Bahagia itu Sederhana: Ikut Main Hujan-Hujanan

Scroll down to content

Di suatu malam saya bersama Sakata-sensei, beliau seorang mualaf Jepang yang pernah mengisi di radio Rodja di Indonesia, beserta keluarganya terjebak, hmm, ter.. apa ya istilahnya, intinya kami lagi jalan-jalan di Tokyo lalu hujan turun sementara kami tidak membawa payung.

Alhasil kami segera membeli payung di toko pinggir jalan dan terjadilah pemandangan ini:

Main Hujan-Hujanan di Jepang (Fana.Blog)

Anak-anak beliau mengajak saya main hujan-hujanan.

Siapa pernah main hujan-hujanan?

Saya yakin sebagian pembaca tulisan ini sudah pernah main hujan-hujanan sewaktu kecil dahulu.

Bagaimana ketika sudah dewasa?

Dalam tulisan ini saya menceritakan pengalaman main hujan-hujanan yang saya lakukan baru-baru ini secara tak terduga dan kesan unik saya rasakan. Disertai tips agar aman dan nyaman main hujan-hujanan.

1. Kenalan lagi dengan Air Hujan, di Bangil

Yah, hujan, Rayyan mau main hujan-hujanan yah.” pinta Rayyan kepada ayahnya.

Tunggu dulu ya, hujannya belum deras.” jawab ayahnya.

Ayah Rayyan, bang Agus kakaknya istri saya alias kakak ipar saya.

Ketika rintik hujan mulai turun, saya, istri, dan anak saya baru saja tiba di rumah orang tua istri saya di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur dalam rangka mudik.

Dua keponakan lain juga meminta kepada orang tua mereka diizinkan main hujan-hujanan.

Sekitar sepuluh menit kemudian hujan turun dengan derasnya. Para keponakan pergi keluar pagar. Bermain hujan dengan riangnya di jalan kecil depan pagar.

Saya mengamati dari teras.

Mau ikutan main hujan mas?” tanya istri saya.

Eh, main hujan?” tanya saya heran.

Iya, ikutan aja sama anak-anak nanti selesainya tinggal mandi.” jawabnya.

Sambil mikir-mikir karena sepertinya asyik juga main hujan, saya bilang, “Kalau bang Agus main hujan mau ikutan deh.

Ada keraguan di hati, tetapi berganti menjadi surprise ketika bang Agus keluar rumah untuk ikut main hujan-hujanan!

Rombongan kecil itu berlari dan menghilang di tikungan.

Ragu-ragu saya melepas celana panjang sehingga tinggal celana pendek selutut. Sedangkan kemeja Eiger saya pakai saat perjalanan mudik dari Bekasi tetap dipakai.

Dengan canggung saya pergi keluar pagar. Tetapi rombongan kecil tadi tidak terlihat lagi.

Saya kembali ke teras, “Nggak jadi deh, nggak ada temannya. Kehilangan jejak mereka.” kata saya kepada istri.

Tetapi tak lama mereka terlihat dari arah kiri, berarti mereka memutari beberapa rumah dari sebelah kanan dan muncul lagi dari sebelah kiri.

Saya segera keluar pagar lagi kali ini tak ingin kehilangan jejak mereka.

Para keponakan terlihat senang saya ternyata ikutan main hujan-hujanan bersama mereka.

Bahagia itu Sederhana: Ikut Bermain Hujan-Hujanan (Fana.Blog)

Om, dulu waktu kecil pernah main hujan-hujanan nggak?” tanya Dimas.

Nggak pernah.” jawab saya.

Pengalaman di Jepang yang saya sampaikan di awal tulisan ini tidak saya anggap sebagai pengalaman main hujan-hujanan karena saat itu saya memakai payung.

Kok nggak pernah sih om?” tanya Dimas heran.

Karena.. hmm..” saya mikir-mikir. Yang jelas dahulu takut sakit, lagi pula banyak kendaraan di jalan.

Ternyata asyik juga main hujan-hujanan di usia dewasa.

Terasa sejuk segar menerima limpahan alias guyuran deras air hujan. Ada sensasi tersendiri antara dingin dan seru.

Rombongan kecil kami terus berjalan ke arah jalan lebih besar.

Kali ini saya kembali dibikin surprise, ternyata ada anak-anak lainnya sedang main hujan-hujanan.

Tetapi bukan hanya mereka, kali ini saya melihat para pemuda dan orang tua turut keluar berhujan-hujanan.

Oke, mungkin ini biasa saja bagi sebagian pembaca blog ini, tetapi buat saya ini hal menarik karena belum pernah saya temukan sebelumnya. Biasanya saya hanya melihat anak-anak saja yang bermain hujan-hujanan.

Bang Agus menjelaskan di daerah ini orang-orang terbiasa hujan-hujanan baik anak-anak maupun orang dewasa. Malah jika pergi ke alun-alun Bangil akan melihat lebih banyak lagi orang bermain hujan-hujanan.

Bagi warga setempat hujan merupakan berkah dari Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan ada hadits menyunahkan hujan-hujanan.

