Ilustrasi Lelah (Fana.Blog)

Penyebab Rumah Berantakan: Perspektif Minimalism

Scroll down to content

“Bal, mulai terasa?”

“Sudah..” jawab saya sambil menggesek punggung kaki kanan yang mulai terasa gatal dengan telapak kaki kiri.

“Saya juga sudah.. tetapi sebentar lagi yah.”

“Oke.”

Teman saya meneruskan permainan game komputernya.

Beberapa tahun lalu saya dan teman saya, sebut saja Awan (bukan nama sebenarnya), tinggal bersama di satu kamar kosan.

Kami sama-sama kuliah S1 di Universitas Indonesia.

Untuk menghemat living cost kami tinggal 1 kosan terlebih kami berasal dari SMA yang sama di Bekasi.

Kami tidak punya komputer. Dibanding sekarang di masa itu masih banyak mahasiswa tidak punya komputer desktop atau laptop.

Untuk keperluan mengetik kami berdua biasa mengetik di lab komputer fakultas masing-masing, saya di Fakultas Ekonomi, Awan di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam.

Selain di lab fakultas kami sering mengetik di rental komputer maupun warung internet serta main ke kosan teman yang punya komputer.

Di tahun akhir kuliah Awan sering menumpang mengetik di kosan temannya yang baik hati dan punya komputer.

Di komputer itu Awan juga diizinkan menginstal game favoritnya. Jadi selesai mengetik tugas kuliah dia main game di komputer itu.

Belakangan saya juga ikut bersama Awan main ke kosan temannya untuk main game.

Tanpa mengurangi rasa terima kasih kami berdua sudah diizinkan main komputer di kosan temannya Awan, tidak bisa dimungkiri kamar kosan temannya Awan ini berantakan. Buku-buku berserakan di kasur dan lantai.

Sebenarnya kamar kosan saya dan Awan juga berantakan malah lebih parah karena kami meletakkan barang-barang seperti buku, tas, gelas, dan sebagainya di atas kasur serta menumpuk sampah untuk dibuang sekaligus.

Yang membedakan dan cukup membingungkan jari dan telapak tangan dan kaki kami terasa gatal jika kelamaan berada di kosan temannya Awan.

Hadirnya rasa gatal tersebut kami jadikan tanda harus segera pulang. Pulang kembali ke kamar kosan saya dan Awan, berantakan sampah air mineral dan kertas-kertas.

Persamaan lainnya selain sama-sama tinggal di kosan berantakan kami sama-sama belum menikah, masih mahasiswa singel, dan tentunya belum punya anak.

Dengan penekanan pada ‘belum punya anak’ yang menjadi topik bahasan tulisan ini.

Saat itu kami bertiga belum punya anak tetapi kamar kosan kami berantakan.

* * *

1. Rumah Tinggal atau Rumah Pameran?

Cerita di atas pengantar bagi saya menyampaikan tanggapan atas pendapat yang pernah saya jumpai dibagikan di media sosial.

Postingan tersebut membandingkan rumah rapi dan rumah berantakan. Kemudian menyimpulkan:

rumah berantakan adalah rumah tinggal di mana di dalamnya ada anak-anak bermain dan menyalurkan kreativitasnya,

sedangkan..

rumah rapi adalah rumah pameran di mana anak-anak tidak bebas bermain. Rumah rapi mengekang kebebasan anak-anak dalam berkreasi.

Akan tetapi tanpa mengurangi apresiasi kepada penulis artikel tersebut yang mengkampanyekan memberi ruang gerak kepada anak-anak agar mereka bisa aktif bermain dan tumbuh kembang kreativitasnya, serta tidak bermaksud berdebat melainkan berdiskusi positif, saya utarakan di sini saya tidak sependapat dengan pendapat tersebut karena terkesan menjadikan keberadaan anak-anak dan aktivitas mereka penyebab utama rumah berantakan.

Kisah kamar-kamar kosan di atas menjadi contoh sederhana keberantakan tidak identik dengan keberadaan anak-anak dan aktivitasnya.

Tanpa mereka pun kamar kosan, rumah, apa pun itu, bisa berantakan.

Tentunya contoh semacam ini tidak terlalu sulit ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.

Tulisan ini bermaksud mengungkap penyebab rumah berantakan dari perspektif minimalism. Saya pemerhati minimalism dan itulah yang menjadi salah satu misi saya dengan blog ini.

* * *

2. Penyebab Berantakan: Barang Tidak Diinginkan atau Dibutuhkan

Memahami akar permasalahan rumah berantakan dapat membantu mencegah kegagalan beres-beres, bersih-bersih, dan merapikan rumah. Yakni setelah melakukan itu semua rumah kembali terlihat berantakan.

Saya menyarankan kesimpulan lain yang merupakan prinsip hidup minimalis:

“Rumah berantakan bisa disebabkan adanya barang-barang tidak diperlukan.”

Jika pernah membaca buku Marie Kondo yang reviewnya saya tulis di blog ini (silakan baca: Review The Life-Changing Magic of Tidying Up) rumah berantakan adalah:

“Rumah yang diisi barang-barang tidak sparks joy.”

O iya, buku tersebut termasuk buku yang menginspirasi saya sampai-sampai terkadang saya membagikannya gratis sebagai hadiah.

Menurut Marie Kondo spark joy artinya menimbulkan rasa bahagia dengan memiliki atau melihatnya.

Mari amati foto berikut:

Penyebab Rumah Berantakan (Fana.Blog)

Apa ruangan tersebut berantakan?

Mungkin ini relatif, menurut saya sih ruangan itu cukup berantakan.

Saya mencoba menganalisa berapa barang milik anak-anak di sini.

Ternyata hanya dua bouncer bayi saja.

Setelah diinvestigasi ada beberapa barang membuat ruangan ini tampak berantakan dan itu bukan barang milik anak-anak.

Apa saja itu? Lemari yang sebenarnya sudah tidak terpakai karena isinya keropos, plastik dan barang-barang di atas lemari, kardus besar tidak terpakai di letakkan di sisi lemari.

Dengan mengeluarkan barang-barang tersebut ruangan tampak lebih luas. Dan itu membuat pikiran penghuninya menjadi lebih segar. Hati lebih plong.

Ruangan penuh barang-barang tidak memberi kebahagiaan (spark joy) atau tidak diperlukan akan menjadi ruangan berantakan sejak awal.

Saatnya memperhatikan barang-barang apa yang ada di sekeliling dan temukan barang apa saja yang sebenarnya tidak diperlukan, misalnya barang yang dibeli karena sekadar ingin beli, punya uang, dan mudah membelinya, bukan karena benar-benar menginginkan atau membutuhkannya.

Saat anak-anak bermain atau mengeluarkan alat-alat permainannya: boneka, robot-robotan, mobil-mobilan, dan lain-lain bisa jadi semua itu hanya memakan tempat sedikit saja.

Tetapi pikiran ‘bawah sadar’ ketika melihat suasana tersebut sebenarnya melihat benda-benda tidak spark joy dan tidak terpakai yang sejak awal memenuhi ruangan, sehingga menganggap ruangan tersebut berantakan.

Dan terkadang dengan mudahnya menganggap aktivitas anak-anak tersebut sebagai penyebabnya, padahal barang-barang tidak spark joy dan tidak terpakailah yang sejak awal menjadi akar permasalahan.

Keberadaan anak-anak dan aktivitas anak-anak semestinya tidak serta-merta menjadi penyebab rumah berantakan kecuali jika yang mereka mainkan memang apa-apa yang bukan mainan, misalnya tepung terigu ditebar ke lantai, tanah lumpur dari sawah, atau cat tembok.

Mereka bisa bermain hujan-hujanan misalnya atau bermain lego, sepak bola, rubrik, banyak lagi.

Mari perhatikan foto di bawah ini.

Penyebab Rumah Berantakan (Fana.Blog)

Foto di atas adalah halaman sebuah rumah di mana anak-anak sering bermain bola dan main air. Tetapi tampak rapi karena dengan minimnya barang-barang tidak terpakai akan jauh lebih mudah merapikan hasil permainan anak-anak.

Penyebab Rumah Berantakan (Fana.Blog)

Dengan demikian rumah berantakan tidak melulu disebabkan keberadaan anak-anak dan aktivitasnya.

Mereka bisa tetap bermain dan berkreativitas tanpa membuat segalanya menjadi berantakan.

Sebab barangkali keberantakan itu lebih disebabkan menyimpan barang-barang tidak spark joy serta sudah tidak terpakai.

Sebagai kesimpulan, rumah jadi berantakan karena aktivitas anak-anak? Bisa iya bisa tidak. Yang jelas ruangan penuh barang tidak diinginkan, tidak membawa kebahagiaan, atau tidak diperlukan akan menjadi ruangan berantakan sejak awal.

Iqbal – Fana.Blog

(update & quality control 27 Januari 2020)

2 Replies to “Penyebab Rumah Berantakan: Perspektif Minimalism”

  1. Bismillah, setuju dengan pendapat pak Iqbal. menurut saya, sebagai seorang wanita dan Ibu, keberadaan anak tidak lantas menjadikan kita alasan untuk membuat rumah “stagnan berantakan”. Memerlukan manajemen hati (untuk membuang spark joy) dan manajemen waktu juga kedisiplinan dalam setiap anggota keluarga kita. Barokallahu fiikum pak

    1. Betul bu. Semoga tulisan ini bermanfaat, aamiin.
      Maaf baru merespon komentarnya karena saya baru migrasi domain blog ini ke “fana.blog” biar lebih sesuai dengan konsep blog ini.

Leave a Reply

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.

%d bloggers like this: