Categories
Berhenti Sejenak

Sebelum Membantu

Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.

1. Disandera di Lab Kampus

Kisah ini terjadi saat saya tinggal di Jepang menuntut ilmu di Hiroshima University.

Sebagai mahasiswa di fakultas internasional, Graduate School for International Development and Cooperation (IDEC), saya banyak berinteraksi dengan mahasiswa dari berbagai negara antara lain Jepang, Malaysia, Mesir, Afghanistan, Syria, Myanmar, Thailand, Laos, Bangladesh, Sri Lanka, Peru, Filipina, Pakistan, dan lain-lain.

Suatu ketika saat berada di Masjid As-Salam (nama lainnya: Hiroshima Islamic Cultural Center/HICC) selepas sholat Jumat saya melihat seorang mahasiswa asal negara lain yang saya kenal (dan dia kenal saya) menghampiri siapa saja yang ditemuinya di dalam masjid untuk meminta tolong membantunya memperbaiki komputernya di lab kampus.

Sebagai informasi yang dimaksud lab adalah tempat/desk difasilitasi komputer yang disediakan kampus kepada mahasiswa tempat mereka belajar dan mengerjakan tugas-tugas kuliah. Setiap mahasiswa memiliki meja belajarnya sendiri.

Ini desk saya di lab kampus:

Saya melihat tidak seorang pun bisa atau punya waktu menolongnya. Kasihan, pikir saya.

Mahasiswa tentu perlu komputer, tanpa itu bagaimana bisa mengerjakan tugas kuliah?

Setelah beberapa saat sampai juga dia ke saya dan meminta tolong perihal komputernya.

Berhubung ada pengalaman dengan komputer karena pernah terlibat sedikit di rental komputer saya pikir mungkin bisa membantunya.

Kalau didengar dari keluhannya tampaknya komputernya perlu diinstal ulang.

Saya percaya diri menyanggupi membantunya.

Baik, saya akan coba bantu.” kata saya menyanggupi.

Terima kasih, apa sekarang bisa datang ke lab saya?” tanyanya.

Ok” jawab saya.

Maka siang itu kami dari masjid langsung menuju labnya untuk mengecek komputernya.

Setelah pengecekan saya simpulkan komputernya hanya bisa diperbaiki dengan instal ulang.

Baiklah, proses instal ulang akan dimulai.

Pasti berhasil pikir saya.

Yang ternyata tidak.

Tidak berhasil!

Eh… kenapa ya, pikir saya. Seperti dibilang barusan jam terbang instal ulang saya cukup tinggi. Tetapi kenapa kali ini gagal?

Dugaan saya DVD installer-nya tidak terbaca.

Berhubung mahasiswa yang saya bantu ini tidak punya DVD kosong maka saya pergi ke koperasi kampus membeli DVD kosong. Jarak lab ke koperasi sekitar 100 meter.

Setelah membeli DVD saya mengopi isi DVD installer ke DVD kosong. Kemudian mencoba lagi instal ulang.. yang ternyata lagi-lagi tidak berhasil.

Ini sepertinya mesti pakai flashdisk, pikir saya. Sepertinya pembaca DVD di komputernya tidak bekerja dengan baik.

Berhubung dia tidak punya flashdisk dan punya saya tertinggal di apato (apartemen) maka saya kembali ke koperasi kampus membeli flashdisk.

Kemudian saya coba menginstal dengan flashdisk yang sudah diisi file installer.

Alhamdulillah kali ini berhasil.

Akan tetapi yang tidak saya duga ternyata komputer tersebut minta di-update dengan cara memaksa. Tidak ada pilihan ‘stop‘.

Begitu di-restart komputernya ter-update otomatis yang ternyata memakan waktu lama sekalipun jaringan internet di Jepang sangat cepat.

Tiba-tiba ada perasaan tidak nyaman, ada yang salah kah sampai-sampai sejak jam 2 tadi saya bantu kok kini jam 8 malam belum selesai juga.

Ya, benar, tahu-tahu sudah jam 8 malam!

Sebenarnya update tersebut tinggal menunggu tuntas saja karena toh di layar juga ada persentase progresnya. Ini hanya soal kesabaran menunggu saja.

Sayangnya saya mulai pening dan lelah.

Saya mau pamit pulang ke apato dulu. Besok akan dilanjutkan lagi.

Ini sudah selesai sebenarnya, tetapi barusan komputernya update otomatis dan saya tidak bisa menghentikannya. Sekarang kamu hanya tinggal menunggu prosesnya selesai saja.” kata saya.

Tetapi dia menjawab, “Jangan, tolong jangan pergi dulu.

Tapi saya lelah, ini tak apa-apa kok, besok kalau diperlukan kita lanjut lagi.

Tetapi tangannya mulai menahan saya sambil bilang “please nanti saya traktir makan deh“.

Permintaan pulang dan melanjutkan besok saja ternyata menemui jalan buntu karena dia bersikeras meminta saya menunggu sampai proses update selesai.

Saya kesal tetapi menahan diri tidak marah. Padahal belum makan dari tadi siang.

Dia pun menyuguhi biskuit.

Sabar.. sabar..

Update berjalan sangat lama, percaya atau tidak ketika jam dinding menunjukkan pukul 10 malam update baru selesai.

Fiuh… “Saya pulang dulu ya ini sudah selesai.

Tunggu sebentar lagi, please.

Saya sungguh-sungguh lapar dan lelah tetapi masih ditahan juga.

Saya coba bersabar lagi.

Bukan hanya belum makan siang, tetapi juga belum makan malam.

Kali ini dia minta tolong diinstal software untuk menelepon internasional ke rumahnya, biasanya dia menggunakan software tersebut.

Kenapa lagi sih? Pikir saya, ketika saya coba instal tetapi tidak berhasil.

Akhirnya pada jam 12 malam komputernya berhasil diselesaikan.

Sejak jam 2 siang dan saya belum makan siang dan makan malam!

Malam itu juga saya berhasil keluar dari labnya. Kami pergi keluar kampus naik sepeda. “Tolong telepon temanmu, Arif, ajak dia makan bareng bersama kita.” katanya.

Arif adalah sesama orang Indonesia yang tinggal di sebelah kamar apato saya.

Ajak Arif? Hello? Jam segini paling juga dia sudah tidur.. Kalaupun enggak paling juga lagi asyik Skype-an dengan istrinya.

Hello ini jam 12 malam! Batin saya hampir meledak marah. Tahan nafas fiuhh..

Saya akhirnya mencoba menghubungi Arif dan ada suara mengantuk di sana yang tentunya tidak menyangka lewat tengah malam begini ada yang menelepon mengajak dinner. Arif menolak ajakan tersebut, as expected.

Singkat cerita kami berdua akhirnya makan malam (sekaligus makan siang) di Sukiya. Tempat favorit saya sebenarnya tetapi tentu akan lebih baik jika makan dalam keadaan lapar bukan dalam keadaan sangat lapar dan lelah.

Malam itu akhirnya saya bisa beristirahat tenang di futon (kasur tipis khas Jepang).

Tenang, nyaman, rasanya memang nikmat tidur saat tubuh sedang sangat lelah.

Tapi kedamaian itu tidak berlangsung lama sebab keesokan harinya dia menelepon saya.

Apa lagi sih?

Ternyata dia tidak berhasil masuk/login ke emailnya dan menurutnya masalah itu terjadi karena instal ulang yang saya lakukan.

What?! Apa hubungannya instal ulang dan tak bisa login email?

Tidak ada!

Hari itu saya putuskan tidak membantunya dan menghindarinya.

Saya yakin pasti masalah login itu akan segera selesai karena ya memang tidak ada hubungannya tidak bisa login email dengan instal ulang.

Wah, repot juga nih jangan-jangan kalau kelak ada masalah di komputernya semuanya dianggap menjadi kesalahan saya.

Kedamaian kembali terganggu ketika di keesokan paginya, jam 6 pagi, pintu apato saya diketok-ketoknya. Sambil suaranya terdengar memanggil nama saya.

Saya diam saja, pura-pura masih tidur dan tidak mendengar ketokan pintu yang sebenarnya tidak mungkin tidak terdengar karena lumayan kencang.

Setelah itu ada pesan masuk ke hape saya, rupanya dia mau bilang kalau masalah login itu sudah selesai.

Alhamdulillaah, lega… pikir saya. Padahal kan bisa menyampaikan lewat pesan ke hape tidak mesti jam 6 pagi ketok-ketok pintu.

Saya benar-benar bersyukur sudah selesai membantunya dan memutuskan tidak perlu membantunya lagi setelah mengetahui karakter orang yang saya bantu ini ternyata sungguh merepotkan lagi merugikan ketika dibantu.

* * *

2. “Kapan Dikirim?”

Cerita ini terjadi di lokasi dan waktu berbeda dengan cerita pertama.

Suatu ketika saya dimintai tolong seseorang membelikan tumbler/botol minum sebanyak 30 buah dari online store.

Alasannya dia sedang tidak bisa menggunakan kartu ATM-nya. Dia akan membayar cash ke saya, saya akan membayar pesanannya via transfer.

Saya pun menyanggupi membantunya.

Tetapi ternyata sebelum membantu membayari pesanannya saya juga mesti membantu mencarikan tumbler di fitur search di online store tersebut. Haduh.. saya kira tadinya sudah tinggal bayar saja.

Setelah berhasil menemukan tumbler diinginkan, kemudian saya order 30 botol tumbler tersebut. Selang waktu teramat sangat singkat sang peminta bantuan bertanya apa pesanannya sudah dikirim.

Eh, apa?!

Saya baru saja pesan 30 tumbler yang bahkan belum saya bayar, tetapi dia langsung nanya apa pesanannya sudah dikirim?

Saya pun melakukan pembayaran dan menunggu validasi pembayaran.

Tiba-tiba sang peminta tolong nanya lagi hal yang sama, apa barangnya sudah dikirim.

Barulah saya sadar sedang dimintai tolong seorang yang tidak mengetahui bagaimana cara online store bekerja.

Dia bahkan tidak memahami mustahilnya suatu barang bisa dikirim sesegera setelah klik order — tanpa membayarnya.

Ketidakpahamannya itu jadi mengganggu saya karena dia kemudian bilang 30 tumbler tersebut dibeli untuk sovenir pesta ulang tahun yang mana pesta ulang tahun itu diadakan besok.

Saya pun mencoba menjelaskan peluang terkirimnya barang tepat pada saat ulang tahun sekaligus juga kemungkinan barang tersebut tiba telat.

Saya mengasumsikan ketika dia meminta tolong yang dimaksud hanya membantu membayari saja.

Tetapi ternyata kenyamanan saya jadi terganggu karena sang peminta bantuan terus menanyakan perihal barang dibelinya. Sudah dikirim belum? Sudah dikirim belum? Kapan? Sudah belum?

* * *

3. Karena Keterbatasan Sumber Daya (Uang, Waktu, Energi)

Demikian kedua kisah di atas yang saya tidak ingin melupakannya sehingga menuangkannya ke dalam catatan.

Dan sekarang saya pindahkan catatan tersebut ke blog ini karena ada hikmah penting terdapat di sana.

Inilah poin-poin yang saya temukan, sebelum membantu atau menolong orang lain:

(1) Perhatikan kemampuan diri

Misalnya ketika menolong dengan bantuan tenaga, pastikan dalam keadaan punya cukup tenaga dan sehat.

Atau saat meminjami uang, pastikan uang tersebut uang lebih yang tidak diperlukan mendesak misalnya untuk membayar sekolah anak atau membiayai persalinan.

Demikian pula soal waktu apa sedang ada hal lain perlu dikerjakan atau tidak.

Tidak semua yang memerlukan bantuan dapat dibantu. Contohnya orang tersesat di gunung hendaknya dicari oleh orang-orang berpengalaman dan paham situasi. Kalau orang tidak punya pengalaman atau fisiknya sedang tidak fit ikut mencari bisa-bisa ikutan tersasar.

(2) Perhatikan karakter orang yang akan dibantu

Perlu menakar apa saya akan bisa menerima jika pihak yang ditolong atau dibantu ternyata malah merugikan.

Kerugian bukan sekadar tidak tahu berterima kasih, melainkan seperti kata pepatah ‘dikasih hati minta jantung’, ditolong malah melunjak, mengeksploitasi, bertindak sewenang-wenang kepada penolongnya baik sengaja maupun tidak.

Dalam contoh kasus di atas, menginstal ulang komputer itu biasanya bagi saya mudah, tetapi menginstal ulang komputer orang yang tidak peduli pada orang yang bersedia membantunya tanpa bayaran, sukarela, tidak peduli yang membantunya kelelahan dan kelaparan, well, menandakan telah membantu orang yang salah.

“Tidak dikatakan bersyukur pada Allah bagi siapa yang tidak tahu berterima kasih pada manusia.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Abu Daud dan Imam At-Tirmidzi).

Bisa juga kerugian tersebut berupa sikap annoying (menjengkelkan) akibat yang meminta tolong tidak memahami permintaan tolong apa yang dia sedang mintakan.

Karenanya,

(3) Pastikan orang yang meminta memahami apa yang diminta

Dalam cerita kedua, pihak peminta bantuan ternyata tidak mengerti apa yang sedang dimintatolongkan. Karenanya mengira begitu klik ‘order‘ barang di online store dalam hitungan detik barang yang dijual langsung dikirim penjualnya, bahkan ketika transfer pembayaran yang dilakukan belum selesai proses validasinya.

Penting memperhatikan ketiga hal di atas karena sebagai manusia biasa saya memiliki sumber daya (resources) terbatas: waktu, uang, dan energi terbatas.

Dengan keterbatasan tersebut tentu lebih bijaksana jika mencurahkan sumber daya dimiliki untuk hal tepat atau lebih penting.

Serta memelihara kewarasan diri.

Selain itu diri memiliki hak yang harus dipenuhi yaitu makan, tidur, istirahat, beribadah, dan lain-lain. After all kita hanya manusia biasa bukan?

Pada diri masing-masing ada hak orang-orang terdekat yang perlu dipenuhi yaitu ayah, ibu, istri, suami, dan anak-anak.

Membantu orang lain bukan berarti mengizinkan hak-hak tersebut tidak terpenuhi atau terbengkalai.

Ikhlas bukan berarti tidak memperhatikan sama sekali kepada siapa, tentang apa, serta bagaimana bantuan atau pertolongan diberikan.

Iqbal – Fana.Blog

Leave a Reply