Manusia biasa tidak luput dari kesalahan antarsesamanya.

Di dalam Al-Qur’an disebutkan memberi maaf perbuatan mulia:

“Tetapi barangsiapa bersabar dan memaafkan, sungguh yang demikian itu termasuk perbuatan yang mulia.” (Al-Qur’an Surat Asy-Syura ayat 43).

Meski memaafkan perbuatan mulia terkadang kesalahan yang dilakukan tidak melulu harus dilupakan begitu saja jika ada manfaat lebih besar dengan mengingatnya.

Pembahasan topik ini menjadi penting bagi orang-orang yang ingin move on, meninggalkan segala hal buruk di masa lalu baik yang dilakukannya sendiri maupun yang dilakukan orang lain terhadapnya.

Kehidupan dunia yang fana ini begitu singkat, tentu lebih baik jika menjalaninya dengan hati yang lapang, memaafkan kesalahan orang-orang yang telah berbuat salah kepadanya.

Dengan memaafkan kesalahan orang lain di masa lalu maka pikiran dapat lebih fokus pada apa yang benar-benar penting dalam hidup.

Namun apakah dengan memaafkan kesalahan-kesalahan tersebut lantas harus melupakan seluruh kesalahan tersebut tanpa terkecuali?

Dalam tulisan ini saya akan mengungkap 3 alasan kenapa memaafkan tidak selalu harus melupakan.

* * *

1. Agar Tidak Terjatuh di Lubang yang Sama

Dalam tulisan 3 Hal Perlu Diperhatikan Sebelum Menolong saya menceritakan pengalaman buruk dialami saat membantu seorang mahasiswa asal negara lain menginstal ulang komputernya.

Ternyata saya malah ‘ditahan’ tidak boleh pulang sampai larut malam dalam keadaan lapar dan letih. Juga disalahkan ketika dia tidak bisa login ke emailnya, kemungkinan besar karena lupa password.

Ressha Gattai Diesel Oh (Fana.Blog)

Kejadian tersebut saya ingat dan tulis dalam catatan agar lain waktu lebih berhati-hati memberi pertolongan atau bantuan yaitu dengan memperhatikan kesanggupan diri, mengenal karakter orang yang meminta tolong, dan memastikan dia tahu apa yang diminta.

Karena bagaimanapun juga sebagai manusia biasa saya memiliki keterbatasan sumber daya (resources): waktu, tenaga, uang, dan semangat. Akan lebih baik jika menggunakan sumber daya tersebut pada hal yang tepat.

Dengan tidak melupakan kejadian tersebut saya berharap terhindar dari mengalami hal serupa.

“Seorang yang beriman tidak terperosok di satu lubang yang sama dua kali.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

* * *

2. Menolong Orang yang Zalim

Dalam tulisan Jebakan Debat Dunia Maya saya terlibat perdebatan sengit dengan seorang teman Facebook.

Hal ini dikarenakan yang bersangkutan menulis status mengolok-olok seseorang akan sebuah kesalahan yang sebenarnya belum jelas apa benar dia melakukannya.

Tak perlu waktu lama bagi saya menyadari sedang melakukan hal bodoh: berdebat dengannya.

Robot Spirits Doraemon SHS Kamen Rider Den-O dan Bunpachy (Fana.Blog)

Maka saya menyudahi perdebatan itu dan meminta maaf melalui pesan pribadi (japri) serta dalam hati mempersilakan dia menulis dan berkomentar apa saja.

Saya juga berjanji dalam hati senantiasa mengingat perdebatan tersebut agar berhati-hati saat berinteraksi dengannya. Mengingat status-status maupun komen yang ditulisnya di Facebook cenderung memancing keriuhan. Entah apa alasannya.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda ‘Tolonglah saudaramu yang berbuat zalim dan yang dizalimi.’

Kemudian ada seseorang bertanya tentang bagaimana cara menolong orang yang berbuat zalim?

Beliau menjawab, ‘Kamu cegah dia dari berbuat zalim, maka sesungguhnya engkau telah menolongnya.’ (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Bukhari dan Imam Muslim).

Mengingat kecenderungannya memancing kegaduhan, dengan tidak berinteraksi dengannya setidaknya membantu mengurangi peluang dirinya berdebat.

* * *

3. Mencegah Diri Melakukan Kesalahan yang Sama

Menurut saya alasan ini sangat penting.

Untuk memperoleh gambaran perkenankan saya menceritakan pengalaman masa lalu.

Jika dibandingkan dengan teman-teman saya, saya termasuk orang yang belakangan menikah. Saat yang lain sudah menikah dan malah sudah punya anak saya masih sendiri (single).

Laut Miyajima Itsukushima di Hiroshima Jepang (Fana.Blog)

Salah satu pertanyaan aneh di dunia ini adalah pertanyaan ‘kapan nikah?’ yang ditanyakan berulang-ulang sementara yang ditanya sedang memiliki berbagai kendala yang perlu ditemukan penyelesaiannya.

Menurut saya masalah paling sering bikin menunda menikah adalah kendala finansial.

Jujur saja masalah utama yang saya hadapi saat itu masalah finansial, saya seriously perlu menabung terlebih dahulu.

Pertanyaan ‘kapan nikah?’ tidak jarang berubah menjadi olok-olok yang saya sendiri pernah mengalaminya. Malah ada yang menganggap saya punya kelainan sehingga menunda-nunda menikah.

Jika saya protes olok-olok tersebut maka dijawab, “itu tandanya mereka peduli sama kamu.”

Jelas ini kekeliruan. Tidak ada hubungan olok-olok dengan kepedulian.

Tidak sedikit orang yang sedang menghadapi masalah lebih memilih memendam sendiri kegalauan dirasakan dan tidak berharap bantuan orang lain.

Diam bukan berarti semua baik-baik saja bisa jadi hanya tidak ingin merepotkan.

Andai saja orang-orang yang sering bertanya ‘kapan nikah?‘ dan mengolok-olok mengganti setiap pertanyaan dan olok-olok itu dengan bantuan nyata tentu akan sangat bermanfaat sekali. Itulah kepedulian sesungguhnya.

“Apa masalahmu sampai belum juga menikah?”

“Saya masih harus nabung-nabung..”

“Masih kurang berapa? Mana rekening kamu, sini saya transfer. Enggak banyak sih, tetapi saya hanya bisa kasih segitu buat bantu kamu biar cepat menikah”

Sweet.

Tentu tidak harus begitu. Jelas ada kontribusi lain dapat dilakukan tanpa harus mengeluarkan uang sepeser pun, misalnya mendoakan, memberi semangat, atau menasihati agar sabar. Yang pasti bukan mengolok-olok, mengejek, atau menyindir.

Saat acara pernikahan saya orang-orang yang paling besar bantuannya untuk saya adalah yang tidak termasuk para penanya ‘kapan nikah?‘ maupun tim pengolok-olok tadi.

Ada seorang teman surprisingly memberi 3,5 juta rupiah. Ada pula yang 500 ribu rupiah, teman SMA yang padahal sejak kami lulus tidak pernah ketemu dan kontak-kontakan lagi.

Setelah menikah saya tidak melupakan olok-olok serta pertanyaan berulang-ulang ‘kapan nikah?‘ maupun olok-olok yang dahulu diterima meski kini telah memaafkan.

Agar saya tidak menjadi seperti mereka, agar tidak melakukan kesalahan yang sama seperti pernah mereka lakukan.

Saya mengharamkan diri saya menanyakan berulang-ulang ‘kapan nikah?‘ maupun olok-olok kepada orang belum menikah.

Tidak ada jaminan seseorang tidak akan melakukan kezaliman yang sama dengan yang pernah diterimanya.

Dengan mengingati rasa tidak enak dizalimi mudah-mudahan juga ingat untuk tidak melakukan kezaliman yang sama yang pernah dialami.

* * *

4. Penutup: Sifat Lupa Merupakan Tabiat Manusia

Sifat lupa merupakan tabiat manusia maka melupakan seluruh kesalahan yang dilakukan orang lain memiliki risikonya sendiri, yaitu seseorang mengalami perlakuan buruk berulang-ulang baik oleh orang yang sama maupun bentuk kesalahan yang sama.

Seorang pebisnis sukses pernah mengatakan setiap pebisnis pasti pernah ditipu orang. Tipuan itu sendiri sebenarnya diperlukan agar para pebisnis bisa memiliki mental kuat dan bisa menemukan mana orang-orang yang dapat dipercaya dan tidak dapat dipercaya.

Satu kali dua kali ditipu bisa memberi pelajaran berharga, asalkan jangan terlalu banyak ditipu. Untuk itu seseorang perlu mengingat dan mempelajari pola penipuan terlepas dia sudah memaafkan atau tidak memaafkan penipuan tersebut agar tidak terpedaya berulang kali. Dia dapat menulisnya di catatan pribadi atau sekadar mengingatnya.

Dahulu saya pernah menjalin kerja sama dengan percetakan undangan pernikahan. Saya memasarkan jasa cetak undangan sedangkan mereka mencetaknya. Suatu ketika saya berhasil menemukan klien pertama yang ingin menggunakan jasa cetak udangan. Semua tampak baik-baik saja sampai ketika tiba waktunya menyerahkan undangan kepada sang klien agar dia bisa mulai membagikannya ternyata undangan dimaksud belum jadi!

Jelas saya panik, baru juga dapat klien pertama sudah ketemu masalah. Jika masalah itu tidak segera diselesaikan maka saya bukan hanya sekadar ‘kehilangan muka’ melainkan mengganggu kelancaran pernikahan sang klien yang merupakan peristiwa sangat penting dalam hidupnya.

Alhamdulillah pihak percetakan memberikan kompensasi telatnya undangan yang mereka cetak dengan meng-upgrade paket pencetakannya ke paket yang lebih mahal.

Apakah saya memaafkan mereka? Tentu saja. Apalagi pemilik percetakan tersebut orang baik-baik. Hanya saja orang baik belum tentu punya etos bisnis yang bagus bukan? Saya tahu mereka tidak ada maksud menipu sama sekali, mereka hanya kurang profesional.

Saya memaafkan, tetapi tidak melupakan agar menjadi lebih waspada dalam memilih rekan bisnis.

Risiko lain dari melupakan kesalahan orang lain ialah melakukan kesalahan yang pernah dilakukan orang lain terhadapnya, kepada orang lain.

Seseorang membenci suatu perlakuan buruk yang diterimanya. Beberapa tahun kemudian dijumpai orang tersebut melakukan keburukan yang sama pada orang lain seolah dia tidak pernah mengalami dan merasakan sendiri tidak enaknya diperlakukan seperti itu. Itu hal yang mungkin terjadi karena sifat lupa adalah tabiat manusia.

Memaafkan, move on, dan berdamai dengan masa lalu tentu diperlukan dalam kehidupan di dunia yang fana ini. Hal tersebut diperlukan dalam rangka men-declutter (merapikan), me-minimalis-kan pikiran agar ada ruang untuk berkembang, mengutamakan yang penting dalam meraih tujuan hidup yang sejati dan mengurangi hal-hal yang menjauhkan diri dari tujuan tersebut. Menjadi lebih baik dari waktu ke waktu dan tidak terbelenggu masa lalu. Namun demikian, tidak harus dengan melupakan seluruh kesalahan yang dilakukan orang lain terhadapnya jika ada kebaikan dalam mengingatnya.

Iqbal – Fana.Blog

(update & quality control 27 Januari 2020)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: