Categories
Berhenti Sejenak

Banjir, Rusaknya Ratusan Buku, Minimalism

Penegasan kembali bahwa dunia terlalu rapuh untuk dicinta secara berlebihan.

Beberapa menit sebelum masuk waktu subuh hujan yang turun sejak malam akhirnya menyebabkan air mulai merembes dari sela-sela ubin.

Akankah terulang lagi rumah kebanjiran seperti 1 Januari 2020 lalu?

Tak perlu waktu lama untuk mengetahuinya karena tak lama kemudian air masuk dari jalan depan rumah.

Banjir terjadi lagi namun kali ini lebih parah dari banjir 1 Januari lalu. Bahkan ini pertama kalinya saya mengalami kebanjiran seperti ini.

Berbeda dengan air rembesan yang bening air dari luar berwarna cokelat kotor.

Air masuk tak lagi terbendung. Bahkan pintu yang disumpel kain pun akhirnya jebol bersama suara “brak!”

Anak saya yang berusia satu tahun dua bulan harus dievakuasi melalui jendela karena pintu masuk kamar terganjal kasur dan barang-barang yang dipindahkan ke situ mengira ruang yang lantainya lebih tinggi tersebut akan aman dari banjir.

Saat adzan subuh menggema sebagian penghuni rumah mengungsi di bawah guyuran hujan ke rumah kakak saya.

Air masuk dengan pesatnya menggulingkan TV dan lemari plastik. Menghanyutkan barang-barang lainnya.

Merendam ratusan buku.

Energi yang tersisa serta mental yang down tak cukup untuk menyelamatkan buku-buku tersebut.

Bahkan buku yang saya kira telah berhasil diselamatkan seperti di foto ini:

ternyata beberapa hari kemudian didapati ada genangan air di baskom tersebut sehingga buku-buku tersebut pun rusak.

Beberapa judul buku jadi terasa ironi, ini misalnya:

Hati terhibur saat sebuah majalah mengingatkan saya tentang Ramadhan yang sudah kurang dari 2 bulan lagi:

Well, saya belum pernah mengalami banjir seperti ini sebelumnya sehingga tak mengantisipasi dengan menyimpan buku-buku di tempat lebih tinggi.

Baju-baju pun terendam sehingga saya memakai pakaian yang sama selama 2 hari.

Koleksi mainan juga turut merasakan dampaknya. Bagian yang mengandung logam pada karatan karena terendam air dan baru sempat dibereskan beberapa hari kemudian.

Banyak barang akhirnya harus dibuang termasuk buku-buku.

Barang-barang rusak tadi beserta sampah dimasukkan ke dalam karung. Untuk kemudian diangkut mobil pick up pengangkut urukan tanah.

Proses pemulihan fisik dampak banjir memakan waktu sepekan. Namun secara mental perlu waktu lebih lama.

Sebelum:

Sesudah:

Tanaman di samping rumah berbunga seakan memberi semangat dan harapan.

* * *

Dari pengalaman banjir ini ada 2 hal menjadi perhatian saya.

Pertama, penegasan kembali bahwa dunia terlalu rapuh untuk dicinta secara berlebihan

Dunia ini terlalu rapuh. Banyak hal dapat terjadi dalam waktu singkat, tak butuh waktu lama, jika sudah menjadi takdir Allah Subhanahu Wa Ta’ala rusak maka akan rusak. Ditakdirkan musnah akan musnah. Ditakdirkan mati akan mati.

Dalam waktu singkat banjir telah memusnahkan buku-buku saya menyisakan hanya beberapa, merusak mainan-mainan penuh kenangan yang saya beli selama di Jepang maupun barang-barang lainnya.

Membatalkan berbagai rencana yang telah disusun.

Memberikan cinta berlebihan pada dunia ini sama saja memberi cinta pada yang rapuh, fana, akan berakhir.

“Setiap yang bernyawa akan merasakan mati.

Dan hanya pada hari Kiamat sajalah diberikan dengan sempurna balasanmu.

Barangsiapa dijauhkan dari neraka dan dimasukkan ke dalam surga, sungguh, dia memperoleh kemenangan.

Kehidupan dunia hanyalah kesenangan yang memperdaya.” (Al-Qur’an Surat Ali ‘Imran ayat 185)

Kedua, minimalism dapat membantu proses move on

Ada sebuah artikel bagus tentang banjir dan minimalism: “Five Things My Husband and I Learned about Minimalism when Our Floor Flooded“. Tentang pengalaman seorang praktisi minimalism yang mendapati rumahnya kebanjiran dan betapa pembiasaan terhadap gaya hidup minimalism membantu dia dan suaminya dalam menghadapi rumah kebanjiran. Saya sangat merekomendasikan untuk membacanya.

Minimalism telah membantu saya juga dalam proses pemulihan pascabanjir.

Sejujurnya banjir lalu membuat saya trauma, waswas, dan sedih. Tetapi pada level tertentu minimalism membantu saya berpisah dari barang-barang dimiliki dan move on.

Seperti saya tulis dalam artikel lain dalam blog ini: “Review The Life-Changing Magic of Tidying Up” dan “Diskusi Minimalism: tidak Mau atau tidak Mampu?“, sejak mengenal minimalism keterikatan saya pada koleksi mainan maupun buku-buku yang saya miliki telah jauh berkurang. Maka saat mendapati buku-buku tersebut rusak, saya merasa tak perlu berlama-lama menjemurnya atau mengupayakan recovery. Langsung buang saja. Masukin karung.

Terasa lebih ringan saat membuangnya. Tanpa beban.

Minimalism adalah fokus pada apa yang benar-benar berharga atau penting bagi diri dan meninggalkan apa yang menghalangi diri dari hal berharga tersebut.

Buku-buku itu, yes, pernah mengisi rak buku saya. Tetapi sekarang mereka harus pergi. It’s the time for them to go. Bahkan rak bukunya juga sudah hancur. Lebih baik membiarkan mereka pergi agar tidak berlarut memikirkan apa yang sudah rusak dan mengupayakan agar bisa diperbaiki padahal sudah rusak dan tidak akan pernah kembali seperti semula, sementara ada hal lain yang lebih penting untuk diperhatikan.

Minimalism terasa sangat membantu untuk memprioritaskan pada apa yang lebih penting saat terjadi banjir lalu: keselamatan diri dan keluarga dan barang yang benar-benar penting, dan merelakan barang-barang yang sudah tak dapat diselamatkan.

Semoga Allah Subhanahu Wa Ta’ala senantiasa melindungi saya dan keluarga dan memberi ganti yang jauh lebih baik atas apa yang telah hilang.

Iqbal – Fana.Blog

Leave a Reply