah di atas kertas. Soal apa bisa terlaksana atau tidak itu soal lain.

Jika tidak ingin hanya keren di atas kertas tetapi kosong di implementasi maka sudah saatnya memikirkan apa yang benar-benar dapat dikerjakan.

(2) terlalu perfeksionis

Menganggap seluruh target harian harus tercapai semuanya tanpa terkecuali. Harus komplet. Kemudian kecewa ketika ada target amal harian tidak berhasil dilakukan dan jadi lemah semangat untuk menunaikan amalan lainnya di hari-hari selanjutnya.

Padahal adakalanya seseorang mengalami sakit, mendadak ada keperluan yang menyita waktu dan menguras energi, dan faktor X seperti kebanjiran misalnya yang menyebabkan gangguan sementara pada penunaian target-target.

* * *

3. Yang Perlu Diperhatikan dalam Membuat Resolusi Ramadhan

(1) ikhlas

Resolusi Ramadhan dibuat dengan niat memperbaiki diri menjadi seorang hamba Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang lebih baik, lebih taat kepada Nya. Niatnya karena Allah semata, bukan selain Allah.

Orang ikhlas tidak kecewa ketika di tengah perjalanan Ramadhan mengalami sakit atau hal lain di luar kemampuan sebab meyakini bahwa sakit maupun hal lain di luar kemampuannya tersebut terjadi atas izin Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Ketika dia membuat target setiap hari khatam 3 juz, dia tidak kecewa ketika mendadak sakit tenggorokan dan tidak bisa menyelesaikan 3 juz per hari.

Dalam menyusun resolusi Ramadhan niatkan iklhas karena Allah Subhanahu Wa Ta’ala, bukan untuk kepuasan diri melihat checklist tabel amalan harian atau resolusi Ramadhan yang terisi.

(2) berdoa berlindung dari kemalasan

Salah satu doa yang diajarkan dalam Islam untuk mencegah kemalasan adalah sebagaimana terdapat dalam hadits berikut:

“Ya Allah, sesungguhnya aku berlindung kepada Mu dari (hal yang) menyedihkan dan menyusahkan, lemah dan malas, bakhil dan penakut, lilitan hutang dan penindasan orang.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari)

(3) realistis

Sebagian orang ingin langsung mengerjakan hal besar tanpa memperhatikan kondisi, kemampuan, dan kebiasaan diri. Jika ingin membuat resolusi Ramadhan yang benar-benar dikerjakan maka mesti memperhatikan hal tersebut.

Seorang pekerja kantoran jadwalnya tidak sefleksibel mahasiswa yang sedang libur semester. Sang mahasiswa bisa menargetkan akan itikaf di 10 hari terakhir full di masjid tanpa pulang ke rumah, sementara sang pegawai hanya bisa menargetkan itikaf di malam hari saja. Jika memang demikian kondisinya, tentu pegawai tadi tidak perlu menargetkan itikaf 10 hari full di masjid karena faktanya tiap hari kerja dia harus ngantor. Kecuali jika dia bisa mengambil cuti.

(4) fokus pada pembiasaan

Ketika misalnya seseorang menargetkan agar bisa khatam sebanyak 3 kali selama bulan Ramadhan, kemudian di tengah jalan menjumpai kenyataan bahwa dia mengalami kesulitan mencapai target tersebut maka hendaknya dia merevisi targetnya menjadi ‘setiap hari saya akan membaca Al-Qur’an berapapun ayat yang saya sanggup‘. Goal-nya adalah pembiasaan membaca Al-Qur’an setiap hari yang diharapkan setelah Ramadhan akan terus berlanjut.

(5) jika sulit setiap hari, sesuaikan

Misalnya jika tidak bisa mengerjakan sholat dhuha setiap hari karena satu dan lain hal maka targetnya diubah jangka waktunya menjadi setiap dua hari atau setiap tiga hari.

* * *

4. Ide Resolusi Ramadhan yang Insya Allah ringan dikerjakan

Apa yang saya uraikan di sini saya katakan ‘insya Allah ringan dikerjakan’ artinya jika Allah mengizinkan maka apa yang ada di sini akan menjadi ringan atau mudah. Sebagaimana tersurat dalam sebuah do’a yang disunnahkan dibaca setiap pagi dan petang:

“Ya Allah, tidak ada kemudahan kecuali yang Engkau buat mudah.

Dan engkau menjadikan kesedihan (kesulitan), jika Engkau kehendaki pasti akan menjadi mudah.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Hibban)

Berikut ide resolusi Ramadhan yang sederhana dan insya Allah ringan dikerjakan:

(1) Memperbanyak istighfar

Istighfar memiliki keutamaan sangat dahsyat.

Memperbanyak istighfar menjadi jalan memperoleh pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala. Bukankah ini yang para hamba Allah butuhkan?

Kadang seseorang menemukan jalan buntu, kegalauan, dan masalah yang seolah tak akan ada seorang pun dapat menolong. Saat itu barulah terasa hanya Allah Subhanahu Wa Ta’ala saja satu-satunya tempat meminta tolong.

Sebagaimana disampaikan Syaikh Ismail Al-Muqaddam dalam buku Fikih Istighfar (diterbitkan Pustaka Al-Kautsar), menceritakan kisah berikut:

Suatu ketika ada seseorang mengadu kepada Hasan Al-Bashri tentang musim paceklik. Lalu beliau berkata, “Mintalah ampun (istighfar) kepada Allah.”

Ada lagi orang mengadukan kemiskinan, dia tetap menjawab, “Mintalah ampun kepada Allah.”

Yang lain mengadukan kebunnya kekeringan, dia tetap menjawab, “Mintalah ampun kepada Allah.”

Kemudian ada yang mengadukan ketiadaan anak, Hasan Al-Bashri tetap menjawab, “Mintalah ampun kepada Allah.”

Kemudian dia membaca ayat 10-12 Surat Nuh kepada mereka:

Mohon ampunlah kepada Tuhanmu, sesungguhnya Dia adalah Maha Pengampun, niscaya Dia akan mengirimkan hujan kepadamu dengan lebat, dapat membanyakkan harta dan anak-anakmu, dan mengadakan untukmu kebun-kebun dan mengadakan (pula di dalamnya) untuk sungai-sungai. (Al-Qur’an Surat Nuh ayat 10-12).

Dalam buku tersebut juga diungkap bahwa istighfar memiliki peran penting menyempurnakan kekurangan amalan.

Allah Subhanahu Wa Ta’ala berfirman,

“Katakanlah (Muhammad), “Aku ini hanyalah seorang manusia seperti kamu, yang diwahyukan kepadaku bahwa Tuhan kamu adalah Tuhan Yang Maha Esa,

karena itu tetaplah kamu (beribadah) kepada-Nya dan mohonlah ampunan kepada-Nya.

Dan celakalah bagi orang-orang yang mempersekutukan-(Nya).” (Al-Qur’an Surat Fussilat ayat 6)

Dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala tersebut terdapat isyarat bahwa dalam perjalanan untuk istiqomah niscaya akan ada kekurangan dari standar yang diperintahkan, maka Allah Subhanahu Wa Ta’ala memerintahkan untuk menutupnya dengan istighfar untuk bertaubat dan kembali pada istiqomah.

Sementara itu dalam buku Sukses Dunia & Akhirat dengan Istighfar & Taubat karya Abu Ustman Kharisman (diterbitkan Cahaya Sunnah) disampaikan bahwa istighfar menyebabkan terhindar dari adzab Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Tetapi Allah tidak akan menghukum mereka, selama engkau (Muhammad) berada di antara mereka.

Dan tidaklah (pula) Allah akan menghukum mereka, sedang mereka (masih) memohon ampunan.” (Al-Qur’an Surat Al-Anfal ayat 33).

Dalam ayat tersebut Allah Subhanahu Wa Ta’ala menjelaskan bahwa Dia tidak akan mengadzab suatu kaum kalau ada 2 hal: (1) Rasulullah Muhammad Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam hidup bersama mereka, dan (2) mereka senantiasa beristighfar.

Ketika Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam sudah wafat maka tinggal 1 saja sebab keamanan dari adzab Allah Subhanahu Wa Ta’ala yaitu istighfar.

Dari uraian di atas terungkap keutamaan memperbanyak istighfar yaitu sarana meminta pertolongan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, penutup segala amalan agar amalan tersebut sempurna, dan mencegah turunnya adzab.

Lantas kapan waktu yang tepat untuk beristighfar?

Dalam buku Fikih Istighfar disebutkan beberapa momen untuk istighfar: ketika dzikir pagi dan petang, keluar dari WC, selesai wudhu, masuk dan keluar masjid, selesai sholat, di waktu sahur, dan lain-lain.

Tentu saja sebagai seorang yang sering lalai alangkah baiknya jika kita beristighfar bukan hanya di momen-momen disebut di atas melainkan di setiap saat.

Seseorang perlu meninggalkan puasa jika dia sakit keras. Tetapi dia bisa tetap memperbanyak istighfar. Dia bisa beristighfar di atas kasur rumahnya atau bahkan di ranjang rumah sakit.

Seseorang tidak bisa sholat tarawih berjamaah bersama imam di masjid ketika terjebak macet di jalan sepulang kantor. Tetapi dia bisa tetap memperbanyak istighfar di dalam mobilnya, di atas motornya, atau di bis.

Maka salah satu ide resolusi Ramadhan dalam tulisan ini adalah memperbanyak istighfar.

(2) Berdoa menjelang dan saat berbuka puasa

Sewaktu kecil di antara yang saya sukai di bulan Ramadhan adalah tayangan-tayangan televisinya. Ada sinetron religi, kuis, komedi, dan lain-lain yang ditayangkan menjelang berbuka.

Selain itu juga bermain halma, ludo, ular tangga, atau monopoli bersama saudara-saudara.

Sekarang, kita perlu menyadari bahwa hal terbaik yang dilakukan menjelang dan saat berbuka puasa adalah berdoa.

“Sesungguhnya do’a orang yang berpuasa ketika berbuka tidaklah tertolak.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Ibnu Majah)

Berdoa meminta ampunan, keselamatan dunia dan akhirat, kesehatan, maupun doa-doa spesifik yang sesuai kebutuhan masing-masing.

Alangkah ruginya jika seseorang memasuki momen tersebut dengan tertawa-tawa atau kesibukan-kesibukan yang tidak prioritas. Atau malah kesibukan yang di akhirat hanya menjadi debu beterbangan.

Maka dalam tulisan ini berdoa menjelang dan saat berbuka menjadi salah satu ide resolusi Ramadhan yang sederhana dan mudah dikerjakan.

(3) Tidak berbuka puasa bersama di tempat yang sulit mengerjakan sholat maghrib dan tarawih

Berbuka puasa bersama hal yang menyenangkan bukan?

Tetapi jangan sampai kenikmatan makan dan kebersamaan tersebut menyebabkan terganggunya sholat maghrib dan tarawih.

Dahulu saya pernah pergi ke acara buka puasa bersama di sebuah mall di Jakarta. Saya berangkat bersama teman-teman naik mobil salah seorang teman jam setengah 5 sore.

Ternyata jalanan begitu macetnya. Kami terjebak macet hingga adzan maghrib pun masih di jalan. Sampai di pintu masuk mall ternyata penuh dengan antrian mobil masuk mall. Setelah sampai tempat parkir masih harus mencari parkir yang kosong.

Perjalanan sampai tempat makan terasa begitu panjang sampai-sampai begitu sampai lantai mall waktu maghrib hampir habis. Kami pun buru-buru mencari mushola.

Maka apa gunanya berbuka puasa bersama kalau sholat maghrib terbengkalai sedangkan sholat adalah amal pertama yang ditanya di akhirat?

Setelah berbuka kami ngobrol-ngobrol sampai jam 8 malam. Kemudian pulang ke rumah masing-masing.

Sampai rumah jam 10 malam. Saya lelah karena jalan pulang juga macet. Akhirnya hanya sholat isya saja tanpa tarawih.

Pengalaman buruk lainnya juga pernah saya alami. Dalam acara buka puasa di sebuah resto ternyata banyak sekali yang datang ke sana. Saat adzan tiba kami masih belum dapat makanan berbuka. Tiba-tiba ada pelayan resto yang bisikin kalau mau didahulukan boleh bayar 100 ribu rupiah.

Maka mari jadikan poin yang satu ini sebagai resolusi Ramadhan.

Masih ingin merasakan buka puasa bersama tanpa mengganggu sholat maghrib dan tarawih? Silakan datang ke masjid-masjid yang menyediakan buka puasa gratis.

Di Bekasi misalnya ada masjid Al Azhar Jakapermai. Selesai berbuka bisa langsung sholat maghrib berjamaah.

Catatan: tentu poin nomor 3 ini dimaksudkan dalam kondisi normal. Di masa wabah COVID-19 sudah jelas berbuka harus di tempat tinggal masing-masing.

(4) Menghadirkan keinginan kelak melihat Allah di akhirat

Seperti saya tulis pada artikel berjudul “Menanti Saat Terindah Melihat Allah“, apapun dapat terjadi dalam kehidupan seorang muslim.

Apapun itu seorang muslim harus senantiasa menghadirkan keinginan kelak melihat Allah di akhirat. Itu adalah satu-satunya tujuan yang tak boleh gagal, harus berhasil.

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah).

Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan.

Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Qur’an Surat Yunus ayat 26).

Ide keempat untuk resolusi Ramadhan dalam tulisan ini adalah setiap hari menghadirkan rasa ingin melihat Allah kelak di akhirat.

Keinginan tersebut memiliki pengaruh signifikan bagi seorang muslim. Sebagaimana disampaikan oleh Syaikh Muhammad bin Shalih al-Utsaimin dalam buku Syarah Aqidah Wasithiyah, Buku Induk Akidah Islam (diterbitkan oleh Darul Haq):

Melihat Allah, pengaruhnya terhadap perilaku sangatlah besar, karena apabila seseorang mengetahui bahwa puncak pahala yang diraihnya adalah melihat kepada Wajah Allah, maka dunia di matanya menjadi tidak berarti, semuanya baginya murah demi dapat melihat Allah, karena ia adalah puncak apa yang dicari dan akhir tujuan.

Jika anda mengetahui bahwa anda akan melihat Rabb anda dengan mata kepala, niscaya dunia tidak ada apa-apanya.

Seluruh dunia bukan apa-apa, karena melihat kepada Wajah Allah adalah buah di mana orang-orang berlomba-lomba merebutinya dan berusaha kepadanya, ia adalah akhir tujuan dari segala perkara.

Apabila anda mengetahui hal itu, apakah anda berusaha untuk menggapainya atau tidak?

Jawabnya: ya, aku pasti akan berusaha menggapainya tanpa ragu-ragu.

* * *

5. Kesimpulan

Demikian ide Resolusi Ramadhan sederhana dan ringan dikerjakan. Layak dicoba terutama buat orang-orang yang senantiasa tidak berhasil merealisasikan resolusi alias gagal lagi gagal lagi.

Kegagalan tersebut bisa disebabkan tidak realistis dan terlalu perfeksionis.

Dalam menyusun resolusi Ramadhan seseorang perlu ikhlas, berdoa agar dilindungi dari kemalasan, memperhatikan kondisi, kemampuan, dan kebiasaan diri, fokus pada pembiasaan, dan buat jangka waktu yang lebih panjang jika tidak bisa dikerjakan setiap hari.

Adapun ide resolusi yang disarankan dalam artikel ini adalah: memperbanyak istighfar, berdoa menjelang dan saat berbuka puasa, tidak menghadiri buka puasa jika mengganggu sholat maghrib dan tarawih, dan menghadirkan rasa ingin melihat Allah kelak di akhirat.

Semoga tulisan ini bermanfaat.

Iqbal – Fana.Blog

Leave a Reply