Seporsi nasi plus ayam goreng tersaji di hadapan saya.

Masih panas.

Jumat malam itu saya sengaja mampir ke restoran cepat saji di salah satu mall di Bekasi merayakan datangnya akhir pekan.

Kisah ini terjadi beberapa tahun silam ketika saya baru lulus kuliah dan diterima kerja di Jakarta Selatan.

Setelah menerima gaji pertama salah satu yang ingin saya lakukan adalah makan ayam goreng resto cepat saji idaman masa kecil.

Semasa kecil dahulu saya berlangganan majalah Bobo. Di majalah anak-anak tersebut kadang-kadang ada iklan ayam goreng XYZ (bukan nama sebenarnya).

Kondisi keuangan keluarga saya di masa itu membuat resto XYZ jadi mewah.

Sekali waktu saya pernah mencicipinya saat ikut acara piknik sekolah dan makan siangnya ada ayam goreng XYZ. Enak, lezat.

Singkat cerita malam itu saya sedang bersiap menikmati ayam goreng impian masa kecil tampak nikmat dan terasa hangat tersaji di hadapan.

Saya membelinya dengan gaji pertama hasil jerih payah selama sebulan.

This is my perfect me time!

* * *

1. Terseret Masuk Jebakan Debat Media Sosial (Medsos)

Sambil menunggu sang ayam goreng berkurang panasnya saya mengeluarkan handphone dari saku.

Yang paling pertama dilihat adalah timeline Facebook.

Tak butuh waktu lama bagi mata saya untuk menangkap status seorang teman FB mengomentari suatu kejadian yang baru saja viral di hari itu, berita negatif tentang salah seorang tokoh.

Teman FB saya (sebut saja ‘D’, bukan nama sebenarnya) mengomentari kejadian tersebut dengan mengolok-olok sang tokoh.

Karena merasa kenal sosok sedang viral tersebut (kenal karya tulisnya serta kiprah organisasi tempatnya beraktivitas, bukan kenal langsung orangnya) saya merasa perlu mencegah status olok-olok D.

Kejadiannya sendiri kan belum benar-benar jelas. Di dunia maya informasi cepat menyebar meski belum pasti kebenarannya.

Saya mengomentari status sang teman FB. Mencoba mengingatkan berhati-hati dalam mengomentari apa yang dia tidak tahu pasti terlebih mengomentari dengan ejekan-ejekan.

Apa yang terjadi? Ternyata D tidak terima malah mendebat saya.

Tak perlu waktu lama bagi status FB-nya untuk memancing komentar-komentar lainnya. Kini teman-teman FB-nya yang lain turut berkomentar.

Rata-rata sepakat dengan yang saya utarakan, agar menahan diri dari melecehkan seorang yang selama ini dikenal sebagai tokoh baik-baik namun baru sekali itu saja dapat berita negatif.

Masalahnya baik menurut saya belum tentu baik menurut D.

Maka terjadilah debat berkepanjangan.

Jari saya terus mengetik, jari D terus mengetik, jari-jari teman-teman FB-nya yang lain juga terus mengetik.

Komentar demi komentar ditulis.

Debat panas, sepanas ayam goreng di hadapan saya tadi.

Sakura dan Kintaikyo Bridge di Iwakuni (Fana.Blog)

* * *

2. Lenyapnya Ayam Goreng Impian

Well, saya jadi teringat sedang berhadapan dengan ayam goreng impian.

Yang ternyata..

Sudah ludes.

Ya, benar, ayam goreng impian masa kecil sudah tandas, habis, tinggal tulangnya saja.

Lha, kok bisa?

Siapa yang makan?

Wait, apakah ini kisah horor?

Tentu bukan.

Ternyata ayam goreng tersebut habis dimakan oleh..

Saya sendiri.

Ya, saya lah yang makan ayam goreng tersebut tanpa sadar.

Ternyata selama mengetik dan tenggelam dalam perdebatan, merancang kata-kata untuk lempar ke form komentar, tanpa sadar tangan saya mengambil sang ayam goreng tersebut dan menyantapnya.

Tanpa terasa kenikmatannya sama sekali.

Malam itu momen indah bersama ayam goreng telah rusak.

Momen istimewa pemenuhan impian masa kecil telah dicuri oleh perdebatan di Facebook.

Sebenarnya bisa saja memesan lagi seporsi ayam goreng, kalau perlu dua porsi sebagai pembalasan lenyapnya ayam goreng, akan tetapi malam itu saya memutuskan pulang ke rumah saja.

Menyesal sekaligus senang.

Menyesal karena momen akhir pekan istimewa telah rusak. Tetapi sekaligus senang karena mendapat pelajaran berharga.

* * *

3. Debat di Dunia Maya Bisa Melalaikan Seseorang dari Hal Penting

Betapa tenggelam dalam perdebatan dunia maya menyebabkan perhatian teralih.

Bukan hanya perhatian melainkan juga kebahagiaan yang already ada di hadapan.

Sang penulis status FB barusan, tidak diketahui bagaimana kondisinya saat menulis status tersebut, sedang bahagiakah, sedang laparkah, sedang sedihkah, sedang kecewakah.. whatever.

Tetapi yang pasti bagaimanapun dia berhasil mengajak saya terseret ke dalam aura negatif.

Saya tidak ingin melupakan kejadian tersebut begitu saja, memutuskan terus mengingatnya.

Lebih dari itu saya juga mengirim pesan pribadi (japri) kepada D menyampaikan permohonan maaf telah berdebat dengannya.

Membangun prasasti imajiner bahwa hari itu saya belajar sesuatu sangat penting. Agar saya mengingat hadits ini:

“Saya memberikan jaminan rumah di pinggiran surga bagi orang yang meninggalkan perdebatan walaupun dia orang yang benar.

Saya memberikan jaminan rumah di tengah surga bagi orang yang meninggalkan kedustaan walaupun dia bercanda.

Saya memberikan jaminan rumah di surga yang tinggi bagi orang yang membaguskan akhlaqnya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Abu Dawud).

Malam itu saya hanya kehilangan ayam goreng yang insya Allah bisa beli lagi saat itu juga maupun di lain waktu.

Akan tetapi saya membayangkan bagaimana jika lain waktu saya tenggelam dalam perdebatan kemudian kehilangan hal-hal yang jauh lebih penting.

Saya membayangkan diri saya sedang berdebat di medsos sambil bermain dengan anak saya (main hujan-hujanan misalnya), atau sambil makan malam bersama istri, atau sambil ngobrol santai dengan ibu saya.

Fisik saya bersama mereka tetapi jiwa sedang bertempur di dunia maya.

Mending ngopi-ngopi santai daripada debat panas tak ada gunanya. Atau membaca dan menghafal Al-Qur’an yang merupakan pekerjaan seumur hidup.

Minum Kopi Berdua Kebersamaan (Fana.Blog)

Apalagi jika hal itu telah menjadi hobi, akut, tenggelam dalam perdebatan tidak jelas manfaatnya tetapi sudah pasti kerugiannya.

Hanya membayangkannya saja terasa malas.

Sungguh debat di dunia maya mengalihkan perhatian dari hal-hal yang jauh lebih penting. Hal yang benar-benar berharga.

Debat media sosial (medsos) bisa melalaikan seseorang dari hal-hal penting. Ketika tenggelam dalam debat, fisik terlihat bersama, pikiran melayang bertempur di dunia maya.

Lebih baik terus bekerja, berkarya, dan bergerak nyata.

Iqbal – Fana.Blog

(update & quality control 27 Januari 2020)

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: