Categories
Berhenti Sejenak

Diskusi Minimalism: tidak Mau atau tidak Mampu?

Sebenarnya tidak mau atau tidak mampu?

Dalam tulisan “Review Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up” yang saya tulis di blog ini seorang teman mendeskripsikan diri sebagai:

Seseorang yang mendapat nilai C di matkul Perekonomian Indonesia karena lebih suka liat2an sama anak IE daripada liatin penjelasan Ibu Sri Mulyani di depan ruang auditorium

menanyakan pertanyaan sangat bagus:

Satu pertanyaan besar, apakah perubahan besar dalam hidup elo, misalkan tidak membeli action figure dan tidak mendengarkan musik, adalah efek dari mengaplikasikan buku Marie Kondo? Atau efek dari memiliki tanggungan lain dalam hidup elo (yang sekarang ada dua dan mungkin akan bertambah di masa depan)?

Pertanyaan sangat bagus bukan? Sampai-sampai saya merasa perlu menuliskan kembali dalam bentuk tulisan baru.

Sebelum menjawab pertanyaan tersebut saya perlu menyampaikan 3 hal berikut:

Pertama, inti buku Marie Kondo adalah minimalism yaitu gaya hidup mengutamakan yang penting buat diri dan menyingkirkan yang mendistraksi/mengalihkan perhatian dari yang penting tersebut. Sedangkan kulitnya ‘beres-beres rumah’.

Ini perlu dipahami karena buku The Life-Changing Magic of Tidying Up bisa dilihat dari dua sisi, buku tentang teknik beres-beres rumah dan minimalism.

Terus terang saya tidak mengikuti seluruh cara beres-beres dianjurkan di dalam buku tersebut. Malah saya rasa tanpa membaca keseluruhan isi buku tersebut para pembacanya bisa mulai melakukan perubahan.

Saya lebih melihat buku ini sebagai buku yang mengenalkan pembacanya pada minimalism.

Kedua, minimalism itu fitrah manusia. Ini juga perlu dipahami sebab bagi orang yang pertama kali mengenal istilah ini mungkin akan merasa topik tersebut ekstrem dan sulit dilakukan.

Padahal saat lahir manusia tidak membawa apa-apa ke dunia ini. Saat mati juga tidak membawa apa-apa dari dunia ini.

Meski minimalism belakangan ini terkesan dianggap bagian dari kultur Jepang, dalam Islam sendiri sebenarnya minimalism dalam arti mengutamakan yang penting dan meninggalkan yang tidak penting mestinya tidak terdengar asing.

Bukankah seorang muslim diajarkan mengutamakan urusan penting yaitu perintah dan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meninggalkan apa yang melalaikan dari yang penting tersebut?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

Karena minimalism fitrah tidak sedikit orang tidak merasa kesulitan dan malah surprisingly merasa nyaman dengan minimalism.

Ternyata bisa hidup nyaman tanpa hal-hal yang selama ini dikira tidak akan bisa hidup nyaman tanpanya.

Ketiga, buku Marie Kondo hanya salah satu, bukan satu-satunya sarana yang bisa men-trigger atau mendorong orang meninjau kembali apa yang penting dan apa yang menjauhkan dari hal penting itu.

Adapun untuk case saya, significantly dipengaruhi buku tersebut.

Malah ada beberapa orang Indonesia membangun gerakan dan metode Gemar Rapi setelah terinspirasi metode KonMari-nya Marie Kondo. Mereka kemudian berinisiatif merancang metode berbenah yang lebih pas untuk orang Indonesia.

Baiklah, saya akan menjawab pertanyaan tadi dengan membaginya menjadi 2 bagian.

Pertama, tentang apakah berkurangnya keinginan membeli action figure disebabkan pengaruh membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ataukah karena saat ini telah memiliki ‘tanggungan’? Saat membuat tulisan ini saya baru dua tahun menikah dan baru memiliki anak yang masih bayi.

Action figure adalah mainan koleksi berbentuk orang atau robot karakter di film, buku komik, atau game baik tokoh nyata maupun tokoh rekaan.

Ini contohnya:

Robot terlihat galak ini juga termasuk action figure:

Kedua, apa yang melatarbelakangi saya sekarang jarang mendengarkan musik jika dibandingkan di masa lalu. Bagaimana buku Marie Kondo berpengaruh di sisi ini?

* * *

1. Kalau Punya Uang 1 Milyar Apa Saya akan Membelinya?

Ada 1 smartphone impian saya: Google Pixel.

Ini penampakannya:

Source & Copyright: Kazuhisa Otsubo (flickr.com/photos/cytech/) This file is licensed under the Creative Commons Attribution 2.0 Generic license.

Saya suka Google as a company maupun produk-produknya.

Di antara produk Google ‘yang sempurna’ di dunia misalnya Gmail, Youtube, Blogger, dan Google Maps.

Google punya data center yang dirancang sendiri hardware servernya.

Jadi saya penasaran dengan smartphone Google Pixel yang untuk pertama kali Google rancang sendiri hardwarenya, tadinya kan mereka hanya pasang label Nexus saja di smartphone bikinan pihak ketiga.

Tetapi… harganya mahal 20 jutaan. Saya tidak beli karena tidak punya uang untuk itu.

Kalau punya uang 1 milyar pastinya akan beli Google Pixel. Hal yang sama juga dengan Iphone, saya sekarang pakai Android merk tertentu karena tidak sanggup mengikuti harga Iphone terbaru.

Bagaimana dengan action figure?

Kalaupun punya uang 1 milyar belum tentu saya beli.

Saya harus punya alasan kenapa pengen beli.

Di antara alasan itu misalnya jika action figure itu robot Godaikin Goggle V keluaran tahun 1983 legendaris, for the sake of nostalgia, bukan buy for the sake of buy.

Terlihat kan bedanya tidak beli karena tidak punya uang untuk membelinya (Google Pixel, Iphone) atau karena sudah ada tanggungan dengan tidak beli karena memang simply tidak ingin membelinya?

Buku Marie Kondo mengajarkan pembacanya buat bertanya kepada diri sendiri kenapa membeli benda-benda itu? Terus bertanya sampai pada pertanyaan final: apa yakin dengan memiliki benda-benda itu akan dapat joy.

Konsep metode KonMari yang dibangun oleh Marie Kondo mensyaratkan suatu barang memancarkan kebahagiaan (dia menyebutnya spark joy) untuk dapat dipertahankan. Hidup akan jauh lebih baik ketika dikelilingi hanya barang-barang yang menimbulkan joy.

Bicara tentang joy mari lanjutkan diskusinya ke bagian kedua tulisan ini.

* * *

2. Ingin Lebih Dekat dengan Al-Qur’an

Selanjutnya, apa yang melatarbelakangi saya sekarang jarang mendengarkan musik jika dibandingkan di masa lalu?

Bagaimana buku Marie Kondo berpengaruh dalam hal ini?

Pertama, mulai dari beres-beres rumah dan di situ saya menyingkirkan koleksi kaset dan CD karena lagu-lagunya sudah ada mp3-nya semua.

Buku Marie Kondo ‘menantang’ pembacanya membuang benda tidak menimbulkan joy.

Meski keliatannya berat tetapi saya tetap coba lakukan dan surprisingly hati malah jadi plong.

Kedua, dari mp3 yang ada saya mulai menyortir lagi karena technically ternyata tidak akan mungkin mendengar semua lagu itu.

Yang pasti perlu membuang dari playlist lagu-lagu yang liriknya buruk meski aransemen musiknya bagus.

Ternyata hanya ada 10 lagu favorit saja benar-benar saya nikmati. Maka saya delete sisanya karena toh nanti kalau ingin dengar lagi bisa cari di Youtube.

Kesepuluh lagu tersisa tersebut lagu yang benar-benar biasa didengar berulang kali: aransemen musiknya keren, pembagian harmoni suaranya mantap, dan liriknya sangat mengena.

Ketiga, mempertanyakan apa benar saya merasa nyaman dengan lagu-lagu itu.

Ternyata saya dapati keasyikan mendengarkan musik ada trade-off-nya dengan keasyikan mendengarkan Al Qur’an.

Yang saya rasakan sendiri mendengar lantunan Al Qur’an terasa monoton ketika kuping saya terlalu terbiasa mendengar musik kaya warna.

Padahal saya ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an sebab kedekatan itu memberi joy jauh lebih besar daripada joy diperoleh dari mendengarkan musik.

Selain itu jika diperhatikan ketika hati lagi galau rasanya akan semakin syahdu jika mendengarkan lagu-lagu galau, terasa perih tetapi nikmat.

Ada sensasi tersendiri. Tetapi jujur saja, rasa galau itu malah jadi semakin meningkat.

Seorang sahabat yang sedang ditimpa masalah berat pernah mengatakan hal sama, saat merasa galau adakalanya dia terdorong mendengarkan musik-musik galau seakan lagu tersebut menjadi theme song kehidupan dirinya dan saat itu lirik lagu tersebut semakin mengena.

Namun lanjutnya, jika bicara kebermanfaatan secara riil, secara nyata, yang terjadi malah lagu-lagu tersebut bukannya menghilangkan kegalauan hatinya malah memperparahnya.

Keempat, secara eksplisit Marie Kondo bilang di bukunya tidak merekomendasikan beres-beres sambil dengar musik karena akan mengganggu konsentrasi dan proses berpikir menentukan mana yang joy mana yang tidak.

Saya mencoba menerapkan hal tersebut saat beres-beres yaitu beres-beres tanpa mendengarkan musik, tidak seperti sebelum-sebelumnya.

Hasilnya saya merasakan sendiri ada perbedaannya, jadi lebih bisa berpikir mana akan dipertahankan mana akan dibuang.

Hal sama juga dirasakan saat mengerjakan pekerjaan memerlukan berpikir, misalnya membuat tulisan, yaitu jika mengerjakannya tanpa mendengarkan musik jadi lebih bisa berpikir, konsentrasi, dan fokus.

Demikian menjawab pertanyaan seorang teman di tulisan Review The Life-Changing Magic of Tidying Up.

Iqbal – Fana.Blog

Leave a Reply