Categories
Berhenti Sejenak

Menanti Saat Terindah Melihat Allah

Ketika segala mimpi dan rencana menemui keberhasilan dan kegagalan, ada satu yang tak boleh gagal.

“Terbuat dari apakah jendela rumahmu?”

“Kawat.”

Tentu wajar jika pembuat pertanyaan di buku pelajaran anak SD kelas 1 itu maupun guru yang ngasih PR berharap anak-anak yang diberi soal akan menjawab: ‘kaca’.

Tetapi kakak saya menjawab ‘kawat’.

Mungkin kakak saya satu-satunya murid di kelasnya atau malah di sekolahnya yang menulis ‘kawat’, bukan ‘kaca’.

Kakak saya tidak salah, jendela rumah orang tua kami saat itu memang tidak dibuat dengan kaca, melainkan kawat yang disusun kotak-kotak seperti kain kasa. Ditutup korden kain sederhana.

Dua atau tiga tahun kemudian jendela rumah kami dipasang kaca. Nuansa sederhana masih tetap ada. Dinding rumah terbuat dari papan tripleks, minim tembok bata. Lantai tak dipasang ubin, hanya karpet plastik.

Berapa tahun kemudian saat kakak saya sudah bekerja di bidang gambar bangunan, ibu dan kakak saya berdiskusi sambil menggambar di atas kertas. Ada rencana rumah kami direnovasi, ada perluasan ruangan, dan sebagainya.

Terpikir dalam benak saya saat itu pertanyaan demi pertanyaan dari lubuk hati terdalam.

Is it possible?

Seperti apa rumah kami nantinya jika direnovasi?

Berapa biaya yang diperlukan?

Memangnya ada uangnya?

Bagaimana rasanya tinggal di rumah yang dindingnya tembok bukan papan tripleks?

Pertanyaan yang muncul dari benak orang yang terbiasa dengan keterbatasan. Saat saya masih SD ada yang kalau ulang tahun mentraktir teman-temannya ke Dunkin, sementara saya pernah makan nasi kecap sepiring bersama. Ada yang punya Sega, sementara saya TV-nya hitam putih dan hanya ada TVRI. Ada yang liburan ke Dufan, sementara saya bahkan hingga saat ini menulis artikel ini belum pernah ke Dufan hehe.. Saya dan kakak mesti berjualan koran dulu untuk memperoleh uang untuk jalan-jalan ke mall. Saya suka olah raga beladiri, tetapi berhenti Taekwondo karena tak bisa beli seragam. Saat SMP ikut pencak silat bajunya pinjam ke tetangga sedangkan celananya celana panjang putih yang direbus dengan pewarna hitam sehingga menjadi abu-abu padahal mestinya hitam.

Waktu pun terus berjalan, beberapa tahun kemudian mulai tampak perubahan signifikan di rumah orang tua kami. Ruangan diperluas, ubin dipasang. Tembok papan tripleks berganti menjadi dinding.

Perubahan tersebut terjadi secara bertahap dalam waktu lebih dari 10 tahun.

Perubahan rumah tempat saya dan saudara-saudara saya dibesarkan dari masih berlantai karpet plastik hingga menjadi ubin, dinding papan hingga menjadi dinding tembok, kalaulah disebut sebagai ‘pencapaian’ maka itu adalah ‘pencapaian’ yang sebenarnya already, telah, sudah dirasakan teman-teman SD saya sejak mereka masih kecil.

Saya menyadari tentunya bukan saya saja yang pernah mengalami masa lalu yang relatif lebih sederhana ketimbang teman-teman sepantaran atau sepermainan. Para pembaca yang mengunjungi tulisan ini juga barangkali memiliki cerita masa lalu yang serupa.

Cerita di atas hanyalah pengantar dari apa yang akan saya bahas selanjutnya.

Rumah yang dimaksud dalam cerita di atas saat ini saya masih tinggal di dalamnya. Saya, istri, dan anak saat ini masih menumpang di rumah orang tua saya tersebut sambil menabung agar bisa membeli rumah sendiri. Plus pada saat yang sama orang tua juga perlu ada yang menemani.

Pada akhir Februari 2020 rumah sederhana tersebut kebanjiran sebagaimana saya ceritakan dalam tulisan sebelumnya berjudul “Banjir, Rusaknya Ratusan Buku, Minimalism”. Belum pernah sebelumnya mengalami banjir semacam itu. Air masuk ke dalam rumah begitu cepat.

Pintu rumah jebol, lemari kabinet plastik terguling, kulkas terendam sebagian, dan TV legendaris yang bertahan sejak SD tutup usia karena tenggelam.

Selepas banjir, ubin mulai sedikit berantakan. Apa yang telah dikerjakan selama 10 tahun tadi mulai mengalami depresiasi atau kerusakan perlahan.

Apa yang telah diupayakan sejak lama dapat berantakan dalam waktu singkat.

Kejadian tersebut memberi saya pelajaran, penegasan kembali bahwa dunia terlalu rapuh untuk dicinta secara berlebihan.

Saya percaya di antara pembaca tulisan ini pernah mengalami hal semacam itu, mengupayakan sesuatu, bekerja keras untuk meraih sesuatu itu ternyata dalam waktu singkat kandas karena satu dan lain hal.

Dan itu adalah hal yang memang dapat terjadi dengan mudahnya di dunia yang fana ini. Tak peduli betapa lama seseorang mengupayakan sesuatu dalam waktu singkat sesuatu itu bisa saja musnah atau rusak.

Di sekitar dapat saya jumpai orang yang kini berjuang keras untuk hidupnya padahal waktu kecil memiliki kehidupan yang berkecukupan karena ayahnya bekerja di perusahaan minyak. Kemudian mendadak ayahnya wafat. Perekonomian keluarga menjadi terguncang, karena satu dan lain hal seseorang tersebut pun hingga kini kesulitan memperoleh pekerjaan.

Ada yang anaknya mendadak sakit menahun sehingga merubah tatanan kehidupannya.

Tak ingin saya tulis semua yang saya ketahui di sini tetapi saya percaya pembaca atau sebagian pembaca tulisan ini punya cerita yang serupa.

Tadi adalah contoh-contoh individu, dalam konteks global pun juga bisa terjadi hal yang sama. Saat tulisan ini ditulis dunia sedang gempar oleh wabah virus Corona yang menimbulkan penyakit COVID-19. Empat bulan lalu tak ada yang tahu tentang penyakit ini, tak ada yang pernah mendengarnya. Tetapi hari-hari ini saat saya menulis tulisan ini hampir tak ada orang di sekitar saya yang belum mengetahuinya. Apa yang terjadi? Kegiatan perekonomian dunia terganggu. Bukan hanya itu, sholat Jumat pun ditiadakan di beberapa negara. Penyakit yang berawal dari Wuhan, China tersebut kini menyebar ke seluruh dunia termasuk Indonesia.

Padahal sebelum itu pun di Indonesia sudah ada isu-isu prediksi akan terjadi gempa megathrust, gunung meletus, global warming, dan berbagai isu-isu lainnya.

Inilah dunia yang terlalu rapuh untuk dicintai secara berlebihan.

Jika benar kehidupan ini dapat terjadi berbagai hal yang tak diduga lantas apa yang harus dilakukan?

Sebagai seorang muslim tentu saja harus tetap bermimpi dan berencana serta bekerja meraih mimpi dan mewujudkan rencana.

Hal-hal tak terduga bisa saja menghentikan mimpi-mimpi atau rencana-rencana yang telah disusun. Tetapi sesungguhnya ada satu mimpi atau rencana yang tak boleh gagal diraih. Impian atau rencana itu adalah melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala di surga. Sebagaimana disebutkan dalam firman Allah Subhanahu Wa Ta’ala:

“Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya (kenikmatan melihat Allah).

Dan wajah mereka tidak ditutupi debu hitam dan tidak (pula) dalam kehinaan.

Mereka itulah penghuni surga, mereka kekal di dalamnya.” (Al-Qur’an Surat Yunus ayat 26).

Yang dimaksud dengan “dan tambahannya” dalam ayat tersebut adalah melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat dan sesungguhnya hal itu adalah kenikmatan tertinggi di surga, sebagaimana diungkap dalam hadits berikut:

“Jika penghuni surga telah masuk surga, Allah Ta’ala berfirman, “Apakah kalian (wahai penghuni surga) menginginkan sesuatu sebagai tambahan (dari kenikmatan surga)?”

Maka mereka menjawab, “Bukankah Engkau telah memutihkan wajah-wajah kami? Bukankah Engkau telah memasukkan kami ke dalam surga dan menyelamatkan kami dari (azab) neraka?”

Maka (pada waktu itu) Allah membuka hijab (yang menutupi wajah-Nya Yang Maha Mulia), dan penghuni surga tidak pernah mendapatkan suatu (kenikmatan) yang lebih mereka sukai daripada melihat (wajah) Allah Azza Wa Jalla.”

Kemudian Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam membaca ayat tersebut di atas (Bagi orang-orang yang berbuat baik, ada pahala yang terbaik (surga) dan tambahannya). (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim)

Kehidupan di dunia yang fana ini bisa saja berantakan, bisa saja melelahkan, menemui kegagalan demi kegagalan, tetapi ada satu hal yang tak boleh berantakan dan lelah dipegang yaitu keimanan kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang dibuktikan dengan persembahan ibadah terbaik kepada Nya agar kelak bisa melihat Nya di akhirat nanti.

Ketika segala rencana dan mimpi menemui keberhasilan dan kegagalan, ada satu hal yang harus berhasil dan tak boleh gagal: melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala di akhirat nanti.

Apapun kondisi yang dialami saat ini, sedang di atas, sedang di bawah, merasa aman, merasa takut, merasa kaya, merasa kesulitan.. Apapun kondisi saat ini, mari tetap menyimpan harapan akan satu hal yang ingin dan harus diraih: kelak dapat melihat Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

Iqbal – Fana.Blog

Leave a Reply