Categories
Review

Review The Life-Changing Magic of Tidying Up

Mungkin review paling lengkap buku The Life-Changing Magic of Tidying Up.

Saat menemukan buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing di rak sebuah toko buku saya segera berlari ke meja informasi, meraih mikrofon, berseru lantang:

“Mohon perhatian, segera beli buku The Life-Changing Magic of Tidying Up sekarang juga. Thank me later!”

Tetapi itu hanya imajinasi saja.

Kenyataannya saya tetap berdiri elegan di depan rak buku tersebut. Hanya tersenyum mata berbinar.

Buku yang diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Bentang dengan judul The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang tersebut karya fenomenal Marie Kondo, konsultan beres-beres atau merapikan rumah asal Jepang.

Ini penampakan cover bukunya:

Tunggu, konsultan beres-beres rumah, ada ya profesi itu?

Ternyata ada. Malah Marie Kondo punya banyak sekali klien konsultasi cara merapikan rumah berantakan.

Bukunya terjual lebih dari 5 juta kopi di seluruh dunia dan disebut-sebut sebagai buku inspiratif membantu banyak pembacanya.

Karena itu saya terkesan dan ingin banyak orang turut membaca dan menerapkan isinya.

Saking ingin orang lain membacanya saya pernah membeli buku itu beberapa buah untuk diberikan kepada orang-orang terdekat.

Secara cuma-cuma alias gratis.

Kenapa saya lakukan itu?

Seperti dibilang tadi buku The Life-Changing Magic of Tidying Up telah membantu pembacanya. Tetapi sebenarnya bukan hanya membantu merapikan rumah melainkan juga merapikan hidup berantakan.

Karena tidak ingin menyimpan sendiri inspirasi itu saya menyarankan orang-orang terdekat membacanya karena mungkin akan bermanfaat sebagaimana buku tersebut bermanfaat untuk saya.

Melihat antusiasme saya merekomendasikan buku tersebut ada yang lantas penasaran sehingga mencarinya.

Kemudian setelah membaca buku tersebut ada yang menulis review di blog atau status Facebooknya. Ada juga yang menceritakan progres perkembangan beres-beresnya. Respon yang bikin semakin semangat menyebarkan inspirasi.

Tetapi tidak semua respon sesuai ekspektasi.

“Wah.. kayanya bagus bukunya. Jadi pengen baca. Tetapi masih ada prioritas lain untuk dibeli..”

“Bagus banget.. tetapi belum sempat beli.”

“Keren, nanti deh cari bukunya. Kamu punya file pdf-nya enggak? Bagi link downloadnya dong?”

Respon semacam ini bikin saya tidak sabar.

Malah ada yang skeptis,

“Mengubah diri kok dengan beres-beres, gimana ceritanya??”

Sayang kalau buku ini dilewatkan begitu saja.

Dalam hati saya bilang,

“Give it a try and see what happens!”

Tahun 2012-2014 saya memperoleh kesempatan kuliah di Hiroshima University Jepang.

Lalu tahun 2016 tak sengaja saya menemukan buku karangan Marie Kondo tersebut di Google Play Book dan membelinya.

Guess what? Saya terinspirasi dan menyesal kenapa baru belakangan menemukannya.

Kenapa setelah dua tahun pulang ke Indonesia baru menemukan buku itu?

Kenapa tidak dari dulu?

Jika membaca lebih awal sepertinya akan membuat perbedaan signifikan pada apa yang saya lakukan selama tinggal di Jepang maupun setelahnya.

Mungkin saya akan membelanjakan sumber daya yang saya miliki: uang, waktu, tenaga pada yang benar-benar penting dan memberi kebahagiaan.

Bukan berarti kehidupan saya di Jepang selama dua tahun tidak menyenangkan. Malah sangat menyenangkan dan membekali pengalaman dan inspirasi. Silakan lihat halaman ‘About’ blog ini, saat menjadi mahasiswa di Jepang saya melibatkan diri pada berbagai aktivitas: Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC) atau Hiroshima Muslim Association, Keluarga Muslim Indonesia di Hiroshima di Jepang (KMIH), Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang Komisariat Hiroshima (PPIH), mengajar di Children Class HICC, mengajar di SD Jepang, dan tentu saja kuliah Hiroshima University itu sendiri.

Hanya saja ada momen-momen penting terlewati begitu saja karena belum menyadarinya dan itu baru disadari setelah membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up.

Dan itu membuat saya menyesal.

Penyesalan datang belakangan biarlah menjadi pelajaran. Ada joke bilang penyesalan memang datang belakangan karena jika duluan namanya pendaftaran.

Saya bertekad berubah dan ingin mencegah penyesalan yang sama serta mengajak orang-orang terdekat sama-sama berubah.

Belajar bertahap memperhatikan yang benar-benar penting dan mengurangi bahkan meninggalkan yang menghalangi yang penting tersebut.

Menata ulang hidup berantakan. Mengumpulkan kembali kepingan-kepingan yang berserakan tercerai berai.

Maka saya pergi ke toko buku dan beli beberapa buah buku The Life-Changing Magic of Tidying Up untuk dibagikan.

Secara gratis!

Dengan semangat menyebarkan inspirasi saya akan mengulas buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing dalam 7 bagian:

1Perubahan yang Saya dan Orang Lain Alami
2Tentang Marie Kondo Penulis Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up
3Kesan Pertama pada Minimalism dan Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up
4Cara Beres-Beres Metode KonMari: “Does This Spark Joy?
5Mengubah Hidup dengan Beres-Beres: Bagaimana Caranya?
6Dua Catatan Penting: (1) Pahami Prinsip KonMari sebelum Mulai Beres-Beres (2) Bersyukur Kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala
7Kesimpulan: Beli atau Pinjam?
8Di Mana Download Pdf File Buku Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up?

* * *

1. Perubahan yang Saya dan Orang Lain Alami

Review ini jelas tidak lengkap jika saya bilang buku The Life-Changing Magic of Tidying Up mampu memberi pengaruh signifikan mengubah hidup pembacanya tetapi tidak memberi contoh perubahannya.

Perubahan apa yang saya alami?

Tidak akan menulis semuanya tetapi ini beberapa contoh di antara perubahan saya alami:

(1) berkurang keinginan beres-beres berlebihan

Sebelumnya saya seorang yang sepertinya memiliki Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Mungkin OCD tidak terlalu kuat (saya bilang ‘mungkin’ karena belum pernah konsultasi ke psikolog) tetapi saya menduga dari keadaan saya yang sering terobsesi mengepel lantai, membereskan meja, atau mengelap lemari action figure berulang-ulang. Buat yang punya OCD tentu paham.

Lho, rajin beres-beres kan bagus? Begitu mungkin pertanyaan yang timbul.

Pertanyaan wajar jika belum tahu OCD. Tetapi tidak, ini bukan beres-beres biasa.

Ini beres-beres berlebihan sama sekali bukan hal bagus karena waktu jadi terpakai aktivitas beres-beres tidak perlu.

Kebiasaan beres-beres semacam ini bukan hanya menimbulkan lelah fisik melainkan juga lelah pikiran.

Misalnya jadi merasa tidak nyaman ketika tidak beres-beres kamar kos sebelum berangkat kuliah di pagi hari padahal malamnya sudah beres-beres.

Tetapi alhamdulillah kini sudah tidak merasakan keinginan kuat mengepel lantai atau mengelap lemari pajangan action figure seperti dahulu lagi.

(2) berkurang keinginan membeli sesuatu hanya karena sekadar ‘ingin membeli

Sebelumnya saya penggemar mainan action figure. Membeli lemari kaca diisi sebanyak-banyaknya mainan action figure ke setiap sudut.

Action figure adalah mainan koleksi berbentuk orang atau robot karakter di film, buku komik, atau game baik tokoh nyata maupun tokoh rekaan.

Ini contohnya:

Perkenalan pertama dengan mainan action figure tahun 90-an saat saya masih SD. Sepulang kerja ayah membawa oleh-oleh mainan robot Mazinger-Z dan Kamen Rider Super One.

Keduanya mainan keren terbuat dari die-cast metal. Tangan robot Mazinger-Z bisa ditembakkan layaknya roket karena ada pegasnya. Sementara Kamen Rider Super One bisa diganti-ganti sarung tangannya dengan sarung tangan warna perak, merah, biru, hijau, dan emas, as seen on TV.

Tetapi sayangnya kedua mainan itu hilang entah kemana. Saya kehilangan mainan-mainan kesayangan.

Padahal untuk membeli mainan perlu menyisihkan uang jajan sekolah sehari-hari. Memperoleh mainan bukan hal mudah semudah meminta kemudian dibelikan karena keuangan keluarga serba ngepas.

Kemudahan membeli action figure baru dirasa saat sudah bekerja dan memperoleh uang sendiri.

Ditambah lagi di 2012-2014 saya mendapat kesempatan kuliah di Jepang seperti telah disinggung tadi. Saat itulah sering berburu mainan action figure karena, well, Jepang ‘surga’nya action figure.

Sebagian mainan dibeli karena punya nilai nostalgia kenangan masa kecil, alasan ampuh meyakinkan diri membeli mainan.

Akan tetapi kini jika dipikir-pikir lagi secara lebih mendalam ternyata dari sekian pembelian ada pembelian-pembelian yang lebih didorong alasan ‘sekadar ingin beli’.

Misalnya ketika iseng mengunjungi website Amazon JP lalu melihat mainan yang untuk membelinya tinggal klik saja dan bisa memilih kapan pesanan tersebut akan tiba di depan pintu apato (bahasa Jepangnya apartemen).

Atau saat main ke toko mainan baik baru maupun bekas (di Jepang barang-barang bekas memiliki kualitas bagus) ternyata menemukan mainan yang terasa seperti harta karun saat menemukannya yang mendorong saya membelinya.

Tanpa benar-benar memikirkan apa benar-benar menginginkannya atau sekadar keinginan sesaat.

Alhamdulillah setelah membiasakan beres-beres ala Marie Kondo sekarang dorongan membeli karena ‘sekadar ingin membeli’ mulai memudar.

Sekarang ada berbagai pertimbangan untuk membeli mainan action figure.

Apa mainan itu benar-benar istimewa?

Apa punya nilai sentimental/kenangan sehingga ingin membelinya?

Apa saya benar-benar suka?

Jika memang punya nilai sedemikian istimewanya maka silakan saja beli dengan mempertimbangkan anggaran tentunya.

Tetapi nyatanya saya sudah langka membeli mainan action figure karena semua pertanyaan di atas tidak berhasil dijawab “iya”. Karena memang merasa sudah tidak menginginkannya lagi. Termasuk mainan-mainan bernilai nostalgia, sudah kehilangan minat padanya.

Jika sebelumnya begitu antusias menonton review di Youtube mainan action figure terbaru yang ditunggu-tunggu rilisnya kini rasanya biasa saja.

Pertimbangan membeli sesuatu tersebut bukan hanya berlaku untuk action figure melainkan juga barang-barang lainnya.

Buku misalnya. Yang akan saya ulas di contoh perubahan berikutnya.

(3) berkurang keinginan membeli banyak buku dengan alasan ‘kapan-kapan akan dibaca’

Sebelumnya saya suka membeli buku, cukup banyak buku saya miliki. Tentu ini hal bagus, kebiasaan sangat bagus, jika buku-buku itu benar-benar saya baca.

Sayangnya hingga saat ini kebanyakan buku tersebut belum dibaca.

Setelah membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up saya menyadari ternyata dari sekian buku dimiliki hanya sedikit buku benar-benar dibaca, nikmati, dan terapkan. Sedangkan kebanyakan hanya memenuhi lemari menunggu dibaca.

Di bukunya Marie Kondo mengungkap pendapatnya yang menohok didasari pengalaman bertahun-tahun menangani klien beres-beres.

Begini katanya:

“Ketika seseorang bilang ‘siapa tahu saya akan membacanya kapan-kapan’ maka yang namanya ‘kapan-kapan’ itu tidak pernah datang.”

Di antara pembaca bukunya mungkin akan ada yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Sebab barangkali hobi membaca buku dan selalu melahap habis buku yang telah dibeli, atau pencinta buku yang senang dikelilingi buku, atau bisa juga ingin membangun perpustakaan keluarga.

Well, setiap orang punya karakteristik dan kebutuhannya masing-masing tentunya. Adapun untuk case saya ternyata pendapat Marie Kondo benar adanya.

Saya gemar membaca. Waktu kecil bahkan membaca tulisan di kemasan makanan atau kardus obat saking sukanya membaca.

Namun ternyata kini saya tidak punya energi yang cukup untuk melahap banyak buku dalam waktu singkat, pun tidak berminat membaca buku dengan cepat karena lebih suka menikmati buku bukan sekadar menyelesaikannya.

Dan ini juga menjadi faktor penting: saat menulis review ini saya sedang tidak punya ruangan memadai untuk menyimpan banyak buku.

Sekarang saya hanya membeli buku-buku yang punya impact, yang memberi nilai tambah bagi diri, maupun yang benar-benar bisa dinikmati.

Update: Akhir Februari 2020 saya mengalami kebanjiran, koleksi buku berjumlah ratusan rusak karena terendam. Minimalism yang salah satunya saya peroleh perspektifnya dari buku ini membantu saya lebih ringan untuk move on. Cerita (dan foto-foto) tentang ini dapat pembaca temukan pada artikel berjudul “Banjir, Rusaknya Ratusan Buku, Minimalism”

(4) bisa menikmati kesunyian

Sebelumnya saya suka menikmati musik di berbagai kesempatan atau aktivitas. Bukan hanya suka melainkan merasa butuh.

Saya tidak betah mendengar musik dari perangkat dengar (earphone/headphone) dan mp3 yang kualitasnya tidak bagus. Seakan telinga saya membedakan file mp3 lagu yang bit rate-nya 320 Kbps, 128 Kbps, atau 64 Kbps.

Untuk me-rip koleksi CD audio menjadi mp3 saya menggunakan software Exact Audio Copy dan Lame Mp3 Encoder serta bereksperimen menggunakan software lainnya.

Adapun untuk mendengar musik menggunakan earphone bagus namun masih terjangkau misalnya Sennheiser dan Zero Audio Carbo Tenor.

Ribet memang tetapi itu dahulu biasa saya lakukan.

Saya ceritakan kebiasaan saya dalam mendengarkan musik ini sebagai gambaran saya agak serius dengan aktivitas mendengarkan musik dan betapa aktivitas tersebut (pernah) sangat penting bagi saya.

Dalam beberapa kegiatan saya lebih suka melakukannya sambil mendengarkan musik. Misalnya saat jogging, tidak bisa menikmati jogging tanpa mendengarkan musik, rasanya hampa.

Saya juga senang mendengarkan musik di jelang tengah malam terutama lagu dengan lirik syahdu.

Dahulu saya punya waktu khusus mendengarkan musik yaitu setiap Ahad siang.

Tetapi kini jauh berbeda. Kini saya bisa menikmati kesunyian. Banyak hal bisa dilakukan diiringi kesunyian. Bisa menikmati jogging tanpa mendengarkan musik. Bisa menikmati kesunyian dan suara alam apa adanya. Saat menulis artikel ini pun saya duduk dan mengetik di tengah kesunyian.

Well, saya hanya memberi empat contoh perubahan saja dan tidak mengungkap terlalu detail dalam tulisan ini. Untuk uraian lebih lanjut silakan lihat tulisan di blog ini berjudul “Diskusi Minimalism: tidak Mau atau tidak Mampu?“.

Biarkan pembaca Fana.Blog membaca sendiri dan menerapkan isi buku The Life-Changing Magic of Tidying Up dan mendefinisikan sendiri perubahan masing-masing.

Dengan memberi contoh di atas saya bukan bermaksud mengatakan dengan membaca buku Marie Kondo orang bakal jadi berhenti mengoleksi action figure atau berhenti mendengarkan musik. Bukan itu.

Contoh-contoh barusan hanya menunjukkan buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ternyata punya potensi memformat pikiran dan menata ulang kehidupan seseorang yang terlihat dari perubahan persepsi atau preferensi yang sebelumnya terlihat sudah mapan.

Perubahan dari beres-beres tersebut dapat diarahkan sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing pembacanya.

Saya yakin jika ada seorang perokok berat ingin berhenti merokok dia insya Allah akan bisa secara total berhenti merokok dengan melakukan apa yang diuraikan buku tersebut.

Saya penggemar action figure, sejak kecil sudah suka, saat dewasa tertarik action figure karena punya nilai sentimental kenangan masa lalu, tidak mungkin kan saya jadi kehilangan minat pada action figure?

Ternyata mungkin saja.

Tadinya senang banget mendengarkan musik, bikin thesis, tugas kuliah, jogging, di perjalanan, maupun leyeh-leyeh bersantai di kasur, akan terasa nikmat jika diiringi musik.

Tadinya merasa perlu mendengarkan musik agar bisa terinspirasi, bersemangat, dan produktif.

Tetapi kini? Saya bisa menikmati melakukan berbagai hal di tengah kesunyian.

Ini menjadi bukti sederhana kebiasaan, kegemaran, dan preferensi seseorang bisa berubah.

Tinggal diarahkan saja perubahan itu sesuai dengan yang diyakini lebih baik.

Marie Kondo selain menulis buku juga menyediakan layanan kursus beres-beres secara privat one on one.

Mari simak perubahan dialami para pembaca bukunya dan peserta kursus tersebut.

Testimoni di bawah ini dapat ditemukan di halaman ‘Pendahuluan‘:

“Selepas mengikuti kursus Anda, saya berhenti bekerja dan memulai bisnis sendiri di bidang yang sudah saya cita-citakan sejak kecil.”

“Kursus Anda mengajarkan kepada saya untuk melihat apa saja yang sungguh saya butuhkan dan apa saja yang tidak saya perlukan. Jadi, saya lantas minta cerai. Sekarang saya merasa jauh lebih bahagia.”

“Seseorang yang ingin saya hubungi baru-baru ini mengontak saya.”

“Dengan gembira saya sampaikan bahwa sesudah membereskan apartemen, angka penjualan saya kian meningkat.”

“Saya dan suami kian rukun saja.”

“Mencengangkan bahwa membuang ini itu ternyata menimbulkan perubahan besar dalam diri saya.”

“Berat badan saya akhirnya turun lima kilogram.”

Menarik bukan? Dari sekadar beres-beres rumah ternyata punya dampak memperbaiki kehidupan pembaca buku dan peserta kursusnya.

O iya baru-baru ini saya menemukan buku bagus berjudul Gemar Rapi: Metode Berbenahnya Indonesia. Para penulisnya juga terinspirasi buku Marie Kondo. Silakan kunjungi review yang saya tulis “Review Gemar Rapi: Metode Berbenahnya Indonesia“. Menurut saya buku Gemar Rapi merupakan buku yang layak dimiliki para minimalist enthusiast di Indonesia.

* * *

2. Tentang Marie Kondo Penulis Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ditulis oleh orang Jepang bernama Marie Kondo.

Sejak usia 5 tahun Marie Kondo mulai baca majalah interior dan gaya hidup.

Kegemaran itulah yang membuatnya terinspirasi, di usia 15 tahun dia mulai melakukan penelitian serius tentang beres-beres dan pada akhirnya mengembangkan metode KonMari yang berasal dari kombinasi nama depan dan belakangnya.

Sekarang Marie Kondo menjadi seorang konsultan dan menyediakan kursus beres-beres privat one on one (individual).

Dia menghabiskan sebagian besar waktunya mengunjungi rumah-rumah dan kantor-kantor kliennya, memberi saran kepada orang-orang yang merasa kesulitan beres-beres, yang melakukan beres-beres tetapi mengalami rebound, berantakan lagi berantakan lagi, maupun yang ingin melakukan beres-beres tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Saat saya membaca buku tersebut di 2016 silam antrian waiting list jasa konsultansinya sudah mencapai 3 bulan, mungkin sekarang lebih dari itu.

Menurut websitenya (konmari.com/pages/about) dia pernah diwawancarai dan diulas dalam The New York Times, The Wall Street Journal, The London Times, Vogue, The Late Show With Stephen Colbert, The Ellen Show, serta lebih dari lima puluh program televisi dan radio utama di Jepang. Dia menjadi salah satu dari 100 orang paling berpengaruh tahun 2015 versi majalah Time.

* * *

3. Kesan Pertama pada Minimalism dan Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

Suatu ketika saya membaca artikel di internet tentang beberapa orang Jepang yang memilih gaya hidup minimalis. Apartemen mereka diisi barang-barang yang memang benar-benar diperlukan saja. Jumlah sendok, sikat gigi, piring, pakaian semuanya benar-benar pas jumlahnya.

Saya jadi penasaran dengan minimalism.

Kemudian iseng mengetik kata kunci ‘minimalism’ di Google Play Book dan menemukan buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up karangan Marie Kondo.

Lalu membaca review yang ditulis para pembacanya dan itu bikin saya tertarik.

Harga buku versi bahasa Inggrisnya di Google Play Book sekitar Rp. 180.000,-. Saya tergerak membelinya.

Ternyata pembelian itu menjadi keputusan penting. Saya merasa beruntung menemukan buku itu.

Kini buku tersebut diterjemahkan ke bahasa Indonesia dan dijual di toko-toko buku dengan harga lebih terjangkau daripada versi bahasa Inggris yang saya beli.

Saat menemukannya pertama kali saya bertanya-tanya, buku tentang membereskan rumah, apa saya memerlukannya? Tetapi setelah membacanya pertanyaan tersebut terjawab: perlu!

Selama ini sebagaimana diungkap sebelumnya sepertinya saya ada sedikit OCD, terobsesi beres-beres dan itu sungguh melelahkan karena dalam waktu singkat hasil beres-beres menjadi berantakan lagi.

Dan memang diungkap di dalam buku tersebut ternyata beres-beres itu ada ilmunya. Salah beres-beres akan berakibat berantakan lagi berantakan lagi.

Semakin membaca semakin introspeksi jika rumah berantakan kadang-kadang mencari-cari alasan penyebabnya yang bisa jadi benar adanya tetapi bisa juga hanya pembenaran.

Tidak jarang dijadikan alasan adalah keberadaan anak-anak dan segala aktivitasnya di rumah padahal belum tentu (silakan baca: Mencari Penyebab Rumah Berantakan: Perspektif Minimalism).

Membaca buku tersebut seakan mendengar sendiri Marie Kondo bercerita. Kadang saya dibuat tersenyum-senyum saat dia berkisah menemukan gunungan barang-barang tidak terpakai di rumah kliennya.

Dari keseluruhan buku tersebut saya mendapat kesan Marie Kondo seorang rendah hati, bersahaja, dan punya misi membebaskan kliennya dari ‘clutter‘, berantakan.

Buku ini bukan bercerita bagaimana cara menjadi kaya atau meraih kekayaan juga bukan bagaimana meraih sukses.

Buku ini tentang bagaimana pembacanya menjadi lebih rapi dengan membuang yang tidak perlu dan menjaga yang benar-benar berarti.

Seiring kebiasaan fokus pada yang benar-benar istimewa itulah seseorang akan menemukan dampak ikutan yaitu perubahan kehidupan menjadi lebih baik.

* * *

4. Cara Beres-Beres Metode KonMari: “Does This Spark Joy?”

Marie Kondo menamakan metode beres-beresnya dengan sebutan KonMari, berasal dari kombinasi nama depan dan belakang dirinya.

Dalam mengulas cara beres-beres tersebut Marie Kondo memulai dengan mengajak pembacanya memahami prinsip dasar KonMari.

Porsi terpenting ada di sini. Jadi jika membaca buku ini pastikan halaman-halaman awal tidak ada yang terlewat.

Jika tidak membaca halaman-halaman awal dan langsung beranjak ke cara melipat baju misalnya dengan menonton tutorialnya di Youtube, menurut saya dalam waktu singkat akan mudah melupakan KonMari.

Mungkin juga akan lelah dan bosan.

Setelah membahas prinsip dasar KonMari Marie Kondo mengajarkan teknik beres-beres barang-barang spesifik mulai dari pakaian, buku, kertas, pernak-pernik, barang bernilai sentimental, hingga foto.

Secara garis besar metode KonMari dapat diringkas sebagai berikut:

Pilih hanya apa yang akan disimpan, buang sisanya.

Terdengar simpel tetapi sebenarnya lebih dari simpel, ini menggugah kesadaran. Perubahan hidup pembaca buku Marie Kondo bermula dari kalimat ini.

Urutan beres-beresnya tidak boleh terbalik: Mulailah dengan membuang. Kemudian, rapikan ruangan secara menyeluruh, sekaligus, dalam satu waktu.

Ringkasnya begini:

(1) Beres-beres mesti dilakukan sekaligus, siapkan waktu khusus beres-beres secara marathon, jangan mencicil waktu beres-beres. Karena ini akan berpengaruh pada mental, efek perubahannya akan terasa jika dilakukan dalam satu hari.

(2) Beres-beres dilakukan berdasarkan kategori bukan lokasi. Jadi jangan membereskan kamar 1, lalu kamar 2, melainkan bereskan semua pakaian di rumah, kemudian bereskan semua buku, kemudian bereskan kertas, dan seterusnya.

(3) Letakkan barang-barang di lantai sesuai kategori misalnya baju satukan dengan baju saja jangan diletakkan bersama buku.

Ambil barang yang sudah diletakkan di lantai satu persatu dengan tangan, tanya pada diri sendiri dan jawablah dengan jujur “does it spark joy?” (“apa benda ini membangkitkan kegembiraan pada diri saya?”).

Apa saya suka barang itu? Lalu apa barang itu diperlukan saat ini maupun yang akan datang (tetapi hanya yang pasti akan diperlukan, misalnya jika tidak ada rencana menjual handphone yang saat ini dimiliki maka buang saja kardusnya).

Spark joy, masing-masing orang yang merasakannya. Apa yang dianggap spark joy oleh seseorang belum tentu dianggap spark joy oleh orang lain.

Marie Kondo mencontohkan selembar kaos berkarakter lucu yang dia beli di tahun 2005 dan disimpan hingga sekarang. Sebenarnya dia tidak ingin ada orang lain melihatnya memakai kaos tersebut, tetapi dia tetap menyimpannya karena baginya kaos itu spark joy. Kaos itu memberi kegembiraan kepadanya. Yang harus dilakukan hanyalah mempertahankan apa yang spark joy dan membuang yang tidak.

(4) Pastikan tidak ada orang lain melihat saat sedang beres-beres.

(5) Jika tidak butuh suatu barang jangan berikan begitu saja ke orang lain hanya demi buru-buru menyingkirkan barang tersebut, kecuali jika orang lain tersebut benar-benar membutuhkannya. Marie Kondo menjelaskan alasannya di dalam buku.

Dan penjelasan lainnya yang membacanya bikin antusias.

* * *

5. Mengubah Hidup dengan Beres-Beres: Bagaimana Caranya?

Testimoni di bagian ‘Pendahuluan’ buku The Life-Changing Magic of Tidying Up bikin penasaran bagaimana bisa buku tentang beres-beres mempengaruhi para pembacanya berubah dan mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup.

Keputusan besar seperti mengundurkan diri (resign) dari pekerjaan yang hanya menjadi beban, memulai bisnis, memutus hubungan yang hanya bikin penyakit batin, dan banyak lagi.

Kenapa dari sekadar beres-beres rumah bisa bikin orang jadi berani mengambil keputusan besar?

Sebagaimana diungkap Marie Kondo:

“Dengan menata ulang rumah kita secara menyeluruh, gaya hidup dan perspektif kita akan ikut berubah drastis. Kehidupan kita niscaya mengalami transformasi besar-besaran.”

“Dengan membereskan rumah, kita sekaligus membereskan urusan dan masa lalu kita.”

Menurut saya ada beberapa alasan kenapa beres-beres bisa mengubah hidup seseorang, antara lain melalui jalan-jalan berikut:

(1) menjadi lebih fokus pada yang penting

Dengan beres-beres seseorang akan menemukan apa yang benar-benar penting.

Metode KonMari mengevaluasi satu persatu apa yang dimiliki apakah tetap menyimpannya memberi kegembiraan.

Serta mengajak bertanya “why?” pada diri sendiri tentang alasan memiliki atau melakukan sesuatu.

Kenapa memiliki benda ini? kemudian menjawab, “karena begini”. Lalu bertanya lagi, “kenapa perlu begini?” lalu menjawab, “karena begitu”. Lalu tanya lagi, “kenapa begitu?” dan seterusnya.

Sampai pada akhirnya menemukan apakah yang dimiliki dan dilakukan selama ini benar-benar memberi kebahagiaan.

Dengan demikian bisa mendorong lebih fokus pada apa yang benar-benar penting.

Hal penting tersebut bukan hanya berupa barang atau benda tetapi juga momen, aktivitas, dan orang, misalnya main hujan-hujanan bersama keluarga, aktivitas kemanusiaan, atau menghafal Al-Qur’an.

Sedangkan hal tidak penting misalnya debat panas di media sosial yang mungkin terasa mengasyikan bagi seseorang tetapi tanpa sadar telah mengonsumsi waktunya yang semestinya digunakan untuk hal lain, serta menghabiskan waktu memikirkan tanggapan atau perkataan negatif yang bikin malas bekerja atau bergerak.

(2) memulai hidup baru

Dengan beres-beres ala metode KonMari masa lalu maupun masa kini yang buruk akan ‘terbuang’ bersama dibuangnya barang-barang terkait kesuraman tersebut, meski bukan berarti melupakan yang telah terjadi.

Dengan demikian hati akan menjadi lebih lega dan bisa memulai hidup baru semangat baru. Melihat pintu baru yang terbuka dan melakukan hal baru. Bertemu orang baru atau komunitas misalnya.

(3) membuka pikiran “bisa kok meninggalkannya”

Dengan membuang apa yang tadinya dikira tidak akan sanggup berpisah darinya pikiran akan menjadi terbuka ternyata bisa kok membuangnya.

Bisa kok ternyata berpisah dengannya.

Ternyata banyak sekali yang sebenarnya bisa ditinggalkan tanpa merugikan sama sekali.

Sehingga ini akan memberi keyakinan pada diri sanggup berubah dengan meninggalkan yang harus ditinggalkan.

Misalnya keyakinan seorang perokok berat yang kepikiran ingin berhenti merokok akan bisa berhenti total meski awalnya merasa ragu apa iya bakal bisa berhenti.

Menyingkirkan benda-benda yang tidak menimbulkan ‘joy’ serta dianggap sudah tidak diperlukan lagi dapat menjadi latihan agar bisa menyingkirkan benda-benda serta apa-apa yang jelas-jelas merugikan diri.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad).

* * *

6. Dua Catatan Penting: (1) Pahami Prinsip KonMari sebelum Mulai Beres-Beres (2) Bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

The Life-Changing Magic of Tidying Up buku yang saya rekomendasikan untuk dimiliki dan dibaca orang-orang.

Meski demikian saya perlu menyampaikan dua catatan penting.

(1) Bahkan tanpa membaca buku tersebut sampai selesai para pembaca bisa mulai melakukan action dan merasakan perubahannya.

Menurut saya tidak harus membaca tentang cara melipat kaos kaki misalnya. Tidak perlu sedetail itu. Juga tidak harus menonton videonya di Youtube.

Tetapi prinsip utama KonMari mesti dipahami dan lakukan dengan benar karena perubahan hidup pembaca buku Marie Kondo bermula dari situ.

Sebaliknya jika hanya membaca teknik-teknik merapikan benda-benda spesifik tanpa memahami prinsip utama KonMari maka bisa jadi akan berhenti di tengah jalan baik karena lelah maupun bosan.

(2) Tidak semua hal dalam buku ini saya sepakati, misalnya tentang menyapa atau membungkuk kepada rumah.

Hal itu mungkin lazim atau biasa di tempat penulis buku tersebut tinggal yaitu Jepang.

Namun demikian sebagai seorang muslim saya akan memilih mengucap basmalah serta berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika akan memasuki rumah.

Juga tidak mengucapkan terima kasih kepada benda-benda yang telah menunaikan tugasnya, melainkan akan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberi benda-benda tersebut kepada saya.

* * *

7. Kesimpulan: Beli atau Pinjam?

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang adalah buku tentang seni beres-beres atau merapikan.

Saat awal mengetahui buku ini tentang beres-beres mungkin orang akan penasaran beres-beres seperti apa yang diungkap dalam buku tersebut. Mungkin juga akan bertanya apakah perlu buku cara beres-beres.

Namun seiring membaca halaman demi halaman serta menerapkan isinya akan dijumpai buku ini ternyata bukan bicara sekadar beres-beres rumah saja melainkan juga merapikan hidup, mengembalikan kontrol diri, membebaskan diri dari yang tidak membawa kegembiraan, dan menjadikan diri dikelilingi hanya yang menimbulkan kegembiraan.

Sebagai penutup, agar senantiasa bersemangat beres-beres dan membuang apa yang tidak bermanfaat mari simak hadits berikut:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

Selanjutnya bagaimana rekomendasi saya terhadap buku ini, beli atau pinjam saja?

Saya jelas akan merekomendasikan: beli.

Di toko buku, harga buku ini versi terjemahan bahasa Indonesianya tidak sampai 100 ribu rupiah. Jika memungkinkan sebaiknya beli saja.

8. Di Mana Download Pdf File Buku Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up?

Tulisan review atau resensi ini tidak menyediakan link untuk download pdf file buku Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up karena saya ingin menghargai jerih payah penulisnya. Tidak mudah menuangkan ide ke dalam tulisan, apalagi menjadi buku best seller dunia.

Jika merasa belum punya uang untuk membeli buku ini maka siapa tahu justru dengan membaca buku ini pengeluaran bisa menjadi lebih efisien. Setidaknya itulah yang saya rasakan.

Iqbal – Fana.Blog

7 replies on “Review The Life-Changing Magic of Tidying Up”

Terimakasih pak iqbal atas sharingnya. sy menemukan tulisan bapak bermula di intranet. Nampaknya buku tersebut mesti jadi peganagn saya salah satunya. kebetulan saya LDR dg keluarga, karena tinggal sendirian di rumah, dalam sebulan atau 2 bulan baru jumpa istri lagi akhirnya rumah tidak selalu rapi meski tetap bersih. Bahkan boleh dibilang, saat rumah saya rapi itu artinya istri saya datang :). terimakasih seklai lagi.

Sangat Inspiratif… Klu dalam bahasa jawa saya masih memiliki budaya “eman-eman” atau sayang untuk membuang barang atau sesuatu karena masih berpikir suatu saat pasti akan dipakai barang tersebut, walaupun pada kenyataanya tidak pernah kepakai. Butuh latihan untuk menerapkan teknik ini.

Review-nya cukup komprehensif Bung Iqbal, super cool!

Setelah membaca review buku ini jadi sungguh penasaran sangat, karena saya termasuk orang yg agak sayang sayang klo ingin membuang suatu barang. Selalu dengan dalih, “siapa tau besok-besok ini barang masih terpakai”, walhasil barang banyak yg menumpuk tanpa pernah tau terpakainya kapan.

Saya tertarik dan cukup penasaran pada poin, jika kita tidak butuh suatu barang, jangan berikan begitu saja ke orang lain hanya demi sesegera mungkin menyingkirkan barang tersebut, kecuali jika orang lain tersebut memang benar-benar membutuhkannya. Karena pengalaman saya, setiap saat saya merapikan lemari yg penuh pakaian, dan memilah-milih pakaian mana yg sudah tidak terpakai, maka pakaian tidak terpakai tersebut saya langsung berikan pada orang yg saya anggap kira-kira membutuhkan. Ternyata hal ini tidak tepat ya Bung Iqbal?

Satu pertanyaan besar, apakah perubahan besar dalam hidup elo, misalkan tidak membeli action figure dan tidak mendengarkan musik, adalah efek dari mengaplikasikan buku Marie Kondo? Atau efek dari memiliki tanggungan lain dalam hidup elo (yang sekarang ada dua dan mungkin akan bertambah di masa depan)?

==Seseorang yang mendapat nilai C di matkul Perekonomian Indonesia karena lebih suka liat2an sama anak IE daripada liatin penjelasan Ibu Sri Mulyani di depan ruang auditorium==

Namanya kapan-kapan itu tidak pernah datang. sering kali demikian. Terima kasih mas iqbal review-nya. Saya baru sempat baca saat ini, kemarin2 belum tertarik, entah karena apa. Saya termasuk yg suka beres2 dan bongkar2 barang dan dokumen. Benar jg suka nahan2 klo mau buang, kepikiran nanti butuh lagi.

Betul mas Moko. Sebelum baca dan nerapin buku ini saya sudah telanjur beli banyak buku. Yang baru kebaca baru sedikit. Itu pun terasa lebih nikmat baca buku yg sedikit itu berulang2. Yang saya suka baca berulang2 misalnya buku ‘Fikih Istighfar’, buku tipis yang juga punya impact besar buat saya.

Leave a Reply