Kami terus berjalan kaki di bawah guyuran hujan deras. Awalnya kami berlari-lari tetapi karena kuatir akan mendorong air masuk ke rumah-rumah di pinggir jalan yang kami lalui (genangannya sudah meninggi) maka kami hanya berjalan kaki saja.

Bang Agus bilang jika tidak sedang bersama anak-anak mungkin akan jogging menempuh rute lebih jauh lagi.

Ide menarik karena saya suka jogging.

Sore itu kami berhujan-hujanan selama hampir satu jam.

Pengalaman hujan-hujanan itu terasa berkesan. Saya bilang ke istri kalau ada hujan deras lagi saya ingin pergi ke alun-alun Bangil.

Kesempatan itu pun tiba saat dua hari kemudian hujan turun dengan derasnya jam 5 sore.

Saya keluar berhujan-hujanan menuju alun-alun sambil membawa hp terbungkus kantong plastik bening. Niatnya sih ingin mengambil beberapa foto.

Saat itu ada petir beberapa kali sehingga saya sempat mengurungkan niat pergi ke alun-alun. Lagi pula saat itu sudah jam 5 sore, terlalu sore sepertinya untuk hujan-hujanan.

Tetapi di jalan saya bertemu sepupu istri, Bang Dhiya namanya, mengajak saya ke alun-alun naik motor setelah mengetahui penasaran saya terhadap suasana alun-alun Bangil kala hujan.

Saya mengikutinya mengambil motor di rumahnya, lalu kami melaju menembus guyuran hujan menuju alun-alun.

Naik motor di tengah derasnya hujan.

Di alun-alun hujan semakin deras. Tak terlihat ada yang main hujan karena sudah mendekati maghrib kata Bang Dhiya.

Saya mengurungkan niat mengambil foto karena hujan begitu deras menyulitkan saya mengoperasikan hp tanpa kena air.

Maka kami kembali ke rumah Bang Dhiya, di situ saya berpisah untuk meneruskan jalan kaki di sekitaran rumah mertua saja.

Bang Dhiya bilang, di sini orang-orang terbiasa berhujan-hujanan. Sedangkan di tempat lain belum tentu, karena saat dia berada di Malang hanya dia sendiri saja orang dewasa terlihat hujan-hujanan.

* * *

2. Tips agar Aman dan Nyaman Main Hujan-Hujanan

Bahagia dapat ditemukan pada hal-hal kecil, hal sederhana, seperti main hujan-hujanan misalnya.

Dari pengalaman singkat maupun tanya-tanya, saya memperoleh beberapa tips agar aman dan nyaman saat bermain hujan-hujanan.

(1) persiapan

Yang dimaksud persiapan ini sebelum berhujan-hujanan mental dan fisik dikondisikan untuk berhujan-hujanan, berbeda dengan orang tidak berencana menembus guyuran hujan tetapi terpaksa melakukannya, misalnya saat pulang kerja dengan pakaian kemeja atau batik dan tidak membawa payung.

Perhatikan pakaian yang akan dipakai, siapkan handuk, keset, dan keperluan lainnya.

Jika ingin bawa hp bisa membungkusnya dengan plastik.

(2) hanya melakukannya saat hujan deras

Hujan deras lebih baik daripada hujan tanggung atau rintik-rintik karena biasanya yang bikin kepala pusing setelah hujan-hujanan adalah hujan tanggung atau rintik-rintik (mohon koreksi jika informasi ini tidak tepat).

(3) perhatikan situasi dan kondisi sekitar

Jangan hujan-hujanan ketika ada petir menyambar-nyambar.

Perhatikan area tempat berhujan-hujanan apakah ada sampah berbahaya (beling, ranting tajam, duri, paku, dan sebagainya), kotor oleh limbah, atau ramai kendaraan berlalu-lalang.

Perhatikan pula apakah aktivitas yang dilakukan akan mengganggu orang lain, misalnya apakah gerakan kaki saat berlari bikin gelombang air masuk ke rumah orang lain.

(4) jika memungkinkan buang sampah yang ditemukan ke tempat sampah

Saat jalanan tergenang kadang akan ditemukan sampah (atau malah banyak). Jika memungkinkan dapat memungut sampah yang ditemukan kemudian membuangnya ke tempat sampah terdekat.

Jika ini dapat dilakukan tentu selain menikmati kesegaran guyuran hujan dapat pula meraih pahala kebaikan.

Baiklah, demikian cerita pengalaman ikut main hujan-hujanan di Bangil, Pasuruan, Jawa Timur.

Well, saya mempertimbangkan melakukan aktivitas ini saat sudah kembali ke Bekasi 🙂

Iqbal – Fana.Blog

(update & quality control 27 Januari 2020)

2 Replies to “Bahagia itu Sederhana: Ikut Main Hujan-Hujanan”

    1. I see.. begitu ya pak. Menarik sekali karena saya baru pertama kali melihat berbagai usia menikmati guyuran hujan. Ternyata nikmat dan segar diguyur hujan yg airnya dingin.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: