Categories
Review

Review Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang (Marie Kondo)

Rahasia cara merapikan rumah super efektif, tak mudah berantakan lagi. Menginspirasi pembaca di seluruh dunia dan mendorong saya menulis review 8.293 kata ini.

Tak menduga bakal menemukan buku The Life-Changing Magic of Tidying Up nangkring di rak sebuah toko buku, saya buru-buru lari ke meja informasi, membajak meminjam mikrofon, berseru lantang:

“Mohon perhatian.. Segera beli buku The Life-Changing Magic of Tidying Up sekarang juga!!”

Para pengunjung mendadak terdiam. Serempak menghentikan aktivitasnya.

Anak-anak sekolah yang semula duduk di lantai sambil baca komik pun berdiri.

Musik instrumental saksofon yang disetel sepanjang hari mendadak mute.

Petugas informasi terperangah, tak menyangka mikrofonnya dibajak seseorang buat promosi dadakan!

“Siapa orang itu??” pikir orang-orang.

Tetapi pertanyaan tersebut segera beralih ke “Buku apa ya??”

Kemudian semuanya menolehkan kepala ke sebuah rak buku yang kini bersinar-sinar.

Mereka terpana, berjalan pelan penasaran menuju sumber cahaya.

Baiklah.. sebenarnya itu.. hanya imajinasi saya saja.

Pada kenyataannya, saya tetap berdiri kalem di depan rak buku tersebut dengan mata berbinar.

Tak ada adegan lari tergopoh-gopoh ke meja informasi. Tak ada mikrofon dibajak.

Para pengunjung tetap santai mampir dari satu rak ke rak lainnya, memilih-milih buku. Anak-anak sekolah tetap asyik duduk di lantai, baca komik.

Kenny G tetap meniup saksofonnya.

Pengunjung Fana.Blog yang budiman, selamat datang di tulisan pertama blog ini.

Saya memulai blog ini dengan review sebuah buku. Sebelum lanjut membaca, silakan bikin secangkir kopi atau teh terlebih dahulu. 🙂

Saya tidak terafiliasi dengan penulis maupun penerbit dan segala yang berkaitan dengan buku yang akan saya review ini.

Saya tidak memperoleh keuntungan finansial apa-apa jika para pengunjung Fana.Blog setelah membaca artikel ini kemudian tergerak hatinya buat beli buku tersebut, kecuali tentunya jika saya menjual buku tersebut di blog ini dan ada yang membelinya (Pssst… saya berencana melakukan itu). 😀

So, here we go! Inilah review buku:

The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing (Karya Marie Kondo)

yang telah diterjemahkan ke bahasa Indonesia oleh Penerbit Bentang (yang karenanya saya ingin merebut mikrofon tadi) dengan judul:

The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang

Saya tidak tahu bagaimana Anda menemukan artikel ini. Mungkin dari Google atau share medsos?

Jika dari Google, kemungkinan Anda sedang mencari review buku ini atau bisa juga mencari cara merapikan rumah yang berantakan.

Yang artinya, Anda sudah pernah dengar tentang buku yang saya review ini, tetapi ingin riset terlebih dahulu di internet sebelum memutuskan untuk membeli atau tidak.

Atau bisa juga Anda sedang penasaran bagaimana cara merapikan rumah yang benar, yang tak akan dengan mudahnya berantakan lagi.

Jika demikian, artikel ini mudah-mudahan dapat memenuhi ekspektasi, bisa menambah referensi dan inspirasi, serta bikin semakin penasaran.

Kabar baiknya, ternyata buku ini bukan hanya sekadar buku tentang cara merapikan atau membenahi rumah, melainkan juga cara menata kembali hidup yang dirasa berantakan.

Bikin penasaran, kan?

Dengan semangat menyebarkan inspirasi, saya akan mengulas buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing dalam 10 bagian.

Saya sudah bikin daftar isinya. Para pengunjung Fana.Blog bisa membaca sesuai alur yang saya buat atau bisa juga langsung meng-klik subjudul yang diminati.

Tetapi tentu saja, saya merekomendasikan membacanya sesuai alur.


1. Alasan Menulis Review Ini

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up adalah karya fenomenal Marie Kondo, seorang wanita Jepang yang berprofesi sebagai konsultan beres-beres atau merapikan rumah. Ini penampakan cover bukunya:

Saya jatuh hati pada desain sampul buku tersebut. Terlihat simpel, sederhana, minimalis, kalem, elegan.

Tunggu, tadi dibilang buku itu ditulis oleh seorang konsultan beres-beres rumah, memangnya ada ya profesi itu?

Ternyata ada.

Malah Marie Kondo punya banyak sekali klien yang berkonsultasi cara merapikan rumah yang berantakan.

Sebagian pengalaman membenahi rumah klien ditulisnya dalam buku The Life-Changing Magic of Tidying Up yang diklaim terjual lebih dari 5 juta kopi di seluruh dunia dan disebut-sebut sebagai buku inspiratif yang telah membantu mengubah hidup para pembacanya.

Saya percaya kok dengan klaim terjual 5 juta kopi itu, karena saya sendiri termasuk orang yang terkesan dengan buku tersebut dan ingin banyak orang turut membaca dan menerapkan isinya.

Saking ingin orang lain membacanya, saya pernah membeli buku itu beberapa buah untuk diberikan kepada orang-orang terdekat secara cuma-cuma alias gratis.

Kenapa sampai melakukan itu? Memangnya penulis Fana.Blog ini horang kayah??

Lah, buat berbagi inspirasi kan enggak harus jadi horang kayah dulu dong! 😀

Seperti dibilang tadi, buku The Life-Changing Magic of Tidying Up telah membantu para pembacanya. Bukan hanya membantu merapikan rumah yang berantakan, melainkan juga merapikan hidup yang terasa berantakan.

Karena tidak ingin menyimpan sendiri inspirasi yang saya peroleh, saya mulai menyarankan orang-orang terdekat membacanya karena mungkin akan bermanfaat buat mereka sebagaimana buku tersebut bermanfaat untuk saya.

Pernah enggak, Anda nonton film yang menurut Anda bagus banget, keren banget, lalu Anda berharap orang lain juga menontonnya?

Apalagi jika film itu tidak terkenal, atau bisa juga film indie yang baru segelintir orang saja yang pernah menonton.

Karena menurut Anda film itu luar biasa, ada rasa ingin share, ya kan? Biar semua orang tahu.

Rasa itulah yang saya rasakan terhadap buku ini.

Bedanya, ini buku, bukan film. Selain itu, buku ini juga telah mendunia, jadi kalau ada orang yang belum tahu tentang buku ini bukannya buku ini tidak terkenal melainkan informasi keberadaan buku ini saja yang belum tersampaikan kepada orang tersebut.

Dan itu sayang banget!

Saya yakin, rasa itulah yang ada di hati Dee Lestari, seorang penulis Indonesia saat menemukan buku ini:

“Jika menemukan buku yang menurut kita bagus, apa yang biasanya yang kita lakukan? Merekomendasikan ke teman? Menulis resensi? Cukup sering saya bertemu buku yang bikin saya melintir lalu dengan berbusa-busa saya promosikan ke orang-orang. Tapi, tidak banyak buku yang sampai menggerakkan saya untuk menghampiri penerbit dan berusaha meyakinkan mereka untuk menerjemahkannya. This is THAT book.” (deelestari.com/review-the-life-changing-magic-of-tidying-up/)

Enggak cukup merekomendasikan ke teman, enggak cukup menulis resensi, dia sampai menemui penerbit buat meyakinkan mereka untuk menerjemahkan buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. Membaca pengakuannya, saya bisa merasakan antusiasme yang tinggi.

Saya sendiri sangat antusias saat bercerita tentang buku ini.

Melihat antusiasme saya merekomendasikan buku tersebut, ada orang-orang yang lantas penasaran sehingga mencarinya.

Kemudian setelah membaca buku tersebut, ada yang menulis review di blog atau status Facebooknya. Ada juga yang menceritakan progres perkembangan beres-beresnya, “Bal, saya sudah ngosongin laci meja saya di kantor.”

Respon yang bikin saya semakin semangat menyebarkan inspirasi.

Tetapi sayangnya, ternyata tidak semua respon sesuai ekspektasi.

“Wah.. kayanya bagus bukunya. Jadi pengen baca. Tetapi masih ada prioritas lain untuk dibeli..”

“Bagus banget.. tetapi belum sempat beli.”

“Keren, nanti deh cari bukunya. Kamu punya file pdf-nya enggak? Bagi link download-nya dong?”

Malah ada yang skeptis,

“Mengubah diri kok dengan beres-beres, gimana ceritanya?”

“Buku tentang beres-beres? Di rumah ada anak-anak kecil, mana sempat berbenah. Penulisnya masih single ya?”

Tanggapan-tanggapan yang secara tersirat menunjukkan ketidakberminatan pada buku tersebut. Padahal sayang kalau buku ini dilewatkan begitu saja. Dalam hati saya bilang,

Give it a try and see what happens!

Tolong baca dulu, pahami, terapkan. Setelah itu kita berdiskusi, kita ngobrol-ngobrol.

Memang sih ada banyak buku bagus di luar sana, tetapi sekali ini saja coba baca dulu yang satu ini. Berikan kesempatan.

Saya pun terkenang masa lalu.

Tahun 2012-2014 saya memperoleh kesempatan kuliah di Hiroshima University Jepang.

Lalu tahun 2016 tak sengaja saya menemukan buku karangan Marie Kondo tersebut di Google Play Book dan membelinya.

Guess what? Saya terinspirasi dan menyesal kenapa baru belakangan menemukannya. Kenapa setelah dua tahun pulang ke Indonesia baru menemukan buku itu? Kenapa enggak dari dulu?

Saya tahu masa lalu tak akan pernah kembali lagi.

Tetapi bagaimanapun juga, saya pikir jika saya menemukan buku tersebut lebih awal sepertinya akan membuat perbedaan signifikan pada apa yang saya lakukan selama tinggal di Jepang maupun setelahnya.

Mungkin saya akan lebih optimal dalam menggunakan resources yang saya miliki: uang, waktu, tenaga, semangat, pada yang benar-benar penting dan memberi kebahagiaan.

Don’t ge me wrong, jangan salah sangka, saya bilang begitu bukan berarti kehidupan saya di Jepang selama dua tahun tidak menyenangkan.

Malah sebaliknya, sangat menyenangkan dan membekali saya dengan pengalaman menyenangkan dan inspirasi berharga.

Sebagaimana saya tulis di halaman “About” blog ini, saat kuliah di Jepang saya melibatkan diri pada berbagai aktivitas:

  • Menjadi Head of Islamic Activities di Hiroshima Islamic Cultural Center (HICC) atau Hiroshima Muslim Association.
  • Menjadi Sekretaris Jenderal dan admin blog di Keluarga Muslim Indonesia di Hiroshima di Jepang (KMIH).
  • Menjadi Anggota Divisi IT dan Publikasi di Persatuan Pelajar Indonesia di Jepang Komisariat Hiroshima (PPIH).
  • Mengajar di Children Class HICC.
  • Mengajar di SD Jepang.
  • Dan tentu saja, kuliah di Hiroshima University itu sendiri.

Saya juga pernah menjadi panitia buka puasa berjamaah di Masjid Hiroshima Jepang. Setiap komunitas muslim dari berbagai negara yang kuliah di Hiroshima University diminta menyediakan 1 orang perwakilan untuk menjadi panitia.

Saat itu di setiap harinya selama bulan Ramadhan saya berangkat ke masjid jam 5 sore buat menyiapkan makanan dan membersihkan ruangan, lalu kembali ke apato (apartemen) jam 12 malam.

Ramadhan penuh warna dan suka cita.

Kalau ada Ramadhan yang saya anggap paling berkesan dari sejak saya lahir hingga saya menulis review ini, maka Ramadhan di Jepang lalu adalah salah satu yang paling top berkesannya.

Di waktu luang, saya main ke apato teman-teman dan juga sering bermain bersama anak-anak teman saya. Kami biasa main catch ball (lempar tangkap bola baseball) di koen (taman).

Bahkan, ehem… di Jepanglah saya bertemu dengan seorang yang sekarang menjadi istri saya.

Secara keseluruhan, hari-hari saya selama di Jepang sangat mengesankan. Tak mungkin saya bilang di sana tidak menyenangkan.

Namun demikian, belakangan saya mulai menyadari ternyata masih ada momen-momen penting terlewati begitu saja karena saat itu saya masih belum menyadarinya.

Kesadaran itu baru muncul setelah membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up. Dan itu membuat saya menyesal.

Hmm… Ngomong-ngomong apa sih yang bikin saya menyesal?

Well, saya pikir bukan di sini tempatnya untuk mengungkap segenap segala penyesalan itu, tetapi jika pembaca artikel ini suatu saat bertemu saya, mungkin bisa saya ceritakan.

Yah, mungkin ini salah satunya, sekadar contoh kecil, sekarang ini saya baru menyadari saya belum terlalu mengeksplorasi Hiroshima, misalnya menginap di Pulau Miyajima.

Ini foto saya saat main ke Miyajima:

Pulau Miyajima tempat wisata yang mengesankan. Sebenarnya saya tidak tahu apakah di sana ada penginapan atau enggak. Tetapi saya saat itu tidak terpikir buat mencari tahu.

Saya bukan seorang penggemar travelling. Meski begitu saya merasa ada tempat-tempat yang mestinya saya kunjungi dengan penuh kesadaran.

Maksudnya, mengunjunginya untuk menikmati, bukan untuk sekadar mengambil foto untuk di-share di medsos.

Salah satu tempat itu adalah Pulau Miyajima. Tetapi kenapa ya dulu saya tidak terpikir buat benar-benar menjelajahinya?

Ada lagi nih, penyesalan lainnya: mestinya saya bisa menghafal beberapa halaman Al-Qur’an, atau menyelesaikan kuliah online di Islamic Online University (IOU) di saat saya memiliki resource yang lebih kondusif.

Sebenarnya saat kuliah S2 di Jepang dulu saya masih punya waktu luang yang banyak.

Bahkan dengan beberapa aktivitas organisasi maupun main bersama teman-teman, saya masih tetap punya waktu yang luang.

Mungkin akan berbeda jika saya kuliah S3 yang mulai ada kewajiban publikasi paper.

Saya tidak bilang kenapa ya saya tidak menghafal 30 juz, saya bilang kenapa ya saya tidak menghafal beberapa halaman. Artinya waktu luang itu tidak saya gunakan buat menambah hafalan meski hanya beberapa lembar Al-Qur’an!

Saya juga sempat mendaftar kuliah di IOU. Mestinya saat lulus dari Hiroshima University pada saat yang sama saya telah menyelesaikan 2 tahun kuliah di IOU, sedangkan 2 tahun sisanya bisa saya selesaikan di Indonesia. Idealnya sih begitu.

Faktanya? Saya banyak teralihkan perhatian sehingga tidak fokus. Kuliah di IOU sering terhenti di tengah jalan.

Ada hal-hal lain juga yang tidak bisa saya tulis di sini, but for the time being let say: saya punya penyesalan.

Penyesalan datang belakangan biarlah menjadi pelajaran. Penyesalan memang datang belakangan, jika duluan namanya pendaftaran. 😀

Mulai sekarang, saya ingin belajar memperhatikan yang benar-benar penting atau yang saya anggap penting dan mengurangi atau bahkan meninggalkan yang menjauhkan saya dari hal yang penting tersebut.

Saya ingin belajar menata hidup saya yang selama ini terasa berantakan.

Ingin mengumpulkan kembali kepingan-kepingan yang berserakan tercerai berai layaknya pot kembang yang pecah tersenggol anak-anak main bola di lapangan sebelah rumah.

Pada saat yang sama, saya juga ingin berbagi inspirasi yang saya peroleh ini kepada orang-orang terdekat. Sehingga saya pergi ke toko buku dan beli beberapa buah buku The Life-Changing Magic of Tidying Up untuk dibagikan. Secara gratis!


2. Perubahan yang Saya dan Orang Lain Alami

Review ini jelas tidak lengkap jika saya bilang buku The Life-Changing Magic of Tidying Up bisa secara signifikan mengubah hidup pembacanya tetapi saya tidak memberi contoh-contoh perubahannya.

Penggunaan kata “the life-changing magic” sebagai judul buku ini tidak sembarangan. Menurut saya kata-kata tersebut bukan sekadar jargon kosong.

Di bagian ini pertama-tama saya akan mengungkap perubahan yang saya alami, setelah itu perubahan yang dialami orang-orang yang membaca buku tersebut.

Lantas, perubahan apa saja yang saya alami?

Saya tidak akan mengungkap semuanya, tetapi ini beberapa contoh di antara perubahan saya alami:

(1) Berkurangnya Keinginan Beres-Beres Berlebihan

Sebenarnya ini rahasia.

Tetapi saya terpaksa mengungkap ini agar para pembaca jadi percaya: sebelumnya saya seorang yang sepertinya memiliki Obsessive Compulsive Disorder (OCD).

Mungkin OCD yang tidak terlalu kuat. Saya bilang “mungkin” karena saya belum pernah konsultasi ke psikolog, hanya sekadar menduga dari keadaan saya yang sering terobsesi mengepel lantai, membereskan meja, atau mengelap lemari action figure berulang-ulang, sejak kecil hingga saya kuliah di Jepang.

Buat yang punya OCD tentu paham keinginan kuat untuk mengerjakan suatu hal secara rutin, padahal tidak ada gunanya.

“Lho, rajin beres-beres kan bagus, kenapa dibilang tak berguna?” begitu mungkin pertanyaan yang timbul di benak Anda.

Pertanyaan wajar jika belum tahu apa itu OCD. Tetapi tidak, ini bukan beres-beres biasa. Ini beres-beres berlebihan. Sama sekali bukan hal bagus karena waktu jadi habis terpakai aktivitas beres-beres tidak perlu.

Beres-beres yang bukan dilakukan karena kebutuhan, melainkan sekadar kebiasaan yang kalau tidak dilakukan rasanya tidak nyaman.

Beres-beres semacam ini bukan hanya menimbulkan lelah fisik, melainkan juga lelah pikiran. Misalnya jadi merasa tidak nyaman ketika tidak sempat beres-beres apato sebelum berangkat kuliah di pagi hari meski tadi malam saya sudah beres-beres.

Kadang-kadang rasa tidak nyaman itu terus terasa sepanjang hari meski saya sedang berada di tempat wisata yang mengesankan! Misalnya saat saya main ke Pulau Miyajima seperti saya ceritakan sebelumnya.

Tetapi alhamdulillah, kini saya sudah tidak merasakan keinginan kuat untuk beres-beres yang menyita waktu dan menyandera pikiran seperti dulu lagi.

(2) Berkurangnya Keinginan Membeli Sesuatu hanya karena “Sekadar Ingin Membeli”

Sebelumnya saya penggemar mainan action figure. Saya membeli lemari pajangan yang diisi sebanyak-banyaknya mainan action figure ke setiap sudutnya.

Action figure adalah mainan koleksi berbentuk orang atau robot karakter di film, buku komik, atau game baik tokoh nyata maupun tokoh rekaan. Ini contohnya:

Perkenalan pertama saya dengan mainan action figure adalah pada tahun 90-an saat saya masih SD. Sepulang kerja ayah membawa oleh-oleh mainan robot Mazinger-Z dan Kamen Rider Super One.

Keduanya mainan keren terbuat dari die-cast metal. Tangan robot Mazinger-Z bisa ditembakkan layaknya roket karena ada pegasnya. Sementara Kamen Rider Super One bisa diganti-ganti sarung tangannya dengan sarung tangan warna perak, merah, biru, hijau, dan emas, benar-benar seperti di filmnya.

Yah, intinya mainan keren lah.

Tetapi sayang, kedua mainan itu hilang entah kemana.

Saya kehilangan mainan-mainan kesayangan. Padahal nih, untuk membeli mainan perlu menyisihkan uang jajan sekolah sehari-hari.

Saat itu memperoleh mainan bukan hal mudah semudah meminta kemudian dibelikan karena keuangan keluarga serba ngepas.

Malah saya pernah akhirnya dibelikan mainan robot-robotan setelah saya sakit berhari-hari dan tidak masuk sekolah.

Kesannya harus sakit dulu baru dibelikan mainan he he.. Tapi saya tidak menyalahkan kedua orang tua saya sama sekali, karena memang saat itu keluarga kami hidup dengan keuangan yang serba ngepas. Orang tua mana sih yang tidak ingin membelikan mainan buat anaknya?

Nah, kemudahan membeli action figure baru saya rasakan saat sudah bekerja dan memperoleh uang sendiri. Ditambah lagi, di 2012-2014 saya mendapat kesempatan kuliah di Jepang, seperti telah disinggung di awal.

Saat itulah saya sering berburu mainan action figure karena, well, Jepang “surga”nya action figure.

Sebagian mainan saya beli karena punya nilai nostalgia kenangan masa kecil, alasan ampuh meyakinkan diri membeli mainan.

Akan tetapi, jika dipikir-pikir lagi secara jujur, ternyata dari sekian pembelian ada pembelian-pembelian yang lebih didorong alasan “sekadar ingin beli”.

Misalnya nih, ketika iseng mengunjungi website Amazon JP lalu melihat mainan yang untuk membelinya tinggal klik saja dan bisa memilih kapan pesanan tersebut akan tiba di depan pintu apato.

Saya sampai hafal kalau saya minta barang diantar sesi pagi maka jam 08.39 pagi pintu apato saya akan diketuk kurir Amazon Jp. Bayarnya juga bisa langsung di tempat, tidak harus pakai kartu kredit.

Atau saat main ke toko mainan baik baru maupun bekas (di Jepang barang-barang bekas memiliki kualitas bagus) ternyata menemukan mainan yang terasa seperti harta karun saat menemukannya yang mendorong saya membelinya.

Kadang-kadang cuma karena ingin mengisi sudut lemari yang masih kosong.

Tanpa.. benar-benar memikirkan apa benar-benar menginginkannya ataukah sekadar keinginan sesaat!

Alhamdulillah setelah membiasakan beres-beres ala Marie Kondo sekarang dorongan membeli karena “sekadar ingin membeli” mulai memudar. Sekarang saya jadi punya beberapa pertimbangan untuk membeli mainan action figure:

  • Apa mainan itu benar-benar istimewa?
  • Apa punya nilai sentimental/kenangan sehingga ingin membelinya?
  • Apa saya benar-benar suka?
  • Yakin benar-benar suka ataukah karena tidak enak sudah masuk ke toko mainan tapi tidak membeli apa-apa?

Jika memang punya nilai sedemikian istimewanya maka silakan saja saya membelinya, dengan mempertimbangkan anggaran tentunya.

Begitu juga jika saya tidak menemukan mainan yang saya cari mestinya saya tak perlu mencari-cari mainan pengganti sekadar biar enggak pulang dengan tangan kosong, apalagi sekadar rasa tidak enak karena tak beli apa-apa.

Nyatanya, sekarang ini saya sudah sangat jarang membeli mainan action figure karena semua pertanyaan di atas tidak berhasil dijawab “iya”. Karena memang saya merasa sudah tidak menginginkannya lagi. Termasuk mainan-mainan bernilai nostalgia, saya sudah kehilangan minat mencarinya.

Jika sebelumnya begitu antusias menonton review di Youtube mainan action figure terbaru yang ditunggu-tunggu rilisnya sampai terasa akan mimisan, kini rasanya biasa saja.

Meski contoh yang kedua ini tentang mainan action figure, namun pertimbangan sebelum membeli tersebut bukan hanya berlaku untuk action figure saja, melainkan juga barang-barang lainnya.

Buku misalnya, yang akan saya ulas di contoh perubahan berikutnya.

(3) Berkurang Keinginan Membeli Banyak Buku dengan Alasan “Kapan-Kapan akan Dibaca”

Sebelumnya saya suka membeli buku, cukup banyak buku saya miliki.

Tentu ini hal bagus, kebiasaan sangat bagus, jika buku-buku tersebut benar-benar dibaca.

Diulang ya, jika buku-buku tersebut benar-benar dibaca.

Sayangnya, hingga saya menulis artikel ini kebanyakan buku tersebut belum sempat saya baca. Yah, setidaknya saya sudah sempat membuka plastik pembungkusnya.

Setelah membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up saya menyadari ternyata dari sekian buku yang saya miliki, hanya sedikit buku yang benar-benar dibaca, dinikmati, dan diterapkan. Sedangkan kebanyakan hanya memenuhi lemari menunggu dibaca.

Di bukunya, Marie Kondo mengungkap pendapatnya yang menohok didasari pengalaman bertahun-tahun menangani klien beres-beres:

“Ketika seseorang bilang ‘siapa tahu saya akan membacanya kapan-kapan’ maka yang namanya ‘kapan-kapan’ itu tidak pernah datang.”

Di antara pembaca bukunya mungkin ada yang tidak setuju dengan pendapat tersebut. Sebab barangkali hobi membaca buku dan selalu melahap habis buku yang telah dibeli, atau pencinta buku yang senang dikelilingi buku, atau bisa juga ingin membangun perpustakaan keluarga.

Well, setiap orang punya karakteristik dan kebutuhannya masing-masing tentunya. Adapun untuk case saya, khusus pada saya, ternyata pendapat Marie Kondo benar adanya. Perkataan tersebut bikin saya tertohok, terpojok, dan terjerembap!

Saya gemar membaca.

Waktu kecil bahkan membaca tulisan di kemasan makanan, kardus obat, atau botol shampo saking sukanya membaca.

Bayangkan seorang anak yang sedang diam di toilet, sedang BAB, tiba-tiba, hmm.. apa nih? Tulisan di botol shampo ini menarik, kemudian dibaca deh komposisinya, produsennya, dan hey, shampo ini bisa menghilangkan ketombe, menarik sekali!

Kira-kira begitulah saya waktu kecil.

Sebagai seorang anak yang introvert, waktu kecil yang lebih suka menghabiskan waktu di atas kasur sambil membaca majalah, komik, atau buku. Andai dipasok bertumpuk-tumpuk majalah Donal Bebek, bisa-bisa saya tidak keluar kamar dari pagi sampai malam kecuali untuk makan dan ke toilet.

Namun, ternyata kini saya tidak punya cukup energi dan waktu untuk melahap buku-buku yang saya miliki.

Saya juga tidak berminat membaca cepat, karena lebih suka menikmati buku yang saya baca, daripada cepat-cepat menyelesaikannya.

Ini juga menjadi faktor yang sangat penting: saat menulis review ini saya tidak punya ruangan memadai untuk menyimpan banyak buku.

Jadi selama ini saya beli banyak buku tanpa benar-benar memikirkan nantinya mau ditaruh di mana.

Saya tidak punya tempat yang nyaman buat menyimpan buku-buku saya. Saya bilang “tempat yang nyaman” maksudnya ada sih tempat buat menyimpan, tapi yaa misalnya di lemari baju. Ada juga yang saya taruh di lemari dan laci meja kerja saya di kantor.

Alhamdulillah, sekarang saya hanya membeli buku-buku yang lebih pasti bakal saya baca, punya impact, yang memberi nilai tambah bagi diri, maupun yang benar-benar bisa dinikmati.

Update: Akhir Februari 2020 saya mengalami kebanjiran, koleksi buku berjumlah ratusan yang belum sempat saya baca, sebagaimana saya ceritakan dalam contoh ini, rusak karena terendam!

Minimalism yang salah satunya saya peroleh perspektifnya dari buku The Life-Changing Magic of Tidying Up benar-benar membantu saya lebih ringan untuk move on.

Cerita (dan foto-foto) tentang kejadian tersebut beserta pelajaran penting yang saya peroleh dapat pembaca temukan pada artikel berjudul “Banjir, Dunia yang Rapuh, Minimalism“.

(4) Bisa Menikmati Kesunyian

Sebelumnya saya suka menikmati musik di berbagai kesempatan atau aktivitas. Bukan hanya suka, melainkan juga merasa butuh.

Saya juga memastikan kualitas aktivitas mendengarkan musik. Saya tidak betah mendengar musik dari perangkat dengar (earphone/headphone) dan mp3 yang kualitasnya tidak bagus. Seakan telinga saya bisa membedakan file mp3 lagu yang bit rate-nya 320 Kbps, 128 Kbps, atau 64 Kbps. Oleh karena itu untuk me-rip koleksi CD audio menjadi mp3 saya menggunakan software Exact Audio Copy dan Lame Mp3 Encoder serta bereksperimen menggunakan software lainnya dengan harapan tidak ada kepingan data sekecil apa pun yang tercecer saat konversi file tersebut ke mp3. Adapun untuk mendengar musik menggunakan earphone bagus namun masih terjangkau misalnya Sennheiser dan Zero Audio Carbo Tenor.

Ribet memang, saya sendiri sampai malas membaca paragraf barusan, tetapi “rangkaian ritual” itu dulu biasa saya lakukan.

Saya menceritakan kebiasaan saya dalam mendengarkan musik ini sebagai gambaran saya cukup serius pada aktivitas mendengarkan musik dan betapa aktivitas tersebut pernah sangat penting bagi saya.

Dalam beberapa kegiatan saya lebih suka melakukannya sambil mendengarkan musik.

Misalnya saat jogging, saya tidak bisa menikmati jogging tanpa mendengarkan musik, rasanya hampa.

Saya juga senang mendengarkan musik di jelang tengah malam terutama lagu dengan lirik syahdu.

Malah saya punya waktu khusus mendengarkan musik yaitu setiap Ahad siang.

Masih ingat saat di awal saya cerita pernah menjadi panitia Ramadhan di Masjid Hiroshima Jepang? Tentang saya yang berangkat ke masjid jam 5 sore lalu pulang ke apato jam 12 malam?

Nah, saya sering mendengarkan musik pake earphone di sepanjang perjalanan bersepeda berangkat ke masjid dan pulang ke apato.

Contoh lagu yang biasa saya dengarkan misalnya “One More Time One More Chance”-nya Masayoshi Yamazaki yang menjadi lagu tema film “5 cm Per Second” yang menyajikan suasana persawahan dan langit Jepang serta kesyahduan kota yang ramai tetapi sunyi.

Naik sepeda sambil mendengarkan lagu itu, terasa nyess..

Apalagi kalau sudah pernah menonton filmnya, nelangsa banget, makin nyess..

Berhubung sejak awal saya suka film-film dan lagu-lagu Jepang, keberadaan saya di Jepang benar-benar klop dengan yang saya tonton dan dengar.

Saya jadi ngerasa paham kenapa film-film Jepang, termasuk anime, kadang ceritanya sedih dan tak selalu happy ending.

Tak jarang ada adegan sunyi tanpa dialog, hanya suara serangga di luar rumah atau gagak.

Demikian pula dengan lagu-lagunya yang kadang bikin terharu.

Yaa karena di sana banyak tempat yang suasananya syahdu, sunyi, dan sepi. Lihat saja foto ini:

Nah, sekarang ini saya jadi berharap saat itu saya tidak terlalu sering mendengarkan musik.

Saya berharap saat itu mestinya saya juga mendengarkan suara alami Jepang yang syahdu, sunyi, dan sepi. Seperti suara jangkrik atau tonggeret di persawahan yang saya lewati.

Mestinya saya lebih mengapresiasi suasana malam berbintang seindah itu. Melihat langit dan memandang kesyahduan danau Kagamiyama Koen di tengah malam.

Saat mendengarkan musik, pikiran saya malah lebih tenggelam pada bayangan tentang pemandangan atau suasana di dalam lagu.

Kalau lagunya lagu galau saya jadi terbawa suasana kegalauan alih-alih memuji kebesaran Allah Subhanahu Wa Ta’ala dan menikmati tiap detiknya.

Kini saya bisa menikmati kesunyian. Banyak hal bisa dilakukan diiringi kesunyian. Bisa menikmati jogging tanpa mendengarkan musik. Bisa menikmati kesunyian dan suara alam apa adanya.

Saat menulis artikel ini pun saya duduk dan mengetik di tengah kesunyian.

Satu lagi, berhubung kesunyian itu jadi terasa nikmat, maka saya jadi lebih bisa menikmati lantunan Al-Qur’an. Karena bacaan Al-Qur’an terasa syahdu, tidak hingar-bingar.

Well, saya hanya memberi empat contoh perubahan saja dan tidak mengungkap terlalu detail dalam tulisan ini.

Mungkin perubahan yang saya alami dianggap spesifik untuk saya, tidak relevan untuk orang lain.

Mungkin ada pembaca review ini yang berpendapat, “Apanya yang berubah? Itu mah biasa aja kali!”

Saya jawab, sebenarnya masih ada contoh-contoh perubahan lainnya tetapi tidak bisa saya ungkap di sini karena satu dan lain hal (baca: privasi).

Selain itu, masalah yang dihadapi setiap orang memang berbeda-beda sehingga perubahan yang diharapkan juga bisa berbeda-beda.

Contoh simpelnya nih, ada orang yang kesulitan berhenti merokok.

Buat saya itu mengherankan, apa susahnya tidak merokok?

Apa susahnya berhenti merokok?

Tetapi bagi perokok berat itu bukan hal mudah semudah membalikkan telapak tangan, ya kan?

Sementara itu, pada diri saya yang dulu ada keinginan beres-beres atau berbenah yang berlebihan.

Buat orang lain mungkin itu hal yang enggak jelas, “Masalah apa sih, Bal, enggak jelas deh kamu!” tetapiii bagi saya itu masalah yang bertahun-tahun menghinggapi saya.

Oleh karena itu, saya berharap pembaca Fana.Blog membaca sendiri dan menerapkan isi buku The Life-Changing Magic of Tidying Up dan mendefinisikan sendiri perubahan masing-masing sesuai dengan masalah yang dimiliki masing-masing.

Dengan memberi contoh di atas saya bukan bermaksud mengatakan dengan membaca buku Marie Kondo orang bakal jadi berhenti mengoleksi action figure atau berhenti mendengarkan musik.

Bukan itu.

Contoh-contoh barusan hanya menunjukkan bahwa buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ternyata punya potensi memformat pikiran dan menata ulang kehidupan seseorang yang terlihat dari perubahan persepsi atau preferensi yang sebelumnya terlihat sudah mapan.

Perubahan dari beres-beres tersebut dapat diarahkan sesuai karakteristik dan kebutuhan masing-masing pembacanya.

Saya ini kan penggemar action figure, sejak kecil sudah suka, saat dewasa tertarik action figure karena punya nilai sentimental kenangan masa lalu, rasanya tidak mungkin kan saya jadi kehilangan minat pada action figure?

Eh, ternyata mungkin saja.

Tadinya senang banget mendengarkan musik dan merasa perlu mendengarkan musik agar bisa terinspirasi, bersemangat, dan produktif.

Tetapi kini? Saya bisa menikmati melakukan berbagai hal di tengah kesunyian.

Bukankah ini menjadi bukti sederhana kebiasaan, kegemaran, dan preferensi seseorang bisa berubah?

Tinggal diarahkan saja perubahan itu sesuai dengan yang diyakini lebih baik.

Misalnya, jika ada seorang perokok berat ingin berhenti merokok dia insya Allah akan bisa secara total berhenti merokok dengan melakukan apa yang diuraikan buku tersebut.

Selain menulis buku, Marie Kondo menyelenggarakan kursus beres-beres secara privat one on one.

Sekarang mari simak perubahan dialami para pembaca bukunya dan peserta kursus tersebut.

Testimoni di bawah ini dapat ditemukan di bagian “Pendahuluan”:

“Selepas mengikuti kursus Anda, saya berhenti bekerja dan memulai bisnis sendiri di bidang yang sudah saya cita-citakan sejak kecil.”

“Kursus Anda mengajarkan kepada saya untuk melihat apa saja yang sungguh saya butuhkan dan apa saja yang tidak saya perlukan. Jadi, saya lantas minta cerai. Sekarang saya merasa jauh lebih bahagia.”

“Seseorang yang ingin saya hubungi baru-baru ini mengontak saya.”

“Dengan gembira saya sampaikan bahwa sesudah membereskan apartemen, angka penjualan saya kian meningkat.”

“Saya dan suami kian rukun saja.”

“Mencengangkan bahwa membuang ini itu ternyata menimbulkan perubahan besar dalam diri saya.”

“Berat badan saya akhirnya turun lima kilogram.”

Menarik bukan? Perubahan yang beragam.

Dari sekadar beres-beres rumah ternyata punya dampak yang serius!

Oh iya, baru-baru ini saya menemukan buku bagus berjudul Gemar Rapi: Metode Berbenahnya Indonesia. Para penulisnya juga terinspirasi buku Marie Kondo. Silakan kunjungi review yang saya tulis, “Review Buku Gemar Rapi: Metode Berbenahnya Indonesia“.

Menurut saya buku Gemar Rapi merupakan buku yang layak dimiliki para minimalist enthusiast di Indonesia.


3. Tentang Marie Kondo Penulis Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

Sejak usia 5 tahun Marie Kondo mulai baca majalah interior dan gaya hidup.

Kegemaran itulah yang membuatnya terinspirasi, di usia 15 tahun dia mulai melakukan penelitian serius tentang beres-beres dan pada akhirnya mengembangkan metode KonMari yang berasal dari kombinasi nama depan dan belakangnya.

Sekarang Marie Kondo menjadi seorang konsultan dan menyediakan kursus beres-beres privat one on one (individual).

Dia menghabiskan sebagian besar waktunya mengunjungi rumah-rumah dan kantor-kantor kliennya, memberi saran kepada orang-orang yang merasa kesulitan beres-beres, yang melakukan beres-beres tetapi mengalami rebound, berantakan lagi berantakan lagi, maupun yang ingin melakukan beres-beres tetapi tidak tahu harus mulai dari mana.

Saat saya membaca bukunya di 2016 silam, antrian waiting list jasa konsultansinya sudah mencapai 3 bulan. Mungkin sekarang lebih dari itu.

Menurut websitenya (konmari.com/pages/about), dia pernah diwawancarai dan diulas dalam The New York Times, The Wall Street Journal, The London Times, Vogue, The Late Show With Stephen Colbert, The Ellen Show, serta lebih dari lima puluh program televisi dan radio utama di Jepang. Dia menjadi salah satu dari 100 orang paling berpengaruh tahun 2015 versi majalah Time.


4. Kesan Pertama pada Minimalism dan Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up

Bicara buku Marie Kondo tidak lepas dengan kata “minimalism“, karena buku ini menjadi favorit di kalangan peminat, pemerhati, atau penggiat minimalism di seluruh dunia.

Suatu ketika saya membaca artikel di internet tentang beberapa orang Jepang yang memilih gaya hidup minimalis. Apartemen mereka diisi barang-barang yang memang benar-benar diperlukan saja. Jumlah sendok, sikat gigi, piring, pakaian semuanya benar-benar pas jumlahnya.

Sebelumnya saya pernah dengar istilah “minimalis” untuk bangunan. Biasanya rumah minimalis adalah rumah yang bentuknya kotak-kotak. Saya tak punya background pendidikan arsitektur, jadi ya mohon maaf yang bisa saya bilang ya bangunan minimalis bangunan yang mengurangi kerumitan desain dan menyajikan kesederhanaan kotak.

Selain itu saya juga pernah sekilas dengar di Youtube, musik yang disebut sebagai musik minimalis oleh pemain musiknya.

Namun, minimalis yang dimaksud dalam artikel-artikel di internet yang menarik minat saya tersebut adalah minimalis gaya hidup.

Gaya hidup minimalis adalah gaya hidup yang mengutamakan hal yang penting dan menyingkirkan hal yang menjauhkan diri dari hal yang penting tersebut.

Saya jadi penasaran dengan gaya hidup minimalism. Kemudian iseng mengetik kata kunci ‘minimalism’ di Google Play Book dan menemukan buku berjudul The Life-Changing Magic of Tidying Up karangan Marie Kondo. Lalu saya membaca review yang ditulis para pembacanya dan itu bikin saya tertarik.

Harga buku versi bahasa Inggrisnya di Google Play Book sekitar Rp. 180.000,-. Saya tergerak membelinya. Ternyata pembelian itu menjadi keputusan penting. Saya merasa beruntung menemukan dan membeli buku itu meski ternyata setelah itu ada buku terjemahan bahasa Indonesia yang harganya jauh lebih murah.

Saat menemukannya pertama kali saya bertanya-tanya, buku tentang membereskan rumah, apa saya memerlukannya? Tetapi setelah membacanya pertanyaan tersebut terjawab: perlu!

Selama ini sebagaimana diungkap sebelumnya, sepertinya saya ada sedikit OCD, terobsesi beres-beres dan itu sungguh melelahkan karena dalam waktu singkat hasil beres-beres menjadi berantakan lagi.

Dan memang diungkap di dalam buku tersebut, ternyata beres-beres itu ada ilmunya. Salah beres-beres akan berakibat berantakan lagi berantakan lagi.

Semakin membaca semakin introspeksi jika rumah berantakan kadang-kadang mencari-cari alasan penyebabnya yang bisa jadi benar adanya tetapi bisa juga hanya pembenaran.

Tidak jarang yang dijadikan alasan adalah keberadaan anak-anak dan segala aktivitasnya di rumah, padahal belum tentu.

Membaca buku tersebut seakan mendengar sendiri Marie Kondo bercerita. Kadang saya dibuat tersenyum-senyum saat dia berkisah menemukan gunungan barang-barang tidak terpakai di rumah kliennya.

Dari keseluruhan buku tersebut, saya memperoleh kesan Marie Kondo seorang yang rendah hati, bersahaja, dan punya misi membebaskan kliennya dari “clutter“, berantakan.


5. Cara Beres-Beres Metode KonMari: “Does This Spark Joy?

Marie Kondo menamakan metode beres-beresnya dengan sebutan KonMari, berasal dari kombinasi nama depan dan belakang dirinya.

Dalam mengulas cara beres-beres tersebut, Marie Kondo memulai dengan mengajak pembacanya memahami prinsip dasar KonMari. Ini hal yang perlu dipahami benar-benar.

Jika tidak berangkat dari prinsip dasar KonMari dan langsung beranjak ke cara melipat baju misalnya dengan menonton tutorialnya di Youtube, menurut saya dalam waktu singkat akan mudah melupakan KonMari.

Mungkin akan lelah dan bosan.

Mungkin juga akan dengan mudahnya bilang, “Ah, tak mungkin bisa melakukan semua itu kalau punya anak-anak yang lagi aktif-aktifnya!”

Perubahan tidak akan terjadi pada seseorang hanya dengan melipat baju. Seseorang akan berubah ketika dia sudah tahu mengapa dia melipat baju dan mengapa baju itu dia miliki.

Setelah membahas prinsip dasar KonMari, Marie Kondo mengajarkan teknik beres-beres barang-barang spesifik mulai dari pakaian, buku, kertas, pernak-pernik, barang bernilai sentimental, hingga foto.

Secara garis besar metode KonMari dapat diringkas sebagai berikut:

Pilih hanya apa yang akan disimpan, buang sisanya.

Terdengar simpel, tetapi sebenarnya lebih dari simpel, ini menggugah kesadaran. Perubahan hidup pembaca buku Marie Kondo bermula dari kalimat ini.

Urutan beres-beresnya tidak boleh terbalik: mulailah dengan membuang, kemudian rapikan ruangan secara menyeluruh, sekaligus, dalam satu waktu. Ringkasnya begini:

(1) Beres-beres mesti dilakukan sekaligus, siapkan waktu khusus beres-beres secara marathon, jangan mencicil waktu beres-beres. Karena ini akan berpengaruh pada mental, efek perubahannya akan terasa jika dilakukan dalam satu hari.

(2) Beres-beres dilakukan berdasarkan kategori bukan lokasi. Jadi jangan membereskan kamar 1, lalu kamar 2, melainkan bereskan semua pakaian di rumah, kemudian bereskan semua buku, kemudian bereskan kertas, dan seterusnya.

(3) Letakkan barang-barang di lantai sesuai kategori misalnya baju satukan dengan baju saja jangan diletakkan bersama buku.

Ambil barang yang sudah diletakkan di lantai satu persatu dengan tangan, tanya pada diri sendiri dan jawablah dengan jujur “does it spark joy?” (“apa benda ini membangkitkan kegembiraan pada diri saya?”). Apa saya suka barang itu? Lalu apa barang itu diperlukan saat ini maupun yang akan datang (tetapi hanya yang pasti akan diperlukan, misalnya jika tidak ada rencana menjual handphone yang saat ini dimiliki maka buang saja kardusnya).

Spark joy, masing-masing orang yang merasakannya. Apa yang dianggap spark joy oleh seseorang belum tentu dianggap spark joy oleh orang lain.

Marie Kondo mencontohkan selembar kaos berkarakter lucu yang dia beli di tahun 2005 dan disimpan hingga sekarang.

Sebenarnya dia tidak ingin ada orang yang melihatnya memakai kaos tersebut, tetapi dia tetap menyimpannya karena baginya kaos itu spark joy. Karena kaos itu memberi kegembiraan kepadanya.

Yang harus dilakukan hanyalah mempertahankan apa yang spark joy dan membuang yang tidak.

(4) Pastikan tidak ada orang lain melihat saat sedang beres-beres.

(5) Jika tidak butuh suatu barang jangan berikan begitu saja ke orang lain hanya demi buru-buru menyingkirkan barang tersebut, kecuali jika orang lain tersebut benar-benar membutuhkannya. Marie Kondo menjelaskan alasannya di dalam buku.


6. Mengubah Hidup dengan Beres-Beres: Bagaimana Caranya?

Testimoni di bagian ‘Pendahuluan’ buku The Life-Changing Magic of Tidying Up bikin penasaran, bukan?

Bagaimana bisa buku tentang beres-beres mempengaruhi para pembacanya berubah dan mengambil keputusan-keputusan besar dalam hidup? Keputusan besar seperti mengundurkan diri (resign) dari pekerjaan yang hanya menjadi beban, memulai bisnis, memutus hubungan yang hanya bikin penyakit batin, dan banyak lagi.

Ini dia jawabannya, sebagaimana diungkap Marie Kondo:

“Dengan menata ulang rumah kita secara menyeluruh, gaya hidup dan perspektif kita akan ikut berubah drastis. Kehidupan kita niscaya mengalami transformasi besar-besaran.”

“Dengan membereskan rumah, kita sekaligus membereskan urusan dan masa lalu kita.”

Menarik sekali.

Saya mencoba mengurai beberapa alasan kenapa beres-beres ala KonMari bisa mengubah hidup seseorang, ternyata bisa dijelaskan melalui jalur-jalur berikut:

(1) Menjadi Lebih Fokus pada yang Penting

Dengan beres-beres, seseorang akan menemukan apa yang benar-benar penting.

Hal ini karena metode KonMari mengevaluasi satu persatu apa yang dimiliki apakah tetap menyimpannya memberi kegembiraan. Serta mengajak bertanya “why?” pada diri sendiri tentang alasan memiliki atau melakukan sesuatu. Kenapa memiliki benda ini? kemudian menjawab, “karena begini”. Lalu bertanya lagi, “kenapa perlu begini?” lalu menjawab, “karena begitu”. Lalu tanya lagi, “kenapa begitu?” dan seterusnya.

Sampai pada akhirnya menemukan apakah yang dimiliki dan dilakukan selama ini benar-benar memberi kebahagiaan.

Dengan demikian, bisa mendorong lebih fokus pada apa yang benar-benar penting.

Yang dimaksud dengan hal penting tersebut bukan hanya berupa barang atau benda tetapi juga momen, aktivitas, dan orang, misalnya main bersama anak, ngobrol dengan istri, ngopi-ngopi bersama sahabat, atau menghafal Al-Qur’an.

Sedangkan hal-hal yang jika dilakukan bisa menjauhkan diri dari hal yang penting misalnya debat panas di media sosial yang mungkin terasa mengasyikan bagi seseorang tetapi tanpa sadar telah mengonsumsi waktunya yang semestinya digunakan untuk hal lain, misalnya saat makan bareng keluarga eh ternyata malah asyik buka hape buat debat medsos. Diri saya berada di hadapan anak saya, tetapi pikiran lagi melayang ke medan tempur perdebatan, memikirkan mau balas komen apa.

(2) Memulai Hidup yang Baru

Dengan beres-beres ala metode KonMari, masa lalu maupun masa kini yang buruk akan ‘terbuang’ bersama dibuangnya barang-barang terkait kesuraman tersebut.

Dengan demikian hati akan menjadi lebih lega dan bisa memulai hidup baru semangat baru.

Bisa melihat pintu-pintu baru yang terbuka dan melakukan hal baru, bertemu orang baru, atau bergabung komunitas yang bermanfaat misalnya.

(3) Membuka Pikiran “Bisa kok Meninggalkannya”

Dengan membuang apa yang tadinya dikira tidak akan sanggup berpisah darinya pikiran akan menjadi terbuka ternyata bisa kok membuangnya. Bisa kok ternyata berpisah dengannya!

Ternyata banyak sekali hal yang sebenarnya bisa ditinggalkan tanpa merugikan sama sekali.

Sehingga ini akan memberi keyakinan pada diri sanggup berubah dengan meninggalkan yang harus ditinggalkan.

Misalnya, keyakinan seorang perokok berat yang kepikiran ingin berhenti merokok akan bisa berhenti total meski awalnya merasa ragu apa iya bakal bisa berhenti.

Menyingkirkan benda-benda yang tidak menimbulkan ‘joy’ serta dianggap sudah tidak diperlukan lagi dapat menjadi latihan agar bisa menyingkirkan benda-benda serta apa-apa yang jelas-jelas merugikan diri.

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda: “Sesungguhnya jika engkau meninggalkan sesuatu karena Allah, niscaya Allah akan memberi ganti padamu dengan yang lebih baik.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad).


7. Dua Catatan Penting: (1) Pahami Prinsip KonMari sebelum Mulai Beres-Beres (2) Bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala

The Life-Changing Magic of Tidying Up adalah buku yang saya rekomendasikan untuk dimiliki dan dibaca orang-orang.

Sampai-sampai saya bikin review sepanjang lebih dari 8.000 kata ini.

Meski demikian saya perlu menyampaikan dua catatan penting.

(1) Menurut saya pembaca buku ini tidak perlu benar-benar menerapkan seluruh teknik yang diajarkan, misalnya tentang cara melipat kaos kaki. Tidak perlu sedetail itu. Juga tidak harus menonton videonya di Youtube.

Tetapi prinsip KonMari mesti dipahami dan lakukan dengan benar karena perubahan hidup pembaca buku Marie Kondo bermula dari situ.

Sebaliknya, jika hanya membaca teknik-teknik merapikan benda-benda spesifik tanpa memahami prinsip KonMari maka bisa jadi akan berhenti di tengah jalan baik karena lelah maupun bosan.

(2) Tidak semua hal dalam buku ini saya sepakati, misalnya tentang menyapa atau membungkuk kepada rumah.

Hal itu mungkin lazim atau biasa di tempat penulis buku tersebut tinggal yaitu Jepang.

Namun demikian, sebagai seorang muslim saya akan memilih mengucap basmalah serta berlindung kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala jika akan memasuki rumah.

Saya juga tidak mengucapkan terima kasih kepada benda-benda yang telah menunaikan tugasnya, melainkan akan bersyukur kepada Allah Subhanahu Wa Ta’ala yang telah memberi benda-benda tersebut kepada saya.


8. Kesimpulan: Beli atau Pinjam?

Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: The Japanese Art of Decluttering and Organizing yang diterbitkan dalam bahasa Indonesia dengan judul The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang adalah buku tentang seni beres-beres atau merapikan.

Saat awal mengetahui buku ini tentang beres-beres mungkin orang akan penasaran beres-beres seperti apa yang diungkap dalam buku tersebut. Mungkin juga akan bertanya apakah perlu adanya buku cara beres-beres.

Namun, seiring membaca halaman demi halaman serta menerapkan isinya akan dijumpai buku ini ternyata bukan bicara sekadar beres-beres rumah saja melainkan juga merapikan hidup, mengembalikan kontrol diri, membebaskan diri dari yang tidak membawa kegembiraan, dan menjadikan diri dikelilingi hanya yang menimbulkan kegembiraan.

Sebagai penutup, agar senantiasa bersemangat beres-beres dan membuang apa yang tidak bermanfaat mari simak hadits berikut:

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

Selanjutnya bagaimana rekomendasi saya terhadap buku ini, beli atau pinjam saja?

Saya jelas akan merekomendasikan: beli.

Di toko buku harga buku ini yang versi terjemahan bahasa Indonesianya tidak sampai 100 ribu rupiah. Jika memungkinkan, beli saja.


9. Di Mana Download Pdf File Buku Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up?

Saya senang jika ada orang yang penasaran dengan buku ini, apalagi jika penasaran itu muncul setelah membaca review yang saya tulis selama berhari-hari ini.

Seorang yang punya misi kebaikan tentu senang jika misi tersebut tersampaikan.

Rasa ingin baca buku tersebut adalah langkah awal journey untuk merasakan sensasi hal baru yang mungkin belum pernah dialami sebelumnya.

Saya senang jika saya menjadi bagian dari perubahan itu, akan tetapi..

Tulisan review atau resensi ini tidak menyediakan link untuk download pdf file buku Marie Kondo The Life-Changing Magic of Tidying Up, karena saya ingin menghargai jerih payah penulisnya.

Tidak mudah menuangkan ide ke dalam tulisan, apalagi menjadi buku best seller dunia.

Bagimana jika tak punya uang?

Coba cek lagi apa ada belanja lain yang bisa dikurangi demi membeli buku ini.

Lagi pula, jika merasa belum punya uang untuk membeli buku ini maka siapa tahu justru dengan membaca buku ini pengeluaran bisa menjadi lebih efisien. Setidaknya itulah yang saya rasakan.

Demikian review ini saya buat. Saya tak terafiliasi dengan Marie Kondo, metode KonMari, buku-bukunya, penerbit, atau toko buku.

Saya menulis review ini karena ini bagian dari misi saya.

This is my mission.


10. Update: Jawaban Sebuah Pertanyaan di Review Ini

Tadinya review ini sudah berakhir di bagian 9 barusan.

Tetapi kini saya tambah satu bagian lagi yang semula menjadi tulisan sendiri berjudul “Alasan Minimalism“, namun sekarang saya gabung ke tulisan ini.

Kalau diperhatikan di bagian komentar tulisan ini, akan dijumpai seseorang yang mendeskripsikan diri sebagai:

Seseorang yang mendapat nilai C di matkul Perekonomian Indonesia karena lebih suka liat2an sama anak IE daripada liatin penjelasan Ibu Sri Mulyani di depan ruang auditorium

menanyakan pertanyaan sangat bagus:

Satu pertanyaan besar, apakah perubahan besar dalam hidup elo, misalkan tidak membeli action figure dan tidak mendengarkan musik, adalah efek dari mengaplikasikan buku Marie Kondo? Atau efek dari memiliki tanggungan lain dalam hidup elo (yang sekarang ada dua dan mungkin akan bertambah di masa depan)?

Pertanyaan sangat bagus bukan? Sampai-sampai saya merasa perlu menuliskan kembali dalam bentuk tulisan baru berjudul “Alasan Minimalism” yang kemudian saya gabung ke review ini menjadi bagian 10.

Sebelum menjawab pertanyaan itu saya perlu menyampaikan 3 hal berikut:

Pertama, inti buku Marie Kondo adalah minimalism yaitu gaya hidup mengutamakan yang penting buat diri dan menyingkirkan yang mendistraksi/mengalihkan perhatian dari yang penting tersebut. Sedangkan kulitnya “beres-beres rumah”.

Ini perlu dipahami karena buku The Life-Changing Magic of Tidying Up bisa dilihat dari dua sisi: (1) buku tentang teknik beres-beres rumah, (2) minimalism.

Terus terang saya tidak mengikuti seluruh cara beres-beres dianjurkan di dalam buku tersebut. Malah saya rasa tanpa membaca keseluruhan isi buku tersebut para pembacanya bisa mulai melakukan perubahan.

Saya lebih melihat buku ini sebagai buku yang mengenalkan pembacanya pada minimalism.

Kedua, minimalism itu fitrah manusia. Ini juga perlu dipahami sebab bagi orang yang pertama kali mengenal istilah ini mungkin akan merasa topik tersebut ekstrem dan sulit dilakukan.

Padahal saat lahir manusia tidak membawa apa-apa ke dunia ini. Saat mati juga tidak membawa apa-apa dari dunia ini.

Meski minimalism belakangan ini terkesan dianggap bagian dari kultur Jepang, dalam Islam sebenarnya minimalism dalam arti mengutamakan yang penting dan meninggalkan yang tidak penting tidak terdengar asing.

Bukankah seorang muslim diajarkan mengutamakan urusan penting yaitu perintah dan larangan Allah Subhanahu Wa Ta’ala, dan meninggalkan apa yang melalaikan dari yang penting tersebut?

Rasulullah Shallallahu ‘Alaihi Wa Sallam bersabda, “Di antara (tanda) kebaikan Islam seseorang adalah meninggalkan perkara yang tidak bermanfaat baginya.” (Hadits yang diriwayatkan oleh Imam At-Tirmidzi).

Karena minimalism adalah fitrah, tidak sedikit orang tidak merasa kesulitan dan malah surprisingly merasa nyaman dengan minimalism.

Ternyata orang bisa hidup nyaman tanpa hal-hal yang selama ini dikira tidak akan bisa hidup nyaman tanpanya.

Ketiga, buku Marie Kondo hanya salah satu, bukan satu-satunya sarana yang bisa men-trigger atau mendorong orang meninjau kembali apa yang penting dan apa yang menjauhkan dari hal penting itu.

Adapun untuk case saya, significantly dipengaruhi buku tersebut.

Malah ada beberapa orang Indonesia membangun gerakan dan metode Gemar Rapi setelah terinspirasi metode KonMari-nya Marie Kondo. Mereka kemudian berinisiatif merancang metode berbenah yang lebih pas untuk orang Indonesia.

Baiklah, saya akan menjawab pertanyaan tadi dengan membaginya menjadi 2 bagian.

Pertama, tentang apakah berkurangnya keinginan membeli action figure disebabkan pengaruh membaca buku The Life-Changing Magic of Tidying Up ataukah karena saat ini telah memiliki tanggungan (saat membuat tulisan ini saya sudah menikah dan punya anak yang masih bayi).

Kedua, apa yang melatarbelakangi saya sekarang jarang mendengarkan musik jika dibandingkan di masa lalu. Bagaimana buku Marie Kondo berpengaruh di sisi ini?

Untuk menjawab pertanyaan pertama, saya akan mengajukan sebuah pertanyaan:

(1) Kalau Punya Uang 1 Miliar Apa Saya akan Membelinya?

Ide pertanyaan itu begini: kalau saya punya uang banyak tetapi saya tidak membeli suatu barang yang terjangkau dengan uang banyak tersebut, sebut saja “X”, maka saya memang tidak berminat pada barang X, karena meski uang tidak menjadi kendala saya tetapi tidak membelinya.

Contoh:

Ada 1 smartphone impian saya: Google Pixel.

Ini penampakannya:

Source & Copyright: Kazuhisa Otsubo (flickr.com/photos/cytech/) This file is licensed under the Creative Commons Attribution 2.0 Generic license.

Saya suka Google as a company maupun produk-produknya.

Di antara produk Google ‘yang sempurna’ di dunia misalnya Gmail, Youtube, Blogger, dan Google Maps.

Google punya data center yang dirancang sendiri hardware servernya.

Jadi saya penasaran dengan smartphone Google Pixel yang untuk pertama kali Google rancang sendiri hardwarenya, tadinya kan mereka hanya pasang label Nexus saja di smartphone bikinan pihak ketiga.

Tetapi… harganya mahal 20 jutaan. Saya tidak beli karena tidak punya uang untuk itu.

Kalau punya uang 1 milyar pastinya akan beli Google Pixel. Toh, saya insya Allah akan pakai hape tersebut untuk hal yang produktif, seperti menulis blog.

Ehem.. saat menulis review ini hape saya baru saja rusak kerendam banjir, padahal itu hape andalan saya buat mengambil foto untuk blog. Sedangkan hape penggantinya kameranya kurang memuaskan. 🙁

Kalau memang suka pada Google Pixel dan yakin itu akan bermanfaat buat saya kenapa saya tidak beli?

Karena.. saat ini saya enggak punya uang sebesar itu.

Nah, sekarang bagaimana dengan action figure?

Kalaupun punya uang 1 miliar belum tentu saya beli.

Kenapa?

Karena sudah tidak berminat seperti dulu lagi.

Lain halnya kalau saya punya alasan yang kuat buat membelinya.

Di antara alasan itu misalnya jika action figure itu robot Godaikin Goggle V keluaran tahun 1983 legendaris, for the sake of nostalgia, bukan buy for the sake of buy.

Terlihat, kan.. perbedaan antara tidak membeli sesuatu karena tidak punya uang untuk membelinya, dengan tidak membeli sesuatu karena memang simply tidak ingin membelinya?

Buku Marie Kondo berperan mengajarkan pembacanya buat bertanya kepada diri sendiri kenapa membeli benda-benda itu? Terus-menerus bertanya sampai pada pertanyaan final: apa yakin dengan memiliki benda-benda itu akan dapat joy.

Konsep metode KonMari yang dibangun oleh Marie Kondo mensyaratkan suatu barang memancarkan kebahagiaan (dia menyebutnya spark joy) untuk dapat dipertahankan.

Hidup akan jauh lebih baik ketika dikelilingi hanya barang-barang yang menimbulkan joy.

Dan ngomong-ngomong tentang joy..

(2) Dekat dengan Al-Qur’an Adalah “Joy

Selanjutnya, saya akan mengungkap hal yang melatarbelakangi saya sekarang jarang mendengarkan musik jika dibandingkan di masa lalu.

Bagaimana buku Marie Kondo berpengaruh dalam hal ini?

Pertama, mulai dari beres-beres rumah dan di situ saya menyingkirkan koleksi kaset dan CD karena lagu-lagunya sudah ada mp3-nya semua.

Buku Marie Kondo “menantang” pembacanya membuang benda yang tidak menimbulkan joy.

Meski keliatannya berat tetapi saya tetap coba lakukan dan surprisingly hati malah jadi plong.

Kedua, dari mp3 yang ada saya mulai menyortir lagi karena technically ternyata tidak akan mungkin mendengar semua lagu itu.

Yang pasti saya membuang dari playlist lagu-lagu yang liriknya buruk meski aransemen musiknya bagus.

Ternyata hanya ada 10 lagu favorit saja benar-benar saya nikmati. Maka saya delete sisanya karena toh nanti kalau ingin dengar lagi bisa cari di Youtube.

Kesepuluh lagu tersisa tersebut lagu yang benar-benar biasa didengar berulang kali: aransemen musiknya keren, pembagian harmoni suaranya mantap, dan liriknya sangat mengena.

Ketiga, mempertanyakan apa benar saya merasa nyaman dengan lagu-lagu itu.

Ternyata saya dapati keasyikan mendengarkan musik ada trade-off-nya dengan keasyikan mendengarkan Al Qur’an.

Yang saya rasakan sendiri mendengar lantunan Al Qur’an terasa monoton ketika kuping saya terlalu terbiasa mendengar musik kaya warna.

Padahal, saya ingin lebih dekat dengan Al-Qur’an sebab kedekatan itu memberi joy jauh lebih besar daripada joy diperoleh dari mendengarkan musik.

Selain itu, jika diperhatikan ketika hati lagi galau rasanya akan semakin syahdu jika mendengarkan lagu-lagu galau, terasa perih tetapi nikmat.

Ada sensasi tersendiri. Tetapi jujur saja, rasa galau itu malah jadi semakin meningkat.

Seorang sahabat yang lagi ditimpa masalah berat pernah mengatakan hal yang sama, saat merasa galau adakalanya dia terdorong mendengarkan musik-musik galau seakan lagu tersebut menjadi theme song kehidupan dirinya dan saat itu lirik lagu tersebut semakin mengena.

Namun lanjutnya, jika bicara kebermanfaatan secara riil, secara nyata, yang terjadi malah lagu-lagu tersebut bukannya menghilangkan kegalauan hatinya malah memperparahnya.

Keempat, secara eksplisit Marie Kondo bilang di bukunya tidak merekomendasikan beres-beres sambil dengar musik karena akan mengganggu konsentrasi dan proses berpikir menentukan mana yang joy mana yang tidak.

Saya mencoba menerapkan hal tersebut saat beres-beres yaitu beres-beres tanpa mendengarkan musik, tidak seperti sebelum-sebelumnya.

Hasilnya, saya merasakan sendiri ada perbedaannya, jadi lebih bisa berpikir barang mana yang akan dipertahankan, mana yang akan dibuang.

Hal yang sama juga dirasakan saat mengerjakan pekerjaan yang memerlukan berpikir, misalnya membuat tulisan, yaitu jika mengerjakannya tanpa mendengarkan musik jadi lebih bisa berpikir, konsentrasi, dan fokus.

Semoga pengungkapan rahasia ini bisa menjadi jawaban yang jelas bahwa buku ini memang punya pengaruh signifikan pada diri saya.

Itulah sebabnya saya membajak meja informasi 😀

Iqbal – Fana.Blog


Subscribe

Join 54 other subscribers

By Iqbal

Selain menulis di Fana.Blog, juga seorang suami, ayah, pembelajar, senang berenang, membaca, jogging, penikmat kopi, tertarik dengan minimalism.

7 replies on “Review Buku The Life-Changing Magic of Tidying Up: Seni Beres-Beres dan Metode Merapikan ala Jepang (Marie Kondo)”

Terimakasih pak iqbal atas sharingnya. sy menemukan tulisan bapak bermula di intranet. Nampaknya buku tersebut mesti jadi peganagn saya salah satunya. kebetulan saya LDR dg keluarga, karena tinggal sendirian di rumah, dalam sebulan atau 2 bulan baru jumpa istri lagi akhirnya rumah tidak selalu rapi meski tetap bersih. Bahkan boleh dibilang, saat rumah saya rapi itu artinya istri saya datang :). terimakasih seklai lagi.

Sangat Inspiratif… Klu dalam bahasa jawa saya masih memiliki budaya “eman-eman” atau sayang untuk membuang barang atau sesuatu karena masih berpikir suatu saat pasti akan dipakai barang tersebut, walaupun pada kenyataanya tidak pernah kepakai. Butuh latihan untuk menerapkan teknik ini.

Review-nya cukup komprehensif Bung Iqbal, super cool!

Setelah membaca review buku ini jadi sungguh penasaran sangat, karena saya termasuk orang yg agak sayang sayang klo ingin membuang suatu barang. Selalu dengan dalih, “siapa tau besok-besok ini barang masih terpakai”, walhasil barang banyak yg menumpuk tanpa pernah tau terpakainya kapan.

Saya tertarik dan cukup penasaran pada poin, jika kita tidak butuh suatu barang, jangan berikan begitu saja ke orang lain hanya demi sesegera mungkin menyingkirkan barang tersebut, kecuali jika orang lain tersebut memang benar-benar membutuhkannya. Karena pengalaman saya, setiap saat saya merapikan lemari yg penuh pakaian, dan memilah-milih pakaian mana yg sudah tidak terpakai, maka pakaian tidak terpakai tersebut saya langsung berikan pada orang yg saya anggap kira-kira membutuhkan. Ternyata hal ini tidak tepat ya Bung Iqbal?

Satu pertanyaan besar, apakah perubahan besar dalam hidup elo, misalkan tidak membeli action figure dan tidak mendengarkan musik, adalah efek dari mengaplikasikan buku Marie Kondo? Atau efek dari memiliki tanggungan lain dalam hidup elo (yang sekarang ada dua dan mungkin akan bertambah di masa depan)?

==Seseorang yang mendapat nilai C di matkul Perekonomian Indonesia karena lebih suka liat2an sama anak IE daripada liatin penjelasan Ibu Sri Mulyani di depan ruang auditorium==

Namanya kapan-kapan itu tidak pernah datang. sering kali demikian. Terima kasih mas iqbal review-nya. Saya baru sempat baca saat ini, kemarin2 belum tertarik, entah karena apa. Saya termasuk yg suka beres2 dan bongkar2 barang dan dokumen. Benar jg suka nahan2 klo mau buang, kepikiran nanti butuh lagi.

Betul mas Moko. Sebelum baca dan nerapin buku ini saya sudah telanjur beli banyak buku. Yang baru kebaca baru sedikit. Itu pun terasa lebih nikmat baca buku yg sedikit itu berulang2. Yang saya suka baca berulang2 misalnya buku ‘Fikih Istighfar’, buku tipis yang juga punya impact besar buat saya.

Leave a Reply