Pagi itu saya jogging sejauh 4 km.

Sebenarnya masih sanggup lari beberapa km lagi sayangnya ada hal lain perlu dikerjakan pagi itu sehingga memutuskan selesai.

Jogging olahraga favorit saya selain berenang. Kadang saya posting aktivitas olahraga di Instagram buat iseng-iseng saja.

Ini misalnya:

Atau ini:

View this post on Instagram

#play #breath #mainnafas

A post shared by Iqbal (Fana.Blog) (@kucingberas) on

Seru kan? Jangan lupa follow IG saya ya he he..

Kembali ke jogging..

Selepas jogging kaus olahraga saya basah oleh keringat. Sedemikian basahnya sampai lepek.

Untuk mengembalikan ritme nafas dan detak jantung ke normal saya berjalan kaki santai sambil mengatur nafas.

Rasanya segar menghirup udara pagi dan menikmati sinar matahari belum terik.

Sambil terus mengatur nafas, ritme jalan kaki saya bikin makin lambat. Keringat masih tetap menetes.

Dalam kondisi masih kuyup demikian seorang teman muncul dari arah depan menegur saya,

“Hei Bal, kamu kalo jogging jangan bengong begitu, yang semangat dong!”

Saya agak terkejut dan mati gaya tidak tahu mau menjawab apa. Akhirnya hanya cengengesan menjawab sekenanya.

“Eh iya.. saya bengong..”

Kalau dipikir-pikir sedari tadi saya tidak melihatnya. Sekalinya kami berpapasan dia bilang begitu.

Tetes keringat terus berjatuhan.

Ressha Gattai Diesel Oh (Fana.Blog)

Pagi itu menjadi momen refleksi.

Betapapun basahnya pakaian oleh keringat, seberapapun lelah dirasakan, ternyata itu semua belum tentu terlihat di mata orang lain.

Saya merasa tidak perlu menjawab sesungguhnya apalagi memperlihatkan aplikasi run tracker di smartphone menunjukkan angka 4,1 berarti pagi itu baru saja jogging sejauh 4,1 km.

Sedangkan tertulis juga angka 7 artinya pernah jogging 7 km di pekan lalu.

Pun tidak merasa perlu mengubek-ubek histori aplikasi tersebut untuk memperlihatkan pernah jogging 20 km.

Tidak perlu.

Karena itu hanya jogging. Tidak penting buat saya.

Tetapi saya membayangkan apa jadinya jika kelalaian melihat kenyataan tersebut terjadi untuk hal lainnya.

Bukankah sangat bisa terjadi?

Kelalaian seorang anak melihat perjuangan orang tuanya mencari nafkah serta mengasuh dan mendidiknya.

Kelalaian seorang suami melihat upaya istrinya yang ingin berbakti kepadanya.

Kelalaian seorang atasan melihat kerja keras bawahannya.

Dan banyak lagi.

Dalam hidup ini hal demikian dapat terjadi. Maka harus memastikan jangan sampai lalai melihat. Buka mata, buka telinga. Berhenti sejenak dan melihat lebih dekat.

Selain itu harus tetap terus melakukan amal-amal kebaikan dengan ikhlas. Tanpa mengharap pamrih dari seorang manusia pun, tanpa terlalu peduli pada celaan orang yang suka mencela, dan yakin pada janji Allah Subhanahu Wa Ta’ala.

“Bekerjalah kamu,

maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat pekerjaanmu itu,

dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata,

lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan.” (Al-Qur’an Surat At-Taubah ayat 105).

Iqbal – Fana.Blog

(update & quality control 27 Januari 2020)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